Minggu, 09 September 2012

Apa itu Homoseksual?


Apa itu Homoseksual?
Pendahuluan
Dalam sebuah konperensi para gembala, seorang gembala berbicara dengan tenang tentang meningkatnya jumlah perceraian dalam gerejanya.  Ketika ditanyakan bagaimana ia menempatkan homoseksual dalam gerejanya; ia menjawab, “Saya yakin sepenuhnya Tuhan dapat mengubah hati-hati yang hancur dalam hubungan seksual.”
Bagaimana kita mengembangkan Kerajaan Allah bagi homoseksual?  Tidak berbeda banyak dengan kita yang juga orang-orang berdosa.  Anugerah Tuhan Yesus, kebenaran-Nya dan kuasa pemulihan-Nya kepada orang-orang yang bergumul dalam hubungan heteroseksual juga dicurahkan kepada mereka yang tertarik pada jenis kelamin yang sama.
Definisi homoseksual sendiri adalah kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Istilah yang sudah umum dikenal masyarakat untuk orang yang termasuk homoseksual adalah gay (untuk lelaki) dan lesbian (untuk wanita).
Homoseksualitas adalah suatu naluri dasar yang terbawa sejak lahir, walaupun pada umumnya kesadaran akan hal itu baru dirasakan dalam usia remaja atau dewasa. Perlu dibedakan antara orientasi homoseksual sebagai suatu naluri yang bersifat netral, dengan perilaku homoseksual yang berkaitan erat dengan nilai.
·       Penelitian mutakhir memberi petunjuk bahwa orientasi (naluri) homoseksual pada pria erat kaitannya dengan faktor biologik, yaitu:
·         Faktor genetik, kemungkinan besar pada segmen kromosom X yang diturunkan pihak ibu. Bagian hipotalamus yang pada pria homoseksual berbeda secara struktural dari pria heteroseksual.
·         Orientasi homoseksual pada wanita besar kemungkinannya dipengaruhi oleh hormon androgen yang berlebihan terhadap otak janin selama dalam kandungan.
  • Faktor pengaruh lingkungan, pendidikan serta sosial budaya yang tadinya dianggap sebagai faktor penyebab primer, kini besar petunjuknya bahwa hal itu berperan dalam terjadinya:
  • Kondisi homoseksualitas yang egodistonik atau yang egosintonik, tergantung dari seberapa jauh individu homoseksual itu menginternalisasi sikap homofobik dari masyarakat, sehingga menimbulkan ada atau tidaknya konflik dalam dirinya.
Penatalaksanaan kini tidak ditujukan terhadap upaya mengubah orientasi homoseksual menjadi heteroseksual, melainkan:
  • Membantu mengubah kondisi egodistonik menjadi egosintonik.
  • Membantu mengubah (apabila ada) perilaku yang membahayakan kesehatan (misalnya penularan AIDS) menjadi perilaku yang lebih aman, bertanggung jawab bagi diri sendiri dan (kalau ada) terhadap pasangannya, serta (bila perlu) disesuaikan dengan nilai pribadi dari pasien, bukan berdasarkan nilai pribadi terapis.
  • Dalam skala luas, mengubah persepsi dan sikap homofobik dalam masyarakat (termasuk dalam sebagian kalangan terapis
Kelainan seksual ini telah melanda lapisan masyarakat. Bahkan teroganisir dengan kuat dan rapi. Jutaan masyarakat maju seperti di Amerika, Eropa sampai masyarakat miskin di berbagai kawasan kumuh terkena kelainan seksual ini. Kelainan seksual ini bercirikan masing-masing jenis merasa cukup dengan jenisnya sendiri. Maksudnya laki-laki senang mengadakan hubungan dengan laki-laki. Perempuan puas dengan perempuan.
Homoseksual dapat didefinisikan sebagai suatu keinginan membina hubungan romantis atau hasrat seksual dengan sesama jenis, jika sesama pria dinamakan gay sedangkan sesama wanita sebut saja lesbian.
Sebenarnya pengertian homoseksual itu meliputi 3 dimensi yaitu orientasi seksualnya yang ke sesama jenis, perilaku seksual dan juga tentang identitas seksualitas diri. Jadi masalah homoseksual bukan semata perkara hubungan seksual dengan sesama jenis semata.
Hal inilah yang seringkali membuat kita merasa najis dengan kaum homoseksual, karena berpikiran bahwa di dalam otak mereka hanya berisikan semata nafsu birahi dengan sesama jenis saja, padahal homoseksualitas itu mencangkup identitas diri sekaligus perilaku mereka juga.
Itu semua bukan dapatan semata dari faktor lingkungan, melainkan faktor genetik-lah yang membuat perkara ini menjadi sangat sulit. Memang ada jenis homoseksual yang terjadi karena dipicu faktor lingkungan semata, misalnya suasana dalam penjara yang merupakan populasi homogen serta di biara seperti skandal sodomi dalam gereja di USA. Homoseksual semacam ini sesungguhnya jauh lebih mudah ditangani karena hal tersebut tercangkup dalam segi perilaku semata, sementara segi identitas diri relatif masih normal (homoseksual situasional).
Dalam ilmu psikiatri, homoseksual yang dianggap sebagai suatu bentuk gangguan jiwa hanyalah homoseksual egodistonik. Homoseksual jenis ini bercirikan pribadi tersebut yang merasa tidak nyaman dengan dirinya dan tidak dapat menerima kenyataan orientasi seksualnya yang abnormal tersebut.
Akibatnya pribadi semacam ini dihantui kecemasan dan konflik psikis baik internal maupun eksternal dirinya. Homoseksual distonik memberikan suatu distress (ketegangan psikis) dan disability (hendaya, gangguan produktivitas sosial) sehingga digolongkan sebagai suatu bentuk gangguan jiwa.
Pribadi homoseksual tipe ini seringkali dekat depresi berat, akibatnya seringkali mereka mengucilkan diri dari pergaulan, pendiam, mudah marah dan dendam, aktivitas kuliah terbengkalai dan sebagainya. Homoseksual jenis inilah yang dicap sakit mentalnya dan memang harus diterapi. Di negara dengan budaya dan agama yang kuat seperti di negara kita, celakanya homoseksual jenis inilah yang mendominasi.
Kaum homoseksual di tanah air sulit untuk menerima kenyataan dirinya sebagai kaum abnormal seperti demikian, maka mereka sering menyembunyikan orientasi yang dicap salah dalam masyarakat tersebut. Represi semacam demikian akan berakibat gejolak negatif dalam dirinya sehingga tampil ke permukaan sebagai stress, depresi dan gangguan dalam relasi sosial. Mereka sering gagal dalam menemukan identitas dirinya ditengah ancaman cambuk agama dan budaya yang sedemikian kuat.
Kaum homoseksual lain justru dapat menerima apa yang ada di dirinya sebagai suatu bentuk hal yang hakiki. Pribadi semacam ini berani coming out atau menyatakan identitas dirinya yang sesungguhnya sehingga konflik internal dalam dirinya lepas. Kaum homoseksual ini dinamakan egosintonik, tidak dikatakan sebagai kelompok gangguan jiwa karena mereka tidak mengalami distress maupun disability dalam kehidupan mereka. Bahkan mereka yang sukses dengan coming out seperti demikian seringkali lebih produktif dan sukses dalam profesi mereka seperti misalnya perancang baju, penata rias dan rambut,dll.
Menjadi seorang dengan orientasi seksual ke sesama jenis sesungguhnya bukan semata pilihan pribadi homoseksual, melainkan itu merupakan kesalahan genetik. Kecenderungan itu sesungguhnya sudah ada sejak lahir namun baru naik ke permukaan setelah seorang individu masuk ke dalam fase sosial dalam tahap perkembangannya.
Bahkan seorang Sigmund Freud berani mengatakan bahwa pada setiap diri kita sebenarnya ada bakat untuk homoseksual, dan proses interaksi sosial dalam perkembangan selanjutnyalah yang menyebabkan bakat itu dapat muncul atau tertahankan.
Permasalahan jiwa pada pribadi homoseksual sebenarnya jauh lebih banyak terkait faktor eksternal dirinya atau berupa tekanan dari masyarakat. Mereka yang tidak berani coming out ke masyarakat akan dihantui konflik identitas diri seumur hidupnya sedangakn mereka yang memberanikan coming out tetap menghadapi resiko dicibir atau malah dikucilkan masyarakat.Jadi sebenarnya homoseksual itu lebih berupa ‘penyakit masyarakat’ ketimbang penyakit jiwa karena memang yang menimbulkan penyakit itu adalah perlakuan dari masyarakat sendiri.
Kaum homoseksual di Indonesia jumlahnya tidak sedikit, mereka ada di sekitar kita namun seringkali kita memang tidak tahu karena umumnya mereka termasuk yang memilih untuk non coming out karena takut akan ancaman sosial-agama dari masyarakat.
Sebagai catatan dari suatu survey dari Yayasan Priangan beberapa tahun yang lalu menyebutkan bahwa ada 21% pelajar SMP dan 35% SMU yang pernah terlibat dalam perilaku homoseksual. Data lain menyebutkan kaum homoseksual di tanah air memiliki sekitar 221 tempat pertemuan di 53 kota kota di Indonesia. Hal di atas menggambarkan bahwa jumlah kaum homoseksual tidaklah sedikit.
Bagaimanapun kita sebagai pribadi yang terpelajar hendaknya mau mengerti latar belakang kaum homoseksual, tidak semata merasa jijik atau malah menolak mereka. Tentunya Anda tidak bisa mengucilkan teman Anda yang berambut ikal karena memang gen-nya membawa sifat ikal seperti itu bukan?
Begitu pula homoseksual, bukan kemauan mereka untuk menjadi homoseksual, namun bedanya gen orientasi seksual semacam itu mencangkup pula segi perilaku social, bukan semata penampilan fisik seperti halnya rambut ikal. Dukungan sosial justru sangat dibutuhkan oleh kaum homoseksual, dengan demikian mereka dapat menemukan dan mengaktualisasikan identitas dirinya serta terbebas dari distress, dengan demikian mereka dapat tetap produktif dalam masyarakat.
Homoseksual harus dibedakan dengan gangguan transeksual (banci). Transeksual masih termasuk dalam gangguan jiwa jenis preferensi seksual. Bedanya yang mudah diantara keduanya adalah bahwa kaum homoseksual tidak pernah ingin mengganti jenis kelaminnya (misal dengan operasi plastik), tidak pernah berhasrat mengenakan pakaian lawan jenis (melainkan kebanyakan gay berpenampilan macho dan necis).
Selain itu kaum transeksual terutama memiliki dorongan untuk menolak jenis kelaminnya, dan mengingini jenis kelamin lawan jenisnya. Jadi pengertian transeksual lebih ke arah penolakan akan identitas dirinya sebagai seorang pria atau wanita, bukan menekankan kepada orientasi seksual (keinginan dengan siapa berhubungan seksual/membina relasi romantis).

Definisi yang lebih luas
Apa homoseksual itu?  Pertama, perhatikan kecenderungan homoseksual.  Ini adalah perasaan yang sangat besar terhadap daya tarik seksual dan emosi dari seseorang dengan sesama jenis kelamin.  Berpikirlah mengenai perasaanmu sendiri terhadap lawan jenis, baik secara menetap dan intensitasnya.  Hal seperti itulah yang dialami seorang kecenderungan homoseksual terhadap jenis kelamin mereka sendiri.  Puncak perasaan ini biasanya pada usia remaja (usia belasan tahun atau sebelumnya).  Seseorang tidak memilih memiliki perasaan seperti ini.  Banyak keluhan mereka yang bergumul, bahwa perasaan itu hadir begitu saja.
Sifat dasar yang sudah berjalan lama terhadap kecenderungan ini adalah kunci untuk membedakan apakah seseorang benar-benar tertarik dengan sesama jenis.  Kita harus membedakan antara mereka dengan kecenderungan heteroseksual yang mencoba bertindak homoseksual dan mereka yang kecenderungan tetap tertarik sesama jenis.  Jangan mengulangi kesalahan penelitian seks Alfred Kinsey selama 50 tahun, ia mengecap semua orang yang pernah berlaku homoseksual sebagai orang homoseksual.  Itulah sebabnya gambaran statistik membengkak yaitu 10% populasi Amerika adalah homoseksual.  Sebenarnya gambaran statistik lebih mendekati 1,5% hingga 3%.
Ada lagi yang menambah kebingungan hari ini yaitu banyak orang-orang muda yang mencoba biseksual.  Dalam beberapa lingkungan terdapat ketidakleluasaan meninggalkan jenis kelamin mereka, yang mana dianggap sebagai kesenangan.  Jadi kita akan bertemu dengan orang-orang yang bersetubuh dengan dua jenis kelamin.  Namun demikian homoseksual memiliki riwayat perasaan homoseksual dalam waktu lama dengan sediti hingga tidak ada sama sekali ketertarikan heteroseksual.
Reaksi:

0 komentar: