Jumat, 14 Desember 2012

AGAMA DAN KETAHANAN NASIONAL

Kemorosotan hidup bangsa Indonesia harus dilihat sebagai peringatan bagi setiap individu, baik kaum muda maupun mereka yang lanjut usia, secara khusus mereka yang ingin terlibat dan telah terlibat dalam tatanan pemerintahan. Keadaan Indonesia saat ini, mendorong setiap individu untuk tidak tinggal diam dan menerima segala yang terjadi dalam negara ini. Indonesia perlu direfleksikan secara mendalam, agar tanda-tanda kehancuran dapat diatasi dengan baik. Perubahan zaman yang semakin pesat menjadi tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang dianut selama ini seperti tidak mempunyai pengaruh yang besar lagi bagi bangsa ini. Individu-individu ingin mencari jati dirinya sendiri terlepas dari kesatuan Negara Republik Indonesia. Maka tidak mengherankan apabila banyak daerah yang ingin melepaskan diri dari kesatuan bangsa Indonesia. Kalau demikian halnya, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang apabila keadaan bangsa Indonesia begitu kacau di masa sekarang ini? Masihkah negara ini dapat mempertahankan kesatuannya? Begitu banyak pertanyaan yang muncul melihat semua yang terjadi di Indonesia. Lalu apa yang harus dilakukan? Mengembalikan semangat dan cinta terhadap bangsa dan tanah air. Penulis meninjau ketahanan nasional dari sudut  agama.

 
Multikultural Agama dan ketahanan nasional
Multikultural agama Indonesia menimbulkan berbagai pertanyaan. Dapatkah agama menjadi sumber ketahanan nasional? Apa peran agama di Indonesia? Bagaimana hubungan agama yang satu dengan agama yang lain? Demikianlah satu dua pertanyaan yang dapat membantu menjelaskan seberapa besar peran agama-agama di Indonesia dalam menggalang ketahanan nasional. Keberagaman agama menjadi suatu keindahan tersendiri, namun dilain pihak agama juga dapat menjadi sumber konflik dalam sebuah negara. “konflik antar agama dan negara biasanya muncul karena agama tidak mengakomodasi ajaran agama, sementara di sisi lain agama ingin menjadikan sebuah negara sebagai negara agama yang sesuai dengan agama tertentu saja, lalu mengabaikan agama-agama yang lain."[1] Kepentingan agama tertentu telah mengancam ketahanan nasional, bukan hanya itu melainkan semakin memperlemah bangsa Indonesia dalam menjalin persatuan dan kesatuan. Agama yang satu tentu memiliki nilai-nilai yang ingin diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, timbullah persoalan besar ketika agama yang satu tidak mengakui agama yang lain, ketika persoalan semakin memuncak maka sering terjadi peperangan yang hebat. Agama-agama dijadikan sebagai sarana untuk menjatuhkan orang lain. Dalam situasi demikian persatuan dan ketahanan nasional menjadi sulit diwujudkan dalam negara Indonesia.  Agama seolah-olah tidak memainkan perannya dengan baik dalam negara sendiri, hal ini menghambat terjalinnya kerjasama dengan agama lain, dengan demikian terhambat pula semangat untuk menyatukan keanekaragamaan dan pluralitas Indonesia.

Agama dalam Pancasila
Sila pertama yang terdapat dalam pancasila yaitu ketuhanan yang Maha Esa menjadi faktor yang amat penting dalam menilai dan memandang keberagaman agama di Indonesia. Sila itu menjiwa Indonesia dalam perjalanan kehidupannya sebagai warga yang ingin bersatu padu. Sila petama itu diakui dan dihormati dan ingin diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia yang berlandaskan ketuhanan  yang Maha Esa sudah ada sebelum merdeka.[2] Apabila kembali ke dasar bangsa Indonesia yaitu pancasila, maka keberagaman agama itu bukanlah hal yang dapat menjadi sumber masalah, melainkan sebagai sarana masing-masing  pemeluk agama untuk mewujudkan ketahanan nasional yaitu dengan memerhatikan kekayaan yang dimiliki dan menjadikannya bahan untuk melengkapi agama lain dengan maksud mempertahankan keberagaman dan meningkatkan kekuatan yang terdapat dalam keberagaman itu.


Agama penumbuh Cinta Terhadap Tanah Air
Seluruh warga negara Indonesia tentu mempunyai alasan yang memadai terhadap keputusannya untuk memilih agama tertentu. Mausia akan mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang diperbuat dan dilakukan terhadap negara di akhirat, inilah suatu prinsip yang mendasari manusia melibatkan Tuhan dalam kehidupan bernegara. Manusia hidup dalam negara bukan saja dari sisi kemanusiaan itu sendiri tetapi campur tangan Tuhan menjadi sisi yang harus diperitungkan.[3] Ketuhanan yang dipegang kuat bangsa Indonesia hendaknya juga berakar kuat dalam hati mereka. Negara ini disatukan atas dasar kebaikan Tuhan terhadap setiap individu. Kesadaran baru ini akan menimbulkan sikap yang baru pula terhadap individu yaitu menjadikan individu  memiliki cinta tanah air yang kuat, sehingga dengan demikian diminta suatu usaha dan tindakan nyata dalam mencintai tanah air dan negara melalui tatanan negara yang telah diatur bersama. Tantanan negara itu telah dirumuskan dengan begitu formal oleh pemerintah negara. Memang tugas mereka adalah memikirkan hal-hal yang dapat merangsang hati setiap warga negara Indonesia untuk pertama memiliki cinta yang mendalam terhadap tanah air. Tanpa cinta ini yang timbul adalah keributan dan kekacauan.
Pemerintah membuat peraturan-peraturan yang ditujukan demi kesejahteraan warga negara Indonesia. Peraturan itu dirumuskan bukan secara kebetulan melainkan melalui usaha keras dari pihak pemerintah. Konsekuensinya adalah seluruh masyarakat Indonesia mendukung terwujudnya tata terbib dalam kehidupan sehari-hari. Kesejahteraan dan kesatuan dalam masyrakat akan terwujud apabila dilandasi dengan penghayatan agama yang mendalam dan serius, dalam arti bahwa agama menjadi salah satu bagian yang sangat penting dan mendasari dalam hubungannya dengan kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Agama bukanlah segalanya, ia hanyalah salah satu fungsi dalam hidup berbangsa dan bernegara, yang mau ditekankan di sini adalah bahwa agama menjadi roh penggerak demi berlangsungnya kehidupan negara menuju arah yang lebih baik. Bangsa Indonesia berkeyakinan bahwa hidup yang dilandasi dengan pengahayatan agama yang kuat dan cinta yang mendalam terhadap Tuhan yang diimani akan membawa kerukunan satu sama lain. Menjadi hal yang sangat aneh ketika orang beragama menciptakan perpecahan dan pertikaian dalam negara, merencanakan berbagai macam kejahatan dan mangabaikan orang lain karena fanatic keagamaan. Agama-agama yang telah diakui di Indonesia membawa inti perwartaan masing-masing. Inti perwartaannya adalah membawa keselamatan kepada hidupnya selain itu agama juga dapat memberikan kesejahteraan dan menjadi berkat bagi kehidupan masyarakat dewasa ini.[4]


Agama Sebagai Sumber Ketahanan Nasional
Emile Durkheim sebagai seorang sosiolog klasik memberikan definisi yang menarik tentang peranan agama.
“Agama didefinisikan dalam pengertian peranannya dalam masyrakat, yaitu dalam ia (agama itu) menyumbangkan kepada masyarakat apa yang disebut the Matrix of Meaning. Dengan demikian, agama merupakan suatu sistem interpretasi terhadap dunia yang mengartikulasikan pemahaman diri dan tempat serta tugas masyarakat itu dalam alam semesta.”[5]
Durkheim menegaskan bahwa agama itu memberikan  pemahaman terhadap masyarakat dalam kaitannya dengan dunia disekitarnya. Dalam masyarakat bisa terjadi perubahan tetapi agama tetap menjadi bagian yang tidak bisa disinggkirkan dalam kehidupan bermasyrakat. Agama memiliki peranan yang begitu sentral dan penting dalam masyarakat. Tetapi perlu dihindari dominasi agama di sini. Agama bisa memiliki banyak tafsiran, dan tafsiran itu  bisa memengaruhi masyarakat luas. Agama yang ditawarkan dalam suatu negara bisa menjadi persaingan dengan yang lain, agama bisa juga sebagai penghibur orang-orang yang miskin yang mengatakan bahwa ada dunia lain yang perlu dilihat dan dihidupi disamping dunia yang dijalani sekarang ini.[6] 
Secara singkat boleh dikatakan bahwa agama  dapat dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia. Hal ini telah dipegang teguh oleh seluruh warga Indonesia dan terungkap dalam nilai-nilai pancasila, terutama sila pertama.  Agama yang sungguh-sungguh dhayati dapat menjadi pemicu terciptanya ketahanan nasional yang kukuh. Masyarakat merasa satu hati dan satu pikiran dalam mewujudkan rasa persaudaraan ini dalam membangun Indonesia yang diambang kehancuran dan perpecahan.


Kepustakaan
Pranowo, M. Bambang. Syaefudin Simon dan Zubairi Hasan (eds.). Multidimensi Ketahanan   Nasional. Jakarta: Pustaka Alvabet. 2010.
Yewangoe.A.A.DR.. Agama dan Kerukunan. Jakarta: Gunung Mulia. 2009. 


[1] M. Bambang Pranowo dalam Syaefudin Simon dan Zubairi Hasan (eds.), Multidimensi Ketahanan Nasional. Jakarta: Pustaka Alvabet, 2010. hlm 37
[2] Bdk. Ibid. hlm 44-45
[3] Bdk . Ibid . hlm. 45
[4]  Kesejahteraa yang dimaksud adalah kesejahteraan batiniah, bukan kesejahteraan lahiriah, seperti banyak orang yang menganggap bahwa kesejahteraan itu pertama-tama terletak pada kekayaan, prestasi, nama baik dll.
[5] DR. A. A.  Yewangoe. Agama dan Kerukunan. Jakarta: Gunung Mulia. 2009.  hlm. 3.
[6] Bdk. Ibid. hlm.7
Reaksi:

0 komentar: