Sabtu, 25 Agustus 2012

KEBEBASAN MANUSIA MENURUT SARTRE


KEBEBASAN MANUSIA MENURUT SARTRE

Pendahuluan
            Manusia dalam hidupnya seringkali dihadapkan pada suatu pilihan, pilihan hidup yang dihadapi oleh manusia itu seringkali membuat ia merasa cemas apalagi ketika pilihan itu menyangkut hidup atau mati manusia itu sendiri. Akan tetapi kecemasan yang seringkali dianggap oleh manusia sebagai sesuatu yang negatif itu sebenarnya menunjukkan suatu kebebasan yang dimiliki oleh manusia, setidaknya hal inilah yang dikatakan oleh Sartre.
Jean Paul Sartre lahir di Paris pada tanggal 21 Juni 1905. Ayahnya perwira angkatan laut Prancis dan ibunya, Anne Marie Schweitzer, anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan dari Charles Schweitzer, seorang guru bahasa dan sastra Jerman di daerah Alasace.[1] Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1929 ia menjadi guru di sebuah sekolah menengah di Le Havre (1931-1933). Kemudian selama setahun ia belajar di Berlin. Sekembalinya dari Berlin ia mengajar di Laon dan Paris. Ketika perang dunia kedua ia masuk dinas militer dan menjadi tawanan perang selama setahun. Ketika ia berhasil meloloskan diri dari tempat tawanan pada tahun 1941, ia menjabat dosen lagi di Paris hingga tahun 1945.[2]
Olehnya, filsafat eksistensialisme menjadi tersebar luas hal ini disebabkan karena kecakapannya yang luarbiasa sebagai sastrawan. Ia menyajikan filsafatnya dalam bentuk roman dan pentas dalam bahasa yang mampu menampakkan maksudnya kepada pembacanya. Dengan demikian, filsafat eksistensialisme dihubungkan dengan hidup yang konkrit.[3]
Dalam buku Les Most (1964) (kata-kata), yang oleh banyak kritisi dianggap salah satu puncak dalam karya literer Sartre. Karya-karya dan hidupnya juga banyak dipengaruhi oleh Simone de Beauvoir, seorang mahasiswa filsafat di Universitas Sarbonne.
Diakhir tulisan ini penulis memberikan sedikit kesimpulan yang tentunya dikaitkan dengan kehidupan dunia dewasa ini.

Kebebasan Manusia menurut Sartreannya
 Manusia adalah kebebasan, kata Sartre.[5] Dengan mengatakan ini Sartre mau memberikan sebuah penjelasan kepada manusia bahwa dirinya adalah kebebasan itu sendiri. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa manusia dapat didefinisikan sebagai kebebasan. Dengan mengatakan demikian, Sartre hendak memberikan corak humanisme dalam pemikirannnya. Kebebasan bagi Sartre berarti menentukan sebuah pilihan dari sekian banyak pilihan yang lain. Manusia pada dasarnya bebas untuk mengadakan suatu pilihan atas jalan hidupnya sendiri tanpa harus didekte oleh orang lain.
Namum, kebebasan bukan berarti ”lepas sama sekali” dari kewajiban dan beban. Menurut Sartre, kebebasan adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan tanggung jawab, dan tidak bisa dipisahkan.[6] Dengan demikian, Sartre sebenarnya mau mengatakan bahwa sebenarnya kebebasan yang dimiliki oleh manusia itu, juga mengandaikan adanya suatu tanggangjawab. Dengan kata lain, kebebasan menuntut adanya suatu tangggungjawab. Tanggungjawab melekat pada kebebasan yang dimiliki oleh manusia.
Ia menggagas kebebasan untuk menegaskan idealismenya bahwa manusia adalah makhluk di mana eksistensi mendahului esensi, artinya manusia itu berada dulu baru ada. Konsep ini mengandaikan bahwa manusia itu pada awalnya adalah kosong dan tidak memiliki apa-apa. Tetapi, kekosongan itu kemudian diisi oleh karena kebebasannya untuk memilih.[7] Untuk lebih jelas dalam menggambarkan hal ini, dalam buku filsafat barat kontemporer karya K. Bertens, beliau menggambarkannya dengan sebuah  gelas. Gelas yang biasanya kita gunakan sebagai alat atau benda untuk minum mempunyai ciri-ciri tertentu. Si tukang yang membuat gelas itu sebelumnya sudah tahu apa yang akan ia buat. Gambaran itu mau menunjukkan tentang esensi dari beda itu.
Kebebasan manusia tampak dalam kecemasan. Kecemasan menyatakan kebebasan, seperti rasa muak menyatakan ada.[8] Dengan kecemasan ini dimaksudkan bahwa manusia ketika mengatakan “tidak” atau “ya”, itu seutuhnya bergantung pada manusia itu sendiri. Keputusan akhir ada dan ditentukan oleh manusia itu sendiri dan bukan ditentukan oleh orang lain, atau sesuatu yang lain di luar dirinya. Dengan kata lain keberadaannya (eksistensinya) bergantung pada dirinya sendiri. Keputusan untuk mengatakan tidak atau ya ini dapat ditentukan oleh manusia karena pada kenyataannya manusia dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya bila ia dihadapkan pada suatu pilihan. Dalam hal ini Sartre memberikan sebuah contoh yaitu ketika manusia dihadapkan pada suatu jurang. Manusia dapat menentukan pilihan dan keputusan bagi dirinya sendiri tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Manusia berhak memilih untuk tetap hidup, bila ia melangkah mundur dan menjauhi jurang atau mati bila ia mengambil keputusan untuk terjun ke jurang tersebut.  Dengan ini mau dikatakan bahwa keputusan yang akan diambil oleh manusia seluruhnya hanya bergantung pada dirinya sendiri.
Ada juga kecemasan yang menyangkut masa lampau. Sartre memberi contoh berikut ini. Seorang pemain judi telah mengambil keputusan tidak akan bermain judi lagi. Tetapi keesokan hari, ia berada lagi di tempat perjudian. Ia teringat akan keputusannya hari sebelumnya dan menginsafi bahwa “ketiadaan” memisahkan dia dari masa lampaunya.[9] Pada saat ini manusia harus memutuskan sebuah keputusan dengan seolah-olah ia tidak pernah mempunyai sebuah keputusan sebelumnya. Kecemasan muncul karena manusia merasa bahwa keputusan yang telah diambilnya itu ternyata tidak efektif bagi dirinya. Lebih lanjut ia merasakan kecemasan karena jangan-jangan keputusan yang akan diambilnya untuk selanjutnya tidak mempunyai fundamen yang kokoh. Keputusan dan tanggungjawab ada pada dirinya. Pada saat menentukan suatu pilihan bagi dirinya inilah terletak suatu kebebasan.
Sartre mengakui bahwa kecemasan ini jarang terjadi.[10] Kecemasan ini jarang terjadi pada manusia karena manusia disibukkan dan terhanyut oleh segala urusan-urusan dalam rutinitas hidupnya sehari-hari. Akan tetapi meskipun ia disibukkan oleh urusan-urusannya, pada suatu waktu tertentu manusia menyadari bahwa ia adalah pemegang keputusan dalam hidupnya dan hidupnya seluruhnya bergantung pada dirinya sendiri. Manusia menyadari bahwa ia sendirilah sumber segala nilai dan makna. Karena kesadaran bahwa ia merupakan sumber nilai dan makna bagi dirinya ada pada dirinya maka kecemasan timbul dalam hidupnya.
Kebebasan yang dimiliki oleh manusia ini dapat tidak dimiliki oleh manusia bila ia melarikan diri dari kecemasan yang dialaminya. Kecemasan dan kebebasan ini dapat disembunyikan oleh manusia ketika ia mengetahui dengan baik apa yang harus disembunyikan dan dijauhkan dari dirinya. Melarikan diri dari kebebasan dan menjauhkan diri dari kecemasan serentak juga berarti adanya kesadaran (akan) kebebasan, kecemasan, dan pelarian. 
Dengan demikian, manusia mengakui kebebasannya dan serentak menyangkal kebebasan itu. Sikap tidak otentik ini oleh Sartre disebut maufaice foi (bad faith; sikap malafide) dalam sikap malafide menjadi kentara kemungkinan bagi manusia untuk mengakui dan menyangkal apa yang dihayatinya.[11] Sikap yang tidak otentik ini menunjukkan bahwa manusia menipu dirinya sendiri.

Kesimpulan
          Setelah membahas secara singkat pemikiran yang digagas oleh Sartre, penulis ingin memberikan sedikit kesimpulan. Pandangan mengenai kebebasan manusia menurut Sartre memang merupakan pandangan yang dapat dikatakan ekstrim. Kebebasan yang digagas oleh Sartre mau mengatakan bahwa hanya manusialah yang memiliki kemampuan sebagai makluk yang berada.
Kebebasan manusia tampak dalam kecemasan. Kecemasan menyangkut diri saya sendiri dengan menyatakan bahwa eksistensi saya seluruhnya bergantung pada diri saya. Karena eksistensi manusia bergantung pada diri manusia sendiri, maka manusia sendirilah yang merupakan pengendali atas dirinya sendiri. Manusia adalah penentu satu-satunya bagi dirinya dalam mengambil setiap keputusan yang ada.
Disatu sisi pandangan Sartre ini memang memberikan hal yang positif pada setiap manusia. Dengan kata lain, Sartre memberikan suatu gagasan yang membuat manusia untuk tidak takut lagi dalam mengambil sebuah keputusan dalam hidupnya karena keputusan final hanya ada pada diri manusia itu sendiri. Apapun pilihan yang diambil oleh setiap manusia mengandaikan adanya suatu tanggungjawab atas dirinya sendiri.
Dewasa ini, mungkin banyak dari manusia lari dari kenyataan yang kerapkali membuat dirinya takut dalam mengambil keputusan, ia lebih baik lari dari kenyataan daripada harus dihadapkan pada sebuah pilihan yang menekan hidupnya. Karena tidak tahan dan tidak memiliki kemampuan serta keberanian yang besar atas dirinya, manusia kerapkali lari dari kenyataan. Selain itu, manusia juga seringkali bergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan. Akibat ketergantungan itu, banyak manusia tidak dapat memunculkan ke-ontetik-an (keaslian) dirinya. Diri manusia kerapkali “mengintil” orang lain. Ia tidak menjadi manusia yang mandiri, bahkan terombang-ambing.
Pemikiran yang digagas oleh Sartre tentang kebebasan ini, kiranya dapat membuka mata hati setiap manusia bahwa pada dasarnya manusia adalah pemegang kendali atau nahkoda bagi dirinya sendiri.
Akan tetapi pemikiran Sartre ini juga memberikan suatu ketakutan pada Penulis, karena dari pemikiran tentang kebebasan ini ataisme Sartre dimunculkan. Karena baginya seandainya Allah ada tidak mungkin dia bebas.
Bersambung dalam artiekel yang lain



[1] K. Bertens, Filasafat Barat Kontemporer Prancis (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), hlm. 81.
[2] Dr. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Knisius, 1980), hlm. 157
[3] Ibid
[4] Ibid
[5] Ibid. hlm 96
[6] (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0202/27/fea01.html.)
[7] Blasius B. Baene. Kebebasan Menurut Jean Paul Sartre
[8] Op. Cit. K. Bertens, hlm 97.
[9] Ibid. hlm 97
[10] Op.Cit, K. Bertens hlm. 98.
[11] Ibid. hlm. 98.
Reaksi:

0 komentar: