Kamis, 13 September 2012

FILSAFAT SEBAGAI ANCILLA THEOLOGIAE


FILSAFAT SEBAGAI ANCILLA THEOLOGIAE
Sebuah Perjalanan Filsafat Dalam Korelasinya Dengan Teologi

Itinerarium Mentis In Deum atau perjalanan budi menuju ke Allah yang secara tegas menjelaskan bahwa pengembaraan budi manusia akan sampai kepada Allah[1]. Karya Bonaventura ini mau mengatakan bahwa budi manusia yang aktif selalu melakukan perjalanan. Arah perjalanan itu sendiri bertumpu pada kodratnya, yaitu rasa ingin tahu. Sedangkan mengenai akhir dari suatu perjalanan, akal budi akan menghantar manusia atau pribadi pada sebuah kesadaran bahwa puncak dari segala pengetahuan dan garis akhir pengembaraan adalah Allah sendiri. Lalu, bagaimanakah proses perjalanan ini dalam mencapai garis akhir? Satu hal yang pasti bahwa untuk mencapai suatu akhir perjalanan dibutuhkan perjuangan yang rumit, kesadaran yang tinggi dan waktu yang lama. Pola pemikiran ini hampir senada dengan perjalanan sebuah mitos ke logos. Perjalanan mitos ke logos  merangkum esensi-esensi yang mendasar kehidupan sebagai realitas, dimana mitos sendiri merupakan benih yang belum matang dari logos. Itulah sebabnya, filsafat tidak menghapus atau menggantinya, tetapi menambahkannya[2]. Artinya, esensi dasar dari sebuah mitos diangkat ke alam akal budi. Perjalanan yang kurang lebih sama menjadi pergumulan beberapa bapa gereja seperti Basillius Agung, Gregorius Nazianze, Gregorius Nisa, Agustinus, Thomas Aquinas, Bonaventura dan yang lainnya. Melalui jasa pemikiran mereka, filsafat menjadi jalan yang tepat untuk masuk dalam pemahaman teologi. Di sinilah filsafat bak pembantu wanita yang setia bertugas memudahkan manusia memahami secara rasional aneka misteri iman yang diwahyukan Allah[3].
            Filsafat disebut sebagai pembantu wanita dari teologi karena mempunyai arti dan peranan yang begitu penting. Kehadirannya sangat membantu teologi agar bisa ‘mendarat’ dalam budi manusia. Maka, teologi mencapai pada realisasinya. Teologi bukan lagi merupakan suatu hal yang tak dapat dijangkau oleh akal budi melainkan sebaliknya. Gambaran ini menampakkan korelasi yang sangat menguntungkan dimana lahirnya filsafat pada akhirnya memampukan budi manusia untuk memahami misteri iman. Sebuah senjata yang mampu menyingkapkan tabir misteri iman sehingga dapat dijamah dan dirasuki oleh budi manusia yang serba terbatas. Hal ini tentu saja menjadi pintu masuk bagi teologi sehingga mendapat tempat dalam diri manusia. Dengan kata lain, teologi yang dahulu terkesan abstrak dan seolah-olah berada di ‘luar’ manusia, kini menjadi sebuah pemahaman yang dapat diambil menjadi milik dari akal budi manusia.
            Tahap selanjutnya yang merupakan konsekuensi dari pencerahan ini adalah puncak dari perjalanan budi manusia yaitu perkawinan antara iman dan akal budi. Relasi ini terjalin karena adanya filsafat yang mengolahnya sedemikian rupa, filsafat adalah jembatan dan saksinya. Iman dan akal budi merupakan esensi yang mutlak ada dalam sebuah pemahaman yang utuh, matang dan konsisten. Pada awalnya, filsafat dan teologi berjalan terpisah. Keduanya memiliki ruang lingkup kesibukannya masing-masing. Bahkan bisa dikatakan, filsafat lahir dari pemikiran orang-orang kafir karena ada yang belum mengakui adanya Tuhan atau memiliki paham banyak dewa. Dalam perjalanannya, filsafat dan teologi lebih merupakan musuh yang saling bersaing tentang entitas kebenaran menurut masing-masing ilmu. Hal ini tampak pada pemikiran beberapa filsuf yang mampu menggoncangkan ajaran teologi. Misalnya, metafisika oleh filsafat Kantian. Cara berpikir filsafat berdasarkan atas akal budi, sedangkan teologi lebih cenderung bersandar pada prinsip iman dan tradisi yang diwahyukan. Oleh karena para filsuf dalam segala pemikirannya bertumpu pada akal budi, maka mereka mempunyai sikap hidup yang lebih terbuka. Mereka selalu haus akan berbagai hal yang lahir dari akal budi seperti entitas kebenaran dan kebijaksanaan. Rasa ingin tahu dan sikap ‘menyangsikan’ segala sesuatu menjadi bekal filsafat dalam memulai pengembaraannya. Lain halnya dengan teologi yang memiliki kesan tertutup atau bersifat ortodoks[4].
            Dalam perjalanannya, ajaran filsafat[5] mampu mengukir sejarah peradaban manusia. Filsafat menyajikan hal-hal yang menyeluruh dari sisi kehidupan manusia baik sosial, budaya, agama, politik, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Para filsuf juga merupakan saksi hidup seluk-beluk fenomena peradaban manusia. Mereka adalah para pengamat yang mampu berdiri teguh dalam kesadaran yang konsisten. Sedangkan mengenai ajaran-ajaran yang mereka lahirkan, mereka akan senantiasa memperjuangkannya mati-matian. Tidak mengherankan apabila debat atau diskusi tentang ajaran kebijaksanaan menjadi ciri yang khas dalam hidup keseharian mereka.
            Filsafat sebagai pembantu wanita teologi merupakan emblem pengandaian  yang sesuai dengan peranannya. Filsafat sendiri, dalam partisipasinya, mau mengungkapkan segala kaidah kebijaksanaan  baik yang fisik maupun yang melampaui fisik(meta ta physica). Filsafat yang berangkat dari hal-hal konkret  pada akhirnya mampu menyingkapkan hal-hal yang ilahi atau wahyu. Pernyataan ini mau menunjukkan bahwa akal budi manusia tidak bisa begitu saja dapat menggapai wahyu ilahi tanpa didasari oleh pondasi yang tepat. Artinya, pemahaman akal budi akan rapuh bila hanya didasari oleh sensasi kepercayaan semu yang mengawang-awang. Maka, tidak mengherankan apabila pemahaman itu berlawanan dengan realitas akan dengan mudah mengalami kegoncangan yang dahsyat. Itulah yang terjadi saat lahir filsafat Kantian dan penemuan-penemuan ilmiah yang lain seperti Galileo Galilei dan Copernicus tentang sturktur rotasi bumi yang bertentang dengan kebenaran wahyu. Sedangkan, ketika memasuki abad pertengahan kebenaran wahyu itu mendapat peneguhannya, yaitu filsafat ilmiah menjadi cermin dan penggerak lahirnya filsafat Kristiani.
            Abad pertengahan merupakan periode transisi yang mendasari filsafat Kristiani. Berkat jasa pemikiran para bapa gereja, filsafat Yunani menjadi titik tolak lahirnya filsafat Kristiani. Thomas Aquinas menyoroti pandangan Aristoteles, khususnya pandangan bahwa metafisika merupakan studi tentang yang ada sejauh ada. Tetapi yang jauh lebih menarik ialah bahwa di sini metafisika merupakan studi tentang yang-ada transenden, dan itu berarti keberadaan Allah sendiri[6]. Pandangan di atas merupakan salah satu pandangan yang lahir dari beberapa filsuf Kristiani. Periode ini menekankan akal budi atau ratio sebagai tumpuan dalam melakukan perjalanan menuju pencerahan iman, yaitu Allah. Akal budi dan iman berjalan bersama, bergulat bersama dan saling mengisi rongga-rongga misteri keduanya atau keterbatasan keduanya. John Toland berpendapat bahwa iman perlu diteguhkan oleh akal[7]. Hal yang sama, iman memberi nuansa ilahi pada akal budi yang berarti kodrat akal mencapai kasempurnaannya karena kesempurnaan akan terjadi jika sesuatu itu bersandar pada Sang Kebenaran, yaitu Allah.
            ‘Perkawinan’ antara filsafat dan teologi adalah permulaan peradaban baru dalam kehidupan manusia terutama dari sisi iman. Cakrawala baru dalam memandang iman telah terbit. Filsafat terkandung dalam teologi dan teologi menyingkapkan kaidah filsafat. Keduanya menjadi satu tak terpisahkan. Sehingga setiap pribadi yang hendak memahami kaidah teologi, ia harus meletakkan langkah pertama pada dalil-dalil filsafat. Maka, puncak dari perkawinan itu sendiri adalah sebuah kebenaran aktualis. Artinya, teologi menjadi pergulatan sehari-hari yang berhubungan dengan masalah-masalah hidup konkret. Teologi hadir sebagai salah satu bentuk problem solver dan bukan sebagai sensionalisme kehidupan beragama belaka. Filsafat sebagai pembantu wanita teologi, teologi sebagai teman atau sigaring nyawa[8] bagi kehidupan manusia.
            Perjalanan filsafat dalam kancah penyingkapan wahyu dalam teologi, pada akhirnya akan membawa setiap pemikiran pada sebuah tantangan yang lebih matang dan mendalam. Para filsuf Kristiani telah memulainya, maka generasi selanjutnya harus mengembangkan warisan kebijaksanaan yang luhur itu. Mereka telah meninggalkan sebuah hidangan kebijaksanaan dan kita hanya tinggal mengunyah lalu memakannya. Meski demikian, sikap terbuka terhadap realitas zaman tetap menjadi tantangan untuk bisa menyajikan kaidah-kaidah teologis secara baru dan ‘zamani’, sesuai dengan kondisi zaman yang bersangkutan.
            Para bapa gereja yang ikut menyumbangkan pemikirannya itu juga menjadi tantangan bagi penerusnya saat ini, dalam hal ini adalah para imam atau biarawan. Keduanya mempunyai tuntutan yang sama, yaitu tinggal dan menjadi bagian dalam dunia. Oleh sebab itu, seorang imam atau biarawan harus memiliki pemahaman yang solid dan konsisten tentang manusia, dunia dan Allah[9]. Pemahaman ini akan mengantar mereka pada sebuah kesadaran akan suatu tugas dan peranan mereka di tengah dunia. Mereka harus menjadi filsuf-filsuf yang peka akan kondisi zaman dan kebutuhannya. Mereka harus menjadi filsuf yang mampu memandang segalanya dengan perspektif akal budi dan iman. Inilah salah satu alasan mengapa ilmu filsafat diajarkan bagi para calon imam pada khususnya. Dari zaman ke zaman, kehadiran figur filsuf yang mampu menjadi teman dan saksi perkembangan dunia adalah sangat perlu. Peran ini hendaknya terwujud juga dalam diri seorang imam atau biarawan.
            Sampai saat ini studi filsafat masih tampak jelas relevansinya dan ini juga selaras dengan ajaran iman. Yesus pernah bersabda bahwa dalam hidup di dunia ini kita harus senantiasa berjaga siang dan malam sambil merenungkan hukum Tuhan. Hal senada terungkap dalam esensi penting filsafat modern, yaitu kesadaran. Sikap senantiasa sadar akan membuat hati dan pikiran kita selalu berjaga. Pada akhirnya, kesadaran juga memiliki dimensi eskatologis. Sebuah kesadaran tertinggi yang memberikan wacana terang tentang keberadaan kita saat ini, untuk apa dan hendak kemana. Tugas seorang filsuf tentu saja tidak ringan, menjaga agar kebijaksanaan tetap dicintai dan diwujudkan. Setiap zaman memberi warnanya masing-masing sesuai dengan permasalahannya. Itulah sebabnya, pencarian sebuah kebijaksanaan tidak mengenal batas melainkan terus-menerus sepanjang hayat. Agustinus dalam pengakuannya mengatakan bahwa hatinya tidak akan merasa tenang sebelum beristirahat dalam Allah. Nilai iman yang mau ditunjukkan adalah bagi Agustinus, akhir atau kesempurnaan sebuah kebijaksanaan adalah persatuan dengan Allah sendiri. Media dari persatuan itu adalah segala-galanya. Artinya, semua yang ada di alam semesta ini mampu membawa kita pada Allah. Mereka adalah pembantu kita untuk menggapai yang ilahi. Ilmu filsafatlah yang merangkum segalanya dan teologi yang meneguhkan segala dari segalanya. Perjalanan filasat sebagai ancilla theologiae adalah perjalanan akal budi dan iman. Allah telah menyediakannya bagi kita.
Daftar pustaka:

Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia,2005.

Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana, SJ. Jakarta: Departeman     Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2003.

Isdaryanto, Johannes Bosco, Lic., Sejarah Filsafat Barat Kuno Yunani. Sekolah     Tinggi Fisafat Teologi Widya Sasana, 2006. (Diktat).

Riyanto, FX. Eko Armada, Dr., Pengantar Filsafat-Doing Phylosophy. Sekolah     Tinggi Fisafat Teologi Widya Sasana, 2001. (Diktat).



[1] Dr. FX. Eko Armada Riyanto, Pengantar Filsafat-Doing Phylosophy. dalam Fides et Ratio (Sekolah Tinggi Fisafat Teologi Widya Sasana, 2001), hlm. 7b.
[2] Johannes Bosco Isdaryanto, Lic., Sejarah Filsafat Barat Kuno Yunani (Sekolah Tinggi Fisafat Teologi Widya Sasana: 2006), hlm. 6.
[3] Dr. FX. Eko Armada Riyanto, Loc.Cit.
[4] Ortodoks artinya berpegang teguh pada ajaran atau tradisi resmi seperti agama, kolot dan berpandangan kuno.
[5] Ajaran fisafat yang dimaksud di sini adalah Filsafat Yunani.
[6] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2005), hlm. 626.
[7] Ibid., hlm. 322.
[8] “Sigaring nyawa” adalah pepatah Jawa yang berarti separuh nyawa, biasanya digunakan sebagai istilah untuk menyebut istri.
[9] Dokumen Konsili Vatikan II, dalam Optatam Totius art. 15, terj. R. Hardawiryana, SJ (Jakarta: Departeman Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2003).



Reaksi:

0 komentar: