Kamis, 13 September 2012

FILSAFAT GEORGE BERKELEY


GEORGE BERKELEY
(¤ Kilkeny 12-3-1685 - † Cloyne 14-1-1753)

1.      Hidup dan Karya
2.      Proyek Riset
Proyek filosofis Berkeley berciri apologetis melawanmaterialisme, ateisme dan para pemikir bebas lainnya. Nucleus polemik berpusat pada penyangkalan atas eksistensi dari apa yang oleh para filosof namakan materi atau substansi korporis, yakni bahwa terdapat materi atau badan di luar pikiran. Kepercayaan terhadap eksistensi materi di luar pikiran merupakan cikal bakal dan akar dari ateisme modern.

3.      Epistemologi
Aksioma utama Berkeley adalah “Jangan memakai kata tanpa suatu ide”. Aksioma ini merupakan kunci untuk mengerti gnosologia Berkeleyian dan doktrin filosofisnya. Pertanyaan yang muncul adalah apa itu ide dan dari mana muncul? Dalam CommonplaceBook atau KomentarParafilosof dan kemudian dikembangkan dalam Treatise concerning the Principle of Human Knowledge, Berkeley memaparkan hakekat dan asal usul ide. 1) Semua kata bermakna berada dalam ide, 2) Tiap pengetahuan berpusat pada ide. 3) Semua ide muncul dari luar dan dari dalam. 4) Jika dari luar, harus datang melalui panca indera dan dinamakan sensasi.5) Jika dari dalam, ide merupakan hasil kerja nalar dan disebut pikiran. 6) Tiada sensasi pernah berada dalam benda tanpa panca indera. 7) Tak pernah pikiran berada dalam benda tanpa pikiran. 8) Semua ide kita adalah atau sensasi atau pikiran. 9) Tidak pernah ada ide dapat berada dalam benda yang tanpa pikiran dan indera. 10) Sambutan pasif atau memilki ide tentang sambutan pasif disebut pencerapan. 11) Apa saja yang memiliki ide dalam dirinya, meski begitu pasif dan tidak menimbulkan aktus apapun, tetap harus mencerap. 12) Semua ide adalah simpleks atau terdiri atas ide simpleks. 13) Sesuatu yang sama dengan yang lainnya harus menyelaraskan diri dengan hal tersebut dengan satu atau lebih ide simpleks. 14) Apapun yang sama dengan ide simpleks, harus dan adalah ide simpleks lain dari spesies yang sama atau memuat satu ide simpleks dari spesies yang sama. 15) Semua ide dalam benda dapat dicerap. 16) Dua hal tidak dapat dikatakan sama atau berbeda sebelum diadakan perbandingan. 17) Membandingkan berarti melihat bersama dua hal dan memastikan di mana sama dan tidak sama. 18) Nalar tidak dapat membuat perbandingan selain idenya sendiri. 19) Hanya ide saja yang dapat dicerap dalam satu benda.
Semua ide adalah sensasi dan hasil karya intelek atas sensasi. Konsekwensi dari afirmasi ini adalah bahwa waktu, ruang dan gerak merupakan sensasi belaka. Meski mengakui eksistensi ide, Berkeley menolak ide abstrak (hasil abstraksi), menyangkal eksistensi kwalitas primer dan sekunder serta substansi material. Yang ada adalah sensasi dan pikiran. Dalam pikiran ada ide-ide dan ide-ide merupakan sensasi. Kita tidak mencerap substansi maupun sebab, sehingga tidak pula mencerap segala sesuatu dalam dirinya sendiri (sebagai obyek material); yang dicerap adalah ide belaka. Jadi obyek pengetahuan kita adalah dunia ide.
Mengapa ide abstrak dianggap sebagai ilusi? Karena setiap sensasi bersifat singular, demikian pula setiap ide berciri konkrit dan individual. Karena itu, teori Locke tentang abstraksi adalah keliru besar, ilusif dan berbahaya. Berbahaya karena akan melahirkan ilusi tentang dunia rekaan esensi dan substansi material atau segala sesuaatu yang berada di luar pencerapan indera.
Apa yang disebut dengan ide umum (generale) merupakan ide partikular yang diambil dan digunakan untuk menunjukkan semua ide yang mirip. Meski demikian, ide umum (generale) tetap berciri konkrit, individual alias partikular dan tidak pernah abstrak dan esensial. Kita tidak pernah mengenal manusia, melainkan manusia ini dan itu maupun keluasan, tetapi benda yang berukuran; tidak pula mengetahui rumah atau kota, tetapi rumah ini dan kota itu. Dari realitas ini lahir ide tentang manusia, rumah, kota, sungai dan keluasan. Jadi, ide-ide umum tersebut hanya nama belaka tanpa muatan makna apapun (nominalisme).
“Terlepas dari aneka macam ide atau obyek pengetahuan kita, terdapat sesuatu yang mengenal atau mencerap ide tersebut dan melakukan suatu tindakan atasnya, seperti actus menghendaki, mengingat, mengharapkan, membayangkan dan lain sebagainya. Ada ini yang mencerap dan bertindak adalah sesuatu yang dinamakan pikiran, roh, jiwa, aku. Dengan istilah tersebut tidak dimaksudkan ideku, melainkan sesuatu yang berbeda sama sekali dari seluruh ide dan dalam mana ide berada, yakni dari mana semuanya dicerap: artinya benda itu sendiri, karena eksistensi dari satu ide berada dalam tercerapi”.
Berkeley bermaksud menegaskan bahwa semua yang dicerap adalah sensasi dan sensasi yang diolah nalar menjadi ide. Obyek pengetahuan ialah ide yang partikular, singular, konkrit dan individual. “Maka eksistensi dari sesuatu adalah apa yang dapat dicerap: esse est percipi, karena mustahil ada (benda) memiliki eksistensi di luar nalar atau dari subyek pemikir yang mencerapnya”. Dasar argumentasinya adalah “karena mustahil bagiku melihat dan menyentuh sesuatu jika tidak merasakannya secara nyata, maka mustahil pula mengerti dalam pikiranku sesuatu atau sebuah obyek inderawi yang terbedakan dari pencerapan atau sensasinya”.

Dalam Essay toward a New Theory of vision, Berkeley hendak membuktikan kalau obyek merupakan konstruksi pikiran dan bukan eksis begitu saja tanpa ide yang direkayasa oleh subyek penahu. Nalar bisa mengkonstruksikan obyek melalui sensasi yang diperoleh dari pengalaman dan kebiasaan subyek. Untuk memperkuat argumentasinya, Berkeley mengambil contoh dari Molyneux, yang buta sejak lahir, namun berkat operasi ia dapat melihat. “Apakah Molyneux yang selama buta memiliki visi tentang dunia seturut indera peraba dan perasa, lalu setelah operasi akan mampu menunjuk dan menghubungkan satu kesan terlihat (visiva) dari suatu obyek dengan kesan terasa dari obyek yang sama? Jawabannya tidak.  Kemiripan apa, kaitan apa yang ada antara sensasi cahaya dan warna di satu pihak dengan sensasi resistensi dan presing di pihak yang lain? Tiada kaitan alami, obyektif, jelas apapun yang dapat menyamaratakan satu jenis sensasi dengan jenis sensasi lainnya.  Koeksistensi tetap antara ide yang satu dengan yang lain hanya ditunjukkan oleh pengalaman, yakni latihan dan kebiasaan. Hubungan antara berbagai sensasi bukanlah persoalan logika atau obyektif, melainkah buah dari pengalaman. Jiwa manusia mengaitkan aneka muatan dari berbagai sensasi dengan cara ini: pikiran membuat ”sesuatu” dan memformat “obyek”.

4.      Filsafat Fisika
Nominalisme dan fenomenisme merupakan dua tema sentral dalam gnoseologi Berkeley. Maka logislah bila dia menolak gagasan Newton tentang ruang absolut dan waktu absolut. “Waktu absolut tidak pernah tercerap oleh penginderaan maupun terbukti oleh nalar”, demikian pula ruang absolut merupakan ilusi karena “mustahil membedakan atau mengukur gerak apapun bila tanpa bantuan obyek inderawi”. Dengan menolak waktu dan ruang absolut, Berkeley menyangkal pula konsep bobot dan daya. “Apa yang dinamakan dengan bobot adalah benda-benda yang bergerak di hadapan benda yang diam”. Daya atau kekuatan bukan pula sebab riil dari gerak. Siapa pernah melihat daya?
Yang dilihat adalah ide yang diolah dari sensasi yang diterima melalui organ pengindera dan membentuk pengalaman tentang suatu benda tercerap. Ide merupakan kwalitas inderawi yang disimbolkan dalam nama. Karena itu, eksistensi dari segala sesuatu mesti tunduk pada kemampuan untuk dapat dicerap, sehingga apapun yang dikatakan tanpa berbasis pengalaman atau tercerapi merupakan kata tanpa makna atau sekedar ilusi dan realitas rekaan.

5.      Teodisea
Berkeley melengkapi dan menyempurnyakan proyek filosofis apologetisnya dengan tema tentang kehadiran Allah dalam dunia. Dasar argumentasi bertumpu pada analogi antara manusia sebagai subyek penahu dan Allah. Ada roh dan “roh adalah ada simpleks, utuh, aktif : sejauh ia mencerap ide disebut intelek, ketika ia menghasilkan ideatau bekerja secara lain dengan ide itu dinamakan kehendak”. Hanya, “sejauh saya lihat, kata kehendak, intelek, pikiran, jiwa, roh tidak mengacu pada ide yang berbeda, bahkan tidak menunjuk pada ide apapun; malah mengacu pada sesuatu yang sangat berbeda dari ide dan mustahil sama dengan ide maupun diungkapkan dengan ide apapun sebab ia adalah pelaku”. Jadi terdapat pikiran atau roh sebagai pelaku; obyek pikiran adalah ide dan ide berada didalamnya.
Muncul pertanyaan: bagaimana membedakan ide yang bergantung pada imaginasi kita dan ide yang berada di luar kehendak kita? Atas persoalan itu, Berkeley menjawab demikian. Apa saja kuasa yang kumiliki atas semua pikiranku, saya menemukan bahwa ide yang dicerap secara aktual oleh semua organ pengindera tidak bergantung sekaligus pada kehendakku. Ketika membuka mata di siang bolong, saya tidak bisa memilih melihat atau tidak melihat maupun menentukan obyek apa yang harus tercerap oleh penglihatanku; hal yang sama berlaku pada pendengaran dan indera yang lain: ide-ide yang tertancap pada panca indera bukanlah ciptaan kehendakku. Jadi, ada satu kehendak lain, yakni roh lain yang menghasilkannya”. Lebih lanjut, “ide-ide itu memiliki aturan, stabilitas dan koherensi; tidak muncul percaso alias kebetulan, seperti yang biasa terjadi dengan ide-ide yang disebabkan oleh kehendak manusia, melainkan dengan proses yang teratur, yaitu terkoordinir”.
Kalau semua tertata, terkoordinir, stabil dan tetap, lalu dari mana asal usulnya dan siapa yang melakukannya? “Hubungan yang mengagumkan ini (relasi antar ide yang koordinatif dan reguler) membuktikan dengan sendirinya kebijaksanaan dan kedermawanan Pelaku. Dan hukum yang pasti, metode dengan mana Pikiran membangkitkan pada kita ide-ide penginderaan dan padanya kita bergantung disebut “hukum alam”. Kita memahaminya  melalui pengalaman yang mengajarkan kita bahwa ide ini dan itu disertai dengan ide-ide lainnya dalam gerak tertata segala sesuatu”. Alasan atau jawaban yang menjelaskan stabilitas, keteraturan dan koherensi ide-ide, yang membangkitkan ide-ide menurut kaidah yang pasti adalah Allah. “Dia memberikan kepada kita kemampuan tertentu untuk melihat lebih dulu, yang memungkinkan kita menata perbuatan seturut tuntutan hidup”.

Reaksi:

0 komentar: