Minggu, 03 Juni 2012

DOGMA MARIA DIANGKAT KE SURGA DENGAN JIWA DAN BADANNYA


DOGMA MARIA DIANGKAT KE SURGA
DENGAN JIWA DAN BADANNYA

PENDAHULUAN
            Dogma Maria Diangkat dengan Jiwa dan Badannya ditetapkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950 dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus. Dalam kuasa Tuhan Yesus Kristus dan dalam terang Roh Kudus, Tahta Suci menetapkan dogma ini. Dogma ini lahir dari kepercayaan umat Kristen bahwa Maria adalah ciptaan Allah yang paling luhur. Keluhurannya tampak dalam tugasnya dalam melahirka Yesus, Putra Allah. Keistimeawaan Maria mengundang sebuah diskusi yang panjang mengenai keseluruhan hidupnya. Sejak ia dikandung hingga akhir hidupnya. Dogma Maria diangkat ke surga merupakan salah satu bentuk kepercayaan umat Kristen dalam mengimani akhir hidup Maria. Bahkan hidup Maria melahirkan devosi yang berkembang sangat pesat.

ISI
Kelahirannya
Lahirnya dogma ini merupakan buah iman umat. Umat sangat mengharapkan bahwa kepercayaan akan pengangkatan Maria ditetapkan sebagai ajaran resmi Gereja. Hal ini tampak dalam petisi yang diajukan ribuan umat di seluruh dunia dan  dari semua kalangan, dari para kardinal, dari uskup agung dan uskup, dari keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki. Selain itu, melalui studi oleh para teolog dan Kongres Maria nasional maupun internasional melahirkan sebuah titik terang bahwa pengangkatan Maria selaras dengan iman Kristen. Iman umat tampak melaui tanggapannya atas surat “Deiparae Virginis Mariae”. Umat memandang hak istimewa Maria sebagai kebenaran yang dinyatakan oleh Allah melalui Kristus. Allah menyatakan bahwa Maria adalah patner Kristus. Dan orang-orang yang dipilih oleh Roh Kudus menjadi uskup untuk memerintah Gereja Allah memberikan pernyataan positif terhadap surat tersebut.
            Gereja sebagai otoritas tertinggi menetapkan ajaran ini bukan hanya karena ‘desakan’ umat, tetapi karena dorongan Roh Kebenaran. Selain itu, dari berbagai kesaksian, tanda-tanda dari tradisi Gereja yang mengimani ajaran ini sudah ada berabad-abad lamanya dan semakin jelas dari hari ke hari hingga ditetapkan sebagai dogma.

Ajarannya
Maria sebagai Figur Anggota Gereja yang Sejati
Gereja mengakui Maria sebagai sosok yang bersinar di tengah-tengah seluruh anggota Gereja Kristus. Di tengah kekacauan yang menimpa dunia, Maria tampil sebagai pribadi yang berkenan di hadapan Allah.

Hak Istimewa Maria
Allah telah menganugerahkan tugas istimewa kepada Maria yakni keikutsertaan Maria dalam rencana penyelamatan Allah kepada manusia. Ia mengandung dan melahirkan Yesus Kristus yang telah lebih dahulu mengalahkan dosa dan kematian. Kedekatannya dengan Yesus membawa Maria pada keadaan yang serupa dalam kematian. Kepercayaan otoritas Gereja tertinggi akan Maria sebagai Perawan Bunda Allah menguatkan ajaran ini. Pengangkatan Maria adalah buah iman Gereja dunia, hal ini tampak dalam ramalan Simeon. Pengangkatan Maria adalah bentuk pemuliaannya atas keberhasilan hidupnya. Ramalan Simeon dilihat sebagai ujian bagi Maria bahwa ia akan menderita seperti ditusuk pedang dan Maria telah menyelesaikan ujian itu dengan gemilang yang berpuncak pada ‘berdiri’ di kaki salib Putranya, Penebus kita.

Keagungan Maria dalam Tubuh Gereja
Kehadiran Maria dalam kehidupan Gereja sangat terasa. Dengan pelbagai cara, umat menghormati Maria. Banyak gereja atau kapel yang tak terhitung jumlahnya yang didedikasikan kepada Maria dan kesaksian para kudus tentang Maria. Selain itu, begitu banyak kota, keuskupan dan tempat-tempat lain yang berlindung pada Maria yang diangkat ke surga. Dengan cara yang sama, banyak lembaga keagamaan, dengan persetujuan Gereja, didirikan dan mengambil nama ini. Juga usulan kepada Tahta Suci untuk menambahkan satu lagi peristiwa dalam Doa Rosario tentang pengangkatan Maria. Dalman buku-buku liturgi yang berhubungan dengan pestas pengangkatan Maria ke surga menunjukkan suatu kepercayaan tentang akhir hidup Maria. Setelah kematiannya, Maria di angat ke surga. Lalu, bagaimana mengenai tubuhnya? Dalam buku itu dikatakan bahwa sesuai dengan panggilan Maria sebagai Bunda Sang Firman yang menjadi daging, Allah menganugerahkan keistimewaan pada Maria meskipun mengalami kematian tidak seutuhnya tunduk pada hukum kematian. Hal ini juga diungkapkan oleh paus Adrianus I dalam suratnya kepada Kaisar Charlemagne. St. Yohanes Damaskus melihat keagungan Maria lewat kebersamaannya dengan Yesus. Maria pantas menerima anugerah ini karena ia menjaga keperawanannya ketika melahirkan Yesus. Ia pantas karena telah membesarkan Yesus dalam pelukannya dan memberi hidup dari darahnya. Ia pantas karena telah ikut menderita dengan Yesus hingga di bawah kaki salib yang menusuk hatinya. Dengan demikian, Maria pantas memiliki apa yang dimiliki Puteranya dan layak disebut Ibu dan Hamba Allah.

Kesaksian Anggota Kudus Gereja
            Pengangkatan Maria ke surga merupakan pengalaman iman Gereja. Pengalaman iman ini meresap dalam jiwa Gereja dan menerangi akal budi Gereja. Sehingga kebaktian ini bukanlah melulu bernuansa keadaan emosional Gereja. Para Bapa Suci dan teolog yang saleh dan handal serta anggota yang suci Gereja lainnya dengan berbagai cara telah melakukan pencarian dalam terang Roh Kudus.
            St. Germanus dari Konstantinopel mengungkapkan; “Maria adalah dia, yang muncul dari keindahan, yang tubuhnya perawan dan suci merupakan tempat kediaman Allah. Maka ia benar-benar dibebaskan dari pembubaran menjadi debu. Kehidupan manusiawinya menjadi kehidupan surgawi, sungguh hidup dan mulia, tidak rusak dan memiliki kehidupan sempurna.” Para teolog skolastik memandang pengangkatan Maria sebagai hak istimewa, yaitu Yesus sebagai anak yang berbakti pada  ibuNya menghendaki pengangkatan ibuNya, Maria. Dengan mengikuti jejak para Bapa Suci, mereka mengutip kata-kata pemazmur[1] untuk mengekspresikan pengangkatan Maria. Menurut meraka, wanita yang berselubungkan matahari yang maksud Rasul Yohanes di Pulau Patmos adalah Maria. Seorang teolog skolastik yang paling saleh, Amadeus (Uskup Lausarme) berpendapat bahwa daging Perawan Maria seluruhnya tetap utuh, karena ia telah bersatu ke dalam jiwanya dan keduanya dimahkotai dengan kemuliaan bersar dalam pengadilan surgawi.
            Selanjutnya, St. Antonius dari Padua menyatakan; “sama seperti Yesus Kristus yang menang degan bangkit dari kematian telah naik ke surga dan duduk di sisi kanan Bapa, demikian juga tabut pengudusanNya.” St. Albertus yang agung telah mengumpulkan bukti dari Kitab Suci, para penulis terdahulu, dan dari buku-buku liturgi menyimpulkan bahwa pengangkatan Maria adalah benar dan jelas. Misalnya, Maria adalah Hawa Baru, Maria adalah wanita yang penuh rahmat, dan lainnya. Pada abad XV, St. Bernardinus dari Siena mencoba mengumpulkan ajaran para teolog abad pertengahan dan tulisan-tulisan suci yang lainnya menemukan kemiripan antara Bunda Allah dengan Putera Allah dalam kaum dan kodrat mulia melarang kita untuk berpikir tentang Ratu Surgawi yang terpisah dengan Raja Surgawi.  Sebab, Maria ‘harus ada’ di mana Kristus berada.
      Masih banyak lagi para tokoh Gereja yang cemerlang dalam pikiran dan saleh hidupnya memberikan kesaksian tentang pengangkatan Maria ke surga. Seperti St. Robert Belarmine, St. Fransiskus de Sales, St. Alfonsus, St. Petrus Kanisius, dan seorang Mariolog agung yang bernama Suarez. Inti kesaksian mereka terletak besarnya peran Maria sebagai ibu dalam daging maupun peran sebagai orangtua. Pengangkatan Maria juga merupakan standar teologi kepantasan. Dogma Maria diangkat ke surga ditetapkan setelah melalui pengumpulan bukti-bukti dan pertimbangan yang matang oleh para Bapa Suci dan teolog. Semua itu bersumber dari tulisan-tulisan suci sebagai dasar utama, misalnya Kitab Suci dan orang-orang kudus Gereja.

PENUTUP
Sejak abad II, Bapa Suci memandang Perawan Maria sebagai Hawa baru, yang meskipun tetap tunduk pada Adam baru (Yesus Kristus), berjuang bersamaNya melawan musuh neraka seperti yang diramalkan para nabi. Maria dihormati sebangai Bunda Allah karena Yesus Kristus. Ia adalah pribadi yang dipilih Allah sehingga ia tanpa dosa ketika dikandung, tetap perawan setelah melahirkan, dan dimuliakan bersama Sang Penebus yang adalah Puteranya sendiri.
Dengan demikian, Gereja semesta, tempat Roh Kebenaran berdiam, menyatakan keyakinannya dengan mengajukan keputusan iman bahwa ajaran Maria diangkat ke surga adalah kebenaran yang berdasarkan Kitab Suci, yang telah berakar dalam hati dan pikiran umat beriman. Ini bukan ajaran baru. Konsili Vatikan mengajarkan bahwa Roh Kudus tidak dijanjikan kepada para pengganti Petrus untuk melahirkan ajaran baru tetapi atas wahyu dan bantuanNya menjaga dan menyampaikan wahyuNya serta ajaran para rasul yang merupakan kekayaan iman Kriten. Ajaran Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan badannya adalah salah satu kekayaan itu. Akhirnya, Gereja berharap melalui ditetapkannya dogma ini, iman umat semakin dikuatkan. Selain itu, pengangkatan Maria ke surga adalah gambaran pengangkatan umat Gereja yang menang sehingga Maria menjadi teladan umat agar umat juga mengalami pemuliaan seperti Maria.
Berkat doa-doa umat Gereja semesta dan atas dorongan Roh Kudus, Roh Kebenara dan bagi kemuliaan Allah Yang Mahatinggi yang mengaruniai Perawan Maria kehormatan PuteraNya, dan untuk sukacita dan kegembiraan seluruh Gereja; oleh otoritas Tuhan kita Yesus Kristus, Rasul Petrus dan Paulus yang agung, dan atas kuasa yang diberikan kepada pelayang Gereja yang dipilih Allah mengucapkan, menyatakan, dan menetapkan ajaran ini sebagai dogma: bahwa Bunda Allah yang tak Bernoda, Perawan Maria setelah menyelesaikan perjalanannya di dunia ini tubuh dan badannya di angkat ke kemuliaan surgawi.
Diberikan di Roma, pada Pesta Semua Orang Kudus oleh Paus Pius XII.
           


[1] Mazmur 132:8   “Bangunlah,  ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!”
Reaksi:

0 komentar: