Jumat, 12 Oktober 2012

Fenomenologi sebagai Cermin Terang bagi Hermeneutika


            Ilmu pengetahuan itu membebaskan jiwa. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bagi kita bahwa warna perkembangan peradaban manusia dari zaman lampau hingga era baru ini selalu dipenuhi oleh gemuruh pergulatan seputar ilmu pengetahuan. Hal ini dilatarbelakangai oleh kodrat asali manusia itu sendiri yang haus akan pengetahuan. ‘Kehausan’ ini dirasakan sangat mengekang atau memenjara jiwa. Bila kita membandingkannya dengan panorama filsafat alam sampai post-modern, usaha pencarian ilmu pengetahuan akan terlihat di sini. Selain itu, bagi para filsuf  ilmu pengetahuan adalah kebijaksanaan sejati. Semakin seseorang menguasai dan tahu banyak ilmu, ia akan semakin mengenal hidupnya dan lingkungan sekitar. Artinya, ilmu pengetahuan akan menghantar seseorang pada penghargaan yang tinggi terhadap kehidupan.
            Penjelasan di atas hendak mengatakan bahwa ilmu pengetahuan sangat penting dalam kehidupan manusia dan tidak dapat dilepaskan. Manusia yang tidak melakukan pencarian terhadap ilmu pengetahuan secara tidak langsung menyangkal keberadaannya, lebih dari itu menyangkal eksistensi dan esensinya sebagai ciptaan yang berakal budi.

Transformasi Hermaneutika Dibalik Fenomenologi
            Tahun-tahun terakhir ini perkembangan ilmu pengetahuan mengalami kemajuan amat pesat, terutama dalam bidang tehnologi. Begitu banyak hal baru bermunculan dalam ilmu pengetahuan. Berkat berbagai perkembangan itu, dunia semakin dapat kita ‘genggam’. Namun, dibalik semua hal yang baru itu, kita harus sadar bahwa tidak seutuhnya semua hal itu baru seperti ada ungkapan ‘ tidak ada yang baru di muka bumi ini’. Kenyataan ini hendak menyadarkan kita bahwa di dunia kita ini tersimpan ‘warisan’ ilmu pengetahuan yang amat kaya. Saya katakan ‘warisan’ karena para leluhur, pemikir atau ilmuwan awali juga meninggalkan ‘warisan’ yang berupa ilmu pengetahuan yang harus kita lanjutkan, kita realisasikan, sehingga berguna bagi kehidupan kita saat ini. Seperti kita saat ini, ketika kita hendak memulai pencarian terhadap ilmu pengetahuan, kita memiliki impian dan harapan bahwa usaha kita akan berguna bagi anak cucu kita kelak, demikian halnya para pemikir awal yang berusaha mencari hal-hal baik untuk kita, para penerusnya. Disiplin ilmu tafsir disuguhkan bagi kita untuk menjadi jalan dalam menggali dan menemukan ‘warisan’ itu.
Pada dasarnya, ilmu pengetahuan lahir untuk  menjawab kesulitan-kesulitan konkret yang dihadapi manusia sehari-hari. Misalnya, alat-alat komunikasi lahir karena kesulitan dalam berkomunikasi jarak jauh, maka lahirlah surat, telegram, bahkan telpon. Ilmu pengetahuan adalah gambaran pengalaman di setiap zamannya. Artinya, pengalaman memiliki andil yang sangat berarti bagi lahirnya ilmu pengetahuan. Dari pengalaman, manusia bisa bermimpi dan mimpi atau anggapan atau hipotese adalah pijakan awal seseorang saat mulai mencari sebuah pengetahuan. Gejala-gejala yang nampak atau fenomen-fenomen yang terjadi di muka bumi ini menarik manusia pada ‘kehausan’. Karena manusia selalu bertanya. Manusia bertanya pada fenomen-fenomen yang ada di sampingnya. Misalnya, filsafat dimulai dengan filsafat alam. Artinya, alam mendesak manusia untuk memahaminya baik alam itu sendiri sebagai bagian yang lain atau dalam hubungannya dengan manusia karena manusia merupakan salah satu bagian dari alam.
Sebelum disiplin ilmu tafsir lahir, ilmu pengetahuan tentang fenomen-fenomen kehidupan telah lebih dahulu lahir. Secara implisit, filsafat alam sebenarnya termasuk lahan disiplin ilmu tentang fenomena yang kemudian disebut fenomenologi. Kelahiran hermeneutika bisa dikatakan merupakan konsekuensi dari kelanjutan fenomenologi. Dari awal saya katakan demikian mengingat arah yang mau dicapai ilmu ini adalah seperti di atas; menggali dan merealisasikan ‘warisan’ ke dalam kehidupan kita. Fenomenologi ‘menanam’, hermeneutika ‘menuai’. Mungkin peribahasa inilah yang pantas untuk menghubungkan keduanya yang kemudian akan disebut Hermeneutik Fenomenologis.
Dengan cara lain, hermeneutika kembali pada fenomenologi, yakni oleh sumbernya untuk pengambilan jarak pada yang paling inti dari pengalaman akan kepemilikan.[2] Pernyataan Paul Ricoeur ini mau menjelaskan bahwa dalam suatu penafsiran agar menghasilkan pemahaman yang benar, salah satu jalannya dengan kembali pada fenomenologi. Kembali pada fenomenologi artinya menempatkan fenomenologi sebagai satu unsur yang memberi titik terang tentang sebuah arti. Hal ini perlu dilakukan mengingat obyek penafsiran tidak lepas dari gejala-gejala yang pernah lahir dari sebuah pengalaman. Dalam arti lain, pengertian yang benar akan hal-hal yang melatarbelakangi obyek tafsir akan semakin mendekatkan hasil penafsiran pada kebenaran.
Selain itu, disiplin Fenomenologi membantu Ricoeur dalam pengambilan jarak terhadap obyek penafsiran. Sikap pengambilan jarak mau menghantar kita pada titik penafsiran yang obyektif tentang sesuatu hal. Artinya, subyek harus tampil murni tanpa ikatan apapun dengan obyek penafsiran. Sebelum menafsir, subyek melepaskan diri dari obyek supaya dapat melihat obyek secara keseluruhan dan yang paling penting hasil penafsiran berupa data yang obyektif. Dengan istilah lain, pengambilan jarak akan melepaskan pengaruh obyek dari subyek. Misalnya, untuk mendapat pengertian tentang gelas, subyek harus menempatkan diri di luar gelas kemudian menafsirkannya. Untuk mengerti jantung manusia, ia harus mengeluarkan jantung itu kemudian dipelajari, ini contoh kasarnya.
Dengan berpijak pada fenomenologi, hermeneutika hendak menyelam lebih dalam dan bukan sekedar mengartikan tentang fenomen-fenomen masa lampau. Artinya, dengan fenomenologi sebagai sumber, hermeneutika hendak masuk dalam pengalaman yang paling dalam atau inti dari kepamilikan. Usaha ini bisa disebut pengambilan jarak hermeneutis karena pengambilan dilakukan dalam kerangka teoritis hermeneutika. Artinya, kita harus ingat bahwa disiplin ilmu ini juga menawarkan banyak cara yang dapat diadopsi menjadi jalan penafsiran yang mendekatkan pada kebenaran. Misalnya, dalam pembahasan yang sebelumnya Dilthey menawarkan sumbangan ilmu-ilmu manusia termasuk psikologi. Pengambilan jarak hermeneutis ini dilepaskan dari zamannya. Dilepaskan dari zamannya dilakukan supaya periode yang melatarbelakangi ditempatkan sebagai unsur berikutnya, apapun yang terjadi termasuk periode hermeneutis. Hal ini bertujuan untuk melihat aspek kesengajaan dari gerak kesadaran. Aspek ini sangat penting karena menjadi dasar lahirnya arti. Selain itu, seluruh kesadaran arti menyangkut saat pengambilan jarak yaitu dari ‘pengalaman yang dihidupi’. Artinya, kita dapat menghubungkan sebuah periode dengan maksud dari arti ketika kita mampu memecahkan persoalan seputar pengalaman yang dihidupi.
Di sini ‘pengalaman yang dihidupi’ mempunyai peranan penting. Sebab, dalam pengalaman yang dihidupi unsur kesadaran mendapat tempat. Apa artinya kesadaran? Pertanyaan ini saya munculkan agar nilai suatu kesadaran yang ditampilkan Ricoeur menjadi kaya. Kesadaran begitu berarti bila kita melihat pemikiran Rene Descartes, dimana kesadaran menjadi tonggak pemikiran filsafat modern. Cogito Ergo Sum – Saya Berpikir maka Saya Ada. Berpikir di sini artinya tidak lain adalah kesadaran itu sendiri.  Dalam kesadaran, manusia hadir sebagai kodratnya, yaitu dalam keutuhan sebagai manusia. Pengalaman yang dihidupi itu akan memiki arti bila dialami dalam kesadaran. Hal ini berarti tanpa kesadaran pengalaman yang dihidupi merupakan pengalaman hampa dan tidak berguna. Obyek ilmu tentu tidak dapat diawali dari hal-hal yang hampa. Dengan demikian terjalin hubungan yang erat antara kesadaran makna dengan ‘pengalaman yang dihidupi’.
  Fenomena ini dilihat dalam hal-hal yang berhubungan dengan ilmu bahasa yang digunakan sebagai tanda. Untuk menafsirkan suatu obyek atau teks yang berat dan terpisah dari diri kita, pertama-tama kita harus melihat obyek atau teks itu apa adanya. Dan langkah pertama yang paling mudah adalah jika kita melihat hal-hal yang berhubungan dengan ilmu bahasa. Meskipun kebenaran dan ketepatan tentu masih diragukan, tetapi paling tidak memberi perhatian pada bahasa yang ada dalam obyek merupakan permulaan yang baik. Tanda yang berhubungan dengan ilmu-ilmu bahasa bisa mempertahankan arti dari suatu obyek namun juga bisa mengaburkan. Dalam hal ini, kita menemukan bahwa setiap tanda yang digunakan juga memiliki sisi negatif atau memiliki keterbatasan.[3] Kelemahan ini muncul karena bisa jadi perbedaan tanda. Artinya, kita harus sadar bahwa dalam hal-hal yang berhubungan dengan ilmu bahasa pun perubahan mungkin terjadi, baik dalam hal pengertian maupun oleh pengaruh perkembangan zaman. Semua itu harus diungkapkan kembali dengan tanda yang sama atau tanda umum yang biasa digunakan dan dimengerti oleh semua manusia. Dengan jalan ini, maka semuanya akan menjadi jelas dan pemahaman akan suatu objek pun terpecahkan karena tidak ada lagi ‘ruang kosong’. Denagn demikian, epoché (sebuah periode) menjadi realitas yang sungguh-sungguh terjadi dan bukan hanya sebuah khayalan masa lampau yang tidak memiliki arti. Di sini, fenomenologi menjadi seperti sebuah penegas kebangkitan kembali dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi yang melahirkan sebuah nilai yang berharga dari pengalaman. Fenomenologi dalam hubungannya dengan hermeneutika menjadi arah yang menunjukkan martabat dari tindakan (The dignity of the act), inilah puncaknya bahwa realitas memiliki nilai luhur. Ricoeur menyebutnya dengan isyarat filosofis (the philosophical gesture).
Selanjutnya, Ricoeur menampilkan satu pemikiran yang begitu berarti tentang pemahamnnya dalam mengartikan dan menjelaskan suatu ‘pengalaman yang dihidupi’. Menurut dia, realitas masa lampau yang sering menjadi kendala dalam seni menafsir karena kekaburannya dapat diungkap dengan pemikiran ini. Menghadirkan kembali pengalaman masa lampau berarti mengangkat kembali segala hal sampai pada level ingatan dan menjadikannya  sebagai ‘milik’ (belonging) kita. Artinya, realitas itu berada dalam posisi dekat dengan kita. Kedekatan ini merupakan langkah awal yang baik untuk memulai kegiatan menafsir. Dari sini, penafsiran akan lebih mendekati kebenaran realitas karena menjadikan ‘pengalaman yang dihidupi’ sebagai ‘milik’ adalah bentuk dari kebenaran sejarah, kesetiaan pada sejarah.
            Paul Ricoeur melihat ‘pengalaman yang dihidupi’ sama pentingnya dengan pemikiran Hegel. Bagi Ricoeur, ‘milik’ manusia yang paling berharga adalah pengalaman yang terinternalisasikan dengan pribadi subyek. Dan Hegel memandangnya sebagai ‘hakekat’ dari moral kehidupan. Artinya, inti dari harta subyek sebenarnya terletak pada moralitas perjalanan kehidupannya.
            Mengapa fenomenologi mendapat perhatian Ricoeur dalam ilmu hermeneutiknya? Karena, fenomenologi di sini mampu menghadirkan ‘pengalaman yang dihidupi’. ‘Pengalaman yang dihidupi’ dalam fenomenologi memiliki kesamaan dengan kesadaran dalam hermeneutika yang tidak dapat disembunyikan oleh sejarah sekalipun.
            Bagi Paul Ricoeur, supaya hermeneutika dapat berkembang dengan baik, ada saatnya hermeneutika mengalami saat-saat sulit yang bisa saja mampu menggoncangkan seluruh prinsip pemikiran yang ada. Sejak pemikiran F. Schleiermacher hingga uraian Ricoeur ini akan berkembang jika keseluruhan pemikiran hermeneutika mengalami badai dari ilmu-ilmu lain seperti kritik-kritik ideologi, psikoanalisis, dan lainnya. Karena saat-saat seperti ini mampu membawa hermeneutika pada pengertian yang benar dan kembali pada prinsip dasar dari hermeneutika sendiri. Dengan bantuan fenomenologi, hermeneutika dapat mengadakan ‘ruang kosong’ (empty space). Ruang kosong di sini  bukan berarti hermeneutika melepaskan pemahaman tentang arti, namun justru sebaliknya hendak mendapatkan pengertian dan pemahaman yang tepat.
            Pengadaan ‘ruang kosong’ bisa dikatakan sebagai pemurnian pemahaman arti. Memang, ide  tentang ‘ruang kosong’ dalam keseluruhan ilmu bukan merupakan hal yang baru. Namun, pemikiran baru yang Ricoeur tampilkan adalah bahwa cara ini memberikan esensi yang obyektif dalam mengambil keputusan filosofis dari pegalaman yang sesungguhnya. Ricoeur hendak mengatakan pada kita, bahwa untuk mendapatkan pengertian yang benar, kita harus berada dalam keadaan ‘kosong’. Artinya, kita harus mengambil jarak (distanciation) terhadap obyek dan melepaskan semua ‘atribut-atribut’ yang ada dalam pikiran kita. Hal ini dilakukan agar semua kritik intern (pemahaman yang kita sendiri miliki) dan kritik ektern (segala bentuk kritik yang dari luar seperti ideologi-ideologi ilmu-ilmu pengetahuan) tidak merasuk dan mempengaruhi suatu keputusan filosofis.
Selanjutnya, Ricoeur sampai pada tradisi historis (historical tradition) melalui pengadaan ‘ruang kosong’. Artinya, pengadaan ‘ruang kosong’ memungkinkan subyek untuk menandai pengalaman yang dihidupinya dan kepemilikannya sebagai fenomena perjalanan hidupnya.
Paul Ricoeur di bagian ini menampilkan pemikirannya tentang salah satu tahap panorama hermeneutika menuju hermeneutika fenomenologi. Inti pemikirannya pada bagian b. ini adalah hermeneutika yang berkolaborasi dengan fenomenologi. Pencarian terhadap pemahaman akan arti menyelam ke dasar-dasar pengalaman manusia yang sungguh terjadi (virtual act) dan empiris. Metode ini digunakan untuk melangkah lebih lanjut dalam memahami nilai ontologis setiap arti yang selalu menjadi penghambat dalam penafsiran. Nilainya bagi kita, menafsir itu seperti masuk dalam sebuah hutan belantara dan fenomenologi menawarkan disiplinnya sebagai penunjuk arah.

Tinjauan Kritis dan Relevansi
            Pertama, alangkah sulitnya memahami secara langsung pemikiran dari seorang filsuf. Selama ini saya mengerti pemikiran beberapa filsuf dalam olahan yang sangat sederhana yang disajikan oleh para dosen. Namun, kesulitan yang saya dapatkan dalam mengikuti pelajaran Paul Ricoeur ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Seperti halnya Ricoeur menampilkan pemikiran yang cemerlang lewat kegelisahan atau kesulitan sehari-hari yang ia alami, saya berharap juga demikian, kesulitan sehari-hari yang saya temukan menjadi titik awal untuk berpikir.
Kedua, Paul Ricoeur adalah pribadi yang cemerlang dan kreatif dalam menyampaikan pemikirannya. Keluhuran pengalaman yang dihidupi manusia, ia tampilkan sebagai pendobrak kebenaran. Ia memandang pengalaman sebagai sesuatu yang berarti di sepanjang masa. Satu tantangan dia tawarkan untuk kita, yaitu apakah sekarang kita ‘hidup’? Artinya, hidup yang sungguh-sungguh disadari dan bukan hanya hidup ‘melayang’ tanpa pijakan seperti yang disebut Heidegger dalam Metaphysics. Betapa pentingnya kesadaran dan sejarah bagi Paul Ricoeur.
            Ketiga, Paul Ricoeur memberi warna baru pada pemikiran tentang ‘ruang kosong’ sebagai jalan yang baik dalam penafsiran. Lewat pemikiran ini, Ricoeur mau menyampaikan kebenaran yang obyektif, yaitu pengertian yang dihasilkan secara murni tanpa pengaruh apapun seperti pengalaman, prasangka atau hipotese, atau ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Relevansi untuk kita, gosip atau isu dan yang lainnya lahir dari pengertian yang tidak murni.




[1] Tema ini hendak mengkritisi sub-tema b. dari The Phenomenology Presupposition of Hermeneutics,  hlm.116-117.
[2] Diktat, Hlm. 116.
[3] ”The sign possesses a specific negativity”, Diktat, Hlm. 116.
Reaksi:

0 komentar: