Selasa, 29 Mei 2012

TEOLOGI KEMULIAAN ALLAH: SEBUAH ESTETIKA TEOLOGIS HANS URS VON BALTHASAR


TEOLOGI KEMULIAAN ALLAH: SEBUAH ESTETIKA TEOLOGIS HANS URS VON BALTHASAR

I.       Pengantar
Keilahian Allah yang tampak dalam kemuliaan-Nya membawa dan menghantar manusia pada permenungan teologis yang mendalam. Permenungan ini senantiasa membawa manusia pada transendensi diri pada kehidupan yang ilahi. Disinilah iman mulai bertumbuh, ketika setiap orang mulai mengkontemplasikan hidupnya pada keterarahan yang transendental.
Han Von Urs Balthasar adalah seorang teolog terkemuka pada zamannya. Pengalaman iman akan kehadiran Allah telah menghantarnya pada sebuah kontemplasi ilahi. Kehadiran Allah di dunia melalui Yesus Kristus, adalah perwujudan kemuliaan Allah bagi manusia. Inilah sebuah estetika teologis sebagaimana yang dimaksud Balthasar. Untuk sampai kepada pemahaman tersebut, menurut Balthasar, manusia harus senantiasa mengkontemplasikan dirinya agar ia mampu sampai pada pemahaman yang mendalam akan karya Tuhan bagi dunia dan manusia.
Dalam paper ini, akan diuraikan beberapa pemikiran teologis Von Balthasar yang merupakan buah-buah permenungan atas karya Allah yang tampak dalam alam semesta. Fokus utama pembahasan ini berkenaan dengan estetika teologis Balthasar yang dirangkum dalam tujuh jilid (volume) bukunya yang berjudul “Kemuliaan Allah” (The Glory of God). Selain itu, juga dituliskan riwayat hidup, karya, dan latar belakang pemikirannya secara singkat sebagai pendahuluan.

II.    Riwayat Hidup[1]
Hans Urs Von Balthasar lahir di Lucerne, Swiss pada tanggal 12 Agustus 1905. Ia mendapat pendidikan dasar di lembaga Yesuit Stella Matutina, Feldkirch, Austria, lalu kemudian belajar di Wina, Berlin dan Zurrich. Dalam masa pendidikan ini, Balthasar dididik oleh para Pastor Benediktin dan Jesuit. Dia menyelesaikan disertasi doktoralnya yang berjudul “History of the Eschatological Problem in Modern German Literature” di Universitas Zurich dengan summa cum laude dan memperoleh gelar doktor dalam kesusteraan Jerman[2].
Pada tahun 1929, Von Balthasar bergabung menjadi anggota Ordo Jesuit, dan ditahbiskan pada tahun 1936. Setelah ditahbiskan, dia ditugaskan untuk berkarya di Basel sebagai pastor mahasiswa. Pada tahun 1950 ia meninggalkan Jesuit dan memutuskan untuk mendirikan institute secular, sebuah bentuk hidup bakti yang berusaha untuk bekerja demi pengudusan dunia, terutama ‘pengudusan dari dalam’. Ia bergabung dengan keuskupan Chur. Pada tahun 1988, Yohanes Paulus II mengangkatnya untuk menjadi Kardinal, ia meninggal dirumahnya di Basel pada tanggal 26 juni 1988 dan dimakamkan di pemakaman Hofkirche di Lucern.

III. Karya-karya[3]
            Hans Urs Von Balthasar sangat terkenal dengan karya analitiknya atau teolog Reformasi Protestan Karl Barth, “The Theology of Karl Barth: Exposition and Interpretation” (1951) yang mendapat pujian tinggi dari Karl Barth sendiri. Selain itu, ia juga sangat dikenal dari ke enam jilid buku karyanya, yang dihimpun menjadi trilogi gugusan teologi sistematik:
1.      The Glory of The Lord[4], 7 jilid; merupakan hasil kontemplasi atas kebaikan, keindahan dan kebenaran Allah, sehingga dikategorikan sebagai karya estetika teologis.
2.      Theo-Drama: Theological Dramatic Theory, 5 jilid; hasil renungan tentang tindakan Allah dan tanggapan manusia; mengembangkan teori soteriologi, kristologi, dan eskatologi. [5]
3.      Theo-Logic, 3 jilid; renungan mengenai hubungan kristologi dengan ontologi.
4.      Epilog: melengkapi gugusan karya teologi sistematik ini
            Boleh dikatakan bahwa trilogi teologis ini merupakan puncak pemikiran Balthasar. Dalam triloginya, Balthasar menguraikan tentang dogmatika Kristiani dalam hal estetika, kebaikan dan kebenaran berdasarkan sifat platonis yang memahami ADA (being) sebagai sesuatu yang indah, yang baik, dan benar. Balthasar menegaskan bahwa tidak ada refleksi atas kebenaran wahyu Kristen sampai hal tersebut diwujudkan dalam aksi yang sungguh-sungguh, dan seorang Kristen tidak akan pernah merasa terpanggil untuk melakukan kebaikan tanpa menerima wahyu ilahi yang dirasakan sebagai keindahan. Bagi Balthasar, wahyu merupakan pengungkapan keindahan Tuhan. Oleh karena itu, Balthasar memulai karyanya dengan estetika teologisnya.
            Balthasar juga menulis tentang kehidupan orang-orang Kudus dan Bapa Gereja. Orang Kudus tampil sebagai contoh dari kehidupan orang Kristen yang hidup sepanjang sejarah Gereja lewat tulisan-tulisannya. Selain analisis sistematis dari teologi, Balthasar menggambarkan teologinya sebagai “teologi berlutut” yang secara mendalam. Teologi tersebut berhubungan dengan doa kontemplatif dan sebagai suatu “teologi yang duduk”, yang secara khusus berhubungan dengan iman yang mencari pengertian dan dibimbing oleh hati serta pikiran dari Gereja Katolik.
            Balthasar memiliki warisan abadi sebagai salah satu teolog katolik yang paling penting dan berpengaruh pada abad ke-20. Kebanyakan, tetapi tidak semua, tulisan utamanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan juga ditulis dalam jurnal yang ia dirikan bersama dengan Henri de Lubac, Walter Kasper, dan Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI), yaitu Communio, yang saat ini ditampilkan dalam dua belas bahasa, termasuk Arab. Dalam menyampaikan pidatonya, Ratzinger mengutip de Lubac, yang menyebut Balthasar, “Barangkali ia adalah orang yang paling berbudaya dan berpengetahuan tinggi di zaman kita”, sebagai bentuk penghormatan kepada pengetahuan dan pemikiran cemerlang Balthasar. [6]

IV.  Gagasan Pemikiran

A.     Gagasan Kristologi
Kristologi Von Balthasar dikenal dengan istilah Teologi Perutusan. Menurut Balthasar, revelasi Allah tidak hanya menyangkut objek yang dipandang, melainkan berupa aksi dan tindakan sehingga muncullah interaksi antara Allah dan manusia. Interaksi antara tindakan Allah dan manusia menciptakan drama ilahi. Drama Ilahi ini melibatkan Allah dalam kebebasannya yang tanpa batas dengan manusia yang kebebasannya terbatas dan Yesus Kristus sebagai utusan Allah. Menurut Balthasar, jika Yesus adalah komunikasi-diri Allah dalam daging (verbum caro), maka seruan pengabaian Yesus dari  kayu salib adalah komunikasi dari ke-sendiri-an Allah dalam dan bagi diri-Nya. Dalam Mysterium Paschale, Balthasar mengatakan bahwa dalam perutusan ini, “kekosongan” Kristus diwakili oleh keheningan sabtu suci. “Pada saat inilah Anak Allah menjelma menjadi manusia” (MP,49).
Oleh sebab itu, pada pribadi Yesus Kristus terdapat kesinambungan[7] antara ada-Nya, perutusan-Nya dan tindakan-Nya. Secara ontologis, Kristus diutus dan perutusan-Nya identik (sama) dengan pribadi-Nya. Dengan demikian, Kristus menjadi Tokoh Utama (protagonista) dan sekaligus menjadi aktor dalam Drama Ilahi. Dalam karya perutusan Yesus Kristus, manusia dapat menjadi bagian (menjadi aktor) dalam drama ilahi yakni menjadi persona pribadi jika ia terlibat di dalamnya. Menurut Balthasar, manusia mampu mengambil bagian dalam perutusan Kristus berkat Roh Kudus yang tinggal di dalam diri-Nya.

B.     Konsep tentang Trinitas
Hans von Balthasar mendekati misteri Trinitas pada dua sudut pandang, yakni sudut monopersonal[8] dan sosial[9]. Menurut Balthasar makna “pribadi” dalam pernyataan bahwa Allah itu satu pribadi, harus berbeda artinya dalam kalimat bahwa Ia tiga pribadi. Dalam pandangan Von Balthasar, setiap makhluk insani merupakan individu (yang dilawankan dengan kekolektifan dari masyarakat sosial) dan subjek mental (yang dilawankan dengan benda mati dan makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan). Menurutnya, makhluk insani dapat menjadi seorang pribadi jika memperoleh suatu martabat yang melebihi individualitas dan subjektivitas mental dengan menghindarkannya dari keterjatuhan ke dalam individualisme dan atau keloktivisme.
Von Balthasar menjelaskan martabat dalam dua cara. Pertama, secara kristologis dan antropologis. Manusia dapat menjadi pribadi, berkat perutusan. Hal ini berlaku pada Pribadi Yesus Kristus. Kristus itu Pribadi karena diutus seluruhnya oleh Bapa. Kedua, dalam Teologi Trinitaris, Pribadi didefinisikan sebagai Diri lewat penyangkalan diri, yakni memberikan segala sesuatu yang dimiliki kepada yang lain. Oleh sebab itu, dalam konsep Teologi Trinitaris Von Balthasar, dikenal pembedaan antara Trinitaris Ekonomis dan Trinitaris Imanen. Trinitaris ekonomi adalah Trinitas sejauh ketiga pribadi keluar untuk berkomunikasi dengan manusia dan menyelamatkan manusia, Trinitaris Imanen adalah Trinitas sejauh dalam diri-Nya sendiri. Menurut Balhasar, perutusan Putera adalah sisi ekonomis dari Putera oleh Bapa dan pencuarahan Roh Kudus kepada Gereja dalam Trinitas Imanen. Artinya bahwa intra-ilahi (Allah dalam Trinitas Imanen) adalah prasyarat bagi pengosongan diri (kenosis)[10] Putera, baik dalam inkarnasi maupun peristiwa salib. Bapa telah terlebih dahulu mengalami kenosis, dan karenanya Bapa memberikan keilahian kepada Putera (bdk Yoh 17:10)

C.     Gagasan Eklesiologi
Eklesiologi Balthsar adalah eklesiologi yang berhaluan communio.[11] Dalam pemikirannya, Gereja dipandang sebagai suatu societas yang bersatu karena ikatan cinta kasih yang mengalir dari Tritunggal yang Maha Kudus (Bapa, Putera, dan Roh Kudus) kepada semua anggota tubuh mistik Kristus (umat Alah)
Gereja sebagai communio atau “persekutuan” (menurut Balthasar) tumbuh dan hidup dalam satu Roh, yakni Roh Kudus. Balthasar percaya bahwa dalam communio ini, seluruh umat Allah disatukan dan dibangun berdasarkan persekutuan cinta kasih ( Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Oleh sebab itu, Gereja tidak lagi memegang kekuasaan dan kekuatan temporal seperti yang pernah diklaim oleh para Paus pada beberapa dekade sebelumnya. Gereja (baik hierarki maupun awam), menurutnya, bersama-sama membangun sebuah communio (persekutuan, persaudaraan) yang dilandasi oleh cinta Tritunggal Maha Kudus yang menjadi dasar bagi kesatuan ini.[12]

D.     Tentang Kekatolikan[13]
“Kekatolikan bukanlah hanya sebagai yang satu di antara yang banyak, namun kekatolikan adalah anugerah Allah, yang diberikan secara bebas, hanya satu, yang tidak terbatas ruang lingkupnya.”[14]
Pemahaman Balthasar tentang kekatolikan didasarkan pada kehadiran universal Allah Tritunggal (Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Menurutnya, Allah Bapa mengutus Putera-Nya di dunia ini untuk menyelamatkan semua bangsa tanpa terkecuali. Demikian pula rahmat Roh Kudus yang dicurahkan melalui Putera-Nya, diperuntukkan bagi semua orang dalam segala waktu dan zaman. Dengan demikian, dalam urainnya tentang kakatolikan termuat gagasan keselamatan bagi seluruh manusia tanpa terkecuali.

E.      Tentang Cinta dan Rahmat
Cinta digambarkan Balthasar lewat penyerahan diri Yesus yang tanpa batas bagi manusia. Menurut Balthasar, cinta ini terwujud dalam tindakan Yesus yang taat pada perintah Bapa-Nya sampai mati di salib. Dengan sengsara dan wafat-Nya di salib, Ia membiarkan diri-Nya menjadi tak berdaya dan memberikan diri secara utuh pada kehendak Bapa-Nya. Dalam Kristus kita menemukan cinta yang nyata antara manusia dan Tuhan. Cinta yang ditunjukkan oleh Yesus ini pada akhirnya mau menunjukkan kepada kita tentang sebuah penyerahan diri yang total, di mana Yesus itu mati bukan bagi manusia yang mencintainya, tetapi ia mati untuk menebus dosa manusia. [15] inilah sebuah rahmat yang tak terkira dari Allah bagi manusia.
Cinta Kristus menjadi ukuran kedalaman cinta seorang Kristiani. Menurut Balthasar, sebagai seorang Kristen kita wajib melayani saudara-saudara kita tanpa menghitung jasanya. Allah telah mencintai kita tanpa batas dengan menyerahkan Putera-Nya hingga wafat di kayu salib. Mencintai adalah sebuah bentuk keterlibatan bersama Allah di dalam dunia. Menurut Balthasar, hanya dengan dan melalui cinta, kita dapat menjadi ragi bagi dunia sekular saat ini. Inilah sebuah bentuk Kristiani yang otentik.


F.      Keindahan Teologis (Estetika Teologis) Von Balthasar[16]
Estetika teologi Von Balthasar terangkum dalam ke tujuh volume bukunya yang berjudul Kemuliaan Tuhan (The Glory of the Lord: A Theological Aesthetics [Herrlichkeit:Eine Theologische Asthetik, Ger.]. Estetika Teologisnya ini terbagi dalam tiga bagian yakni: Bagian Pertama meliputi volume I: seeing the form (melihat bentuk), meliputi volume II: clerical Styles, dan volume III: Lay styles yang diberi judul studies in theological styles (Gaya berteologi) dan Bagian Kedua meliputi volume IV: The Realm of Metaphysics in Antiquity, dan volume V: The realm of Metaphysics in the Modern Age yang diberi judul The realm of methaphysics (alam metafisik), dan Bagian Ketiga meliputi volume VI: Theology: The Old Covenant  yang diberi judul Theology (Teologi).
Dalam pembahasan ini, hanya diambil beberapa pemikiran penting yang beliau ajarkan dan menjadi titik utama dalam penjelasan berkaitan dengan estetika teologi. [17] Konsep dan pemahaman yang diuraikan Balthasar dalam estetika teologinya menyangkut persoalan tentang yang baik, yang benar, dan yang indah, yang berasal dari Allah; yang benar berasal dari wahyu ilahi yang dianugerahkan bagi manusia, yang baik berupa sikap dan wujud (aksi) kontemplasi manusia dalam menerima wahyu ilahi dan, yang indah adalah kemuliaan Allah, yang terpancar melalui wahyu ilahi, yang dianugerahi kepada manusia dan yang diperoleh lewat kontemplasi.

                                            i.         Dari Teologi Keindahan ke Estetika [18]: Keindahan Kemuliaan Ilahi
Perkembangan yang pesat dalam filsafat teologi telah menghantar para filsuf dan teolog pada pemahaman yang mendalam akan estetika (keindahan). Sejak zaman Plato, Aritoteles, Agustinus hingga Thomas Aquinas, keindahan dipahami dalam ranah teologis yakni keberadaan Sang Ada dalam kaitannya dengan alam semesta beserta isinya.[19] Abad-abad awal hingga abad pertengahan dapat dikatakan sebagai kemenangan dan kejayaan estetika karena dalam permenungan ini, orang dibawa sampai kepada pusat dan tujuan utama dari segala yang ada.
Dalam abad modern, permenungan teologis akan keindahan semakin memudar. Penyebabnya adalah munculnya gerakan-gerakan yang cenderung menempatkan manusia sebagai subjek sentral bagi segala yang ada dan yang bergerak di bumi. Realitas dipahami sebagai jelmaan dari pikiran manusia, sehingga manusialah yang menentukan ada atau tidaknya realitas.[20] Kemampuan manusia untuk memahami alam semesta dijadikan sebagai patokan dalam menyusun sebuah teori termasuk pemahaman akan keberaadan Allah. Konsep ini pada akhirnya mengaburkan makna keindahan sebagaimana yang dipahami oleh pemikir sebelumnya, yakni keindahan bukan hanya dalam hubungannya dengan manusia, dengan segala keberadaanya, tetapi juga meliputi Penciptanya yang memberikan segala kemampuan bagi manusia dalam memahami semesta alam yang luas ini.
Gerakan yang cenderung mematikan konsep estetika ini, mendapat perhatian dari Von Balthasar yang ingin menghidupkan kembali pemahaman manusia akan adanya estetika teologis yang melampaui estetika duniawi-manusia sebagaimana yang dipahami dalam filsafat. Estetika teologis Balthasar bukanlah sebuah teologi yang estetis atau teologi yang secara khusus mendalami tentang keindahan sebagaimana yang dipahami dalam filsafat.[21] Menurutnya, estetika filosofis abad modern yang cenderung mendefinisikan keindahan dalam konsep duniawi-manusia, yang lewat kemampuan inderanya, mencerap segala sesuatu, sehingga dapat dikatakan bahwa ini indah dan atau ini tidak indah, dapat menghapus dan sekaligus mengeliminasi konsep keindahan ilahi sebagaimana yang dipahami oleh para teolog abad sebelumnya. Oleh sebab itu, Balthasar membedakan antara teologi keindahan sebagaimana yang didefinisikan oleh para filsuf modern berkenaan dengan pemahaman akan keindahan dengan estetika teologis seperti yang ia (Balthasar) pahami. Keindahan yang dimaksud Balthasar, bukanlah keindahan sebagaimana yang dipahami dan dimaksudkan budaya seni, melainkan keindahan yang melekat pada pernyataan (kemuliaan) diri Allah sendiri lewat inkarnasi Putera-Nya ke dunia.
Menurut Balthasar, ketika Allah menyatakan diri, Allah menyatakan kebenaran- kebenaran-Nya kepada manusia. Dalam pernyataan diri Allah kepada manusia ini, Allah tidaklah menyatakan kebenaran- kebenaran-Nya yang melampaui roh manusia. Oleh sebab itu, keindahan (estetika) teologis dipahami oleh Balthasar sebagai pewahyuan Allah kepada manusia lewat Putera-Nya, dan melalui rahmat Roh Kudus, manusia dimampukan untuk menerima karunia Roh tersebut di dalam dirinya, sehingga ia mampu melihat gambaran alam sebagai ekspresi dari Imajinasi Ilahi yang melibatkan diri secara penuh di dalamnya.[22] Dengan demikian, di dalam semuanya ini, kita bisa menemukan yang baik, yang benar, dan yang indah sebagai yang berasal dari Allah sendiri.

                                          ii.         Bentuk (form) Wahyu Ilahi[23]: Sebuah Kebenaran yang Objektif

Bentuk (wujud) wahyu ilahi alah tema utama estetika teologi Von Balthasar karena menurutnya, bentuk (wujud) wahyu merupakan kesaksian mulia dari tubuh ilahi yang ada di dunia ini.[24] Manusia memiliki banyak persepsi (pandangan) berkenaan dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Alam ciptaan (baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak), makhluk hidup, dan jagad raya ini menampilkan aneka persepsi dalam penilaian manusia terhadapnya. Menurut Balthasar, pikiran manusia mampu melihat aneka persepsi duniawi tersebut lewat suatu bentuk (forma) yang utuh yang merupakan kesatuan dari semua elemen duniawi. Balthasar menyebut kesatuan ini dengan istilah bentuk (form, eng; Gestalt, ger.). Bentuk mengacu pada kehadiran nyata, yang penuh dan utuh, yang mencakup seluruh diri, bukan hanya sekedar gambaran imajinasi dari sesuatu, atau juga bukan simbol yang menggambarkan tentang sesuatu yang diwakili.
Dalam merumuskan tentang bentuk wahyu ilahi ini, Von Balthasasar mengacu pada penyair Goethe. Menurut Goethe, bentuk (wujud) dapat dirasakan dan dialami seseorang ketika ia terpesona oleh alam, yang merupakan ekspresi dari imajinasi ilahi. Dalam pengertian Goethe, bentuk tidak lagi menjadi sebuah konsep yang dinilai secara estetis, seperti bentuk bunga yang indah dan sempurna, tetapi, bentuk (in se) telah menjadi kategori estetika dalam dirinya sendiri. Maksudnya adalah bahwa bentuk mengacu dan berada dalam kualitas alam yang dalam dirinya sendiri karena mengacu pada yang ilahi.[25] Oleh sebab itu, untuk masuk dalam penjelajahan yang lebih dalam tentang alam yang merupakan pancaran dari yang ilahi. Menurut Goethe, manusia harus masuk dalam sebuah kontemplasi intelektual (intellectual contemplation) untuk memahami hakekat dari benda-benda yang ada dalam jagad raya ini.[26]
Menurut Balthasar, bentuk paling nyata dari wahyu ilahi dalam estetika teologis adalah Yesus Kristus. Yesus Kristus, dalam inkarnasi-Nya di dunia, tidak mengacu pada Bapa, tetapi Ia menyajikan Bapa sendiri (Yoh 14:9). Artinya bahwa Yesus bukanlah tanda atau simbol dari Bapa tetapi Yesus sendiri adalah bentuk (forma) dari Bapa dalam sejarah hidup manusia yang real. Hal ini juga berlaku dalam Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium Gereja, yang menampilkan Yesus Kristus sebagai tokoh utama pewartaan. Baginya, peran Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium Gereja, dalam peran mereka sebagai mediasi dan kesaksian dari Wahyu Ilahi, tidak hanya menjadi referensi bagi peristiwa Yesus Kristus tetapi juga adalah pemimpin dan sekaligus realisasi dari misteri keselamatan.[27] Menurut Balthasar, kemuliaan Allah Bapa yang terpancar lewat kehadiran Putera-Nya di dunia ini adalah sebuah estetika teologis yang sempurna, yang melampaui aneka bentuk apapun dalam jagad semesta. Kehadiran ini merupakan totalitas kehadiran ADA yang Absolut bagi manusia dan alam semesta. Kehadiran ini, dipahami Balthasar sebagai bentuk objektif kehadiran wahyu ilahi dalam dunia.


                                        iii.         Pengalaman Subjektif Iman: Sebuah Bentuk Kebaikan yang Otentik
Dalam estetika teologis ini, Balthasar membedakan konsep bentuk (Form, forma) dengan gambar (image), karena bentuk lebih menjangkau kualitas isi sedangkan gambar hanya berupa tampilan lahiriah (luar) dari konsep yang diwakili. Manurut Balthasar, bentuk (form) adalah sebuah konsep estetika teologis karena termuat di dalamnya ide teologis seperti pada wahyu dan inkarnasi. Konsep bentuk berasal dari kualitas isi dari yang mutlak, yang termuat di dalamnya totalitas dari yang absolut ini. Yesus Kristus menampilkan serta memuat kualitas dan totalitas dari Allah sebagai yang absolut. [28]
Menurut Balthasar, untuk dapat memahami isi dari bentuk (form) ini, pertama-tama manusia harus terbuka terhadap sesuatu yang tampak yang ditampilkan lewat alam semesta. Lewat pemahaman ini, muncullah aneka persepsi dari manusia yang oleh Balthasar disebut dengan persepsi kemuliaan ilahi. Menurutnya, manusia dapat melihat kemuliaan ilahi yang hadir dalam dan melalui bentuk ini lewat persepsi manusia dari bentuk-bentuk yang berada di dalam dunia seperti lewat alam, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan juga sesama, sejauh dunia dan isinya merupakan teofani dari kemuliaan ilahi. Dia melihat bahwa keindahan duniawi yang dilahirkan (hadirkan) oleh ciptaan merupakan ekspresi dari bentuk ilahi yang dinyatakan baginya. Oleh sebab itu, keindahan cahaya ilahi memancar dari bentuk keindahan duniawi. Bentuk wahyu ilahi yang hadir di dunia ini, hendaknya dikontemplasikan secara mendalam dan penuh agar menjadi sebuah bentuk yang indah meskipun tidak terlihat secara lahiriah. Dalam hal ini berlaku doktrin analogi karena pada dasarnya tidak ada keindahan dunia ini yang dapat diidentifikasikan dengan kemuliaan ilahi Allah.
Konsep bentuk dari estetika teologis Balthasar ini, menunjukkan kebertautan antara objektivitas (bentuk objektif wahyu ilahi dalam diri Kristus) dan subjektivitas pemahaman manusia akan wahyu ilahi. Estetika teologis Balthasar pada dasarnya menekankan sisi pasif-reseptif manusia dalam mengamati bentuk wahyu ilahi. Namun, di sisi lain, ia juga mempertimbangkan kemungkinan subjek manusia untuk tidak hanya menerima wahyu ilahi, tetapi juga menanggapi dan berbicara tentang hal itu.
Oleh sebab itu, Balthasar membedakan lima realitas dalam pengalaman subjektif iman yang membuat manusia bisa melihat dan menanggapi wahyu ilahi. Kelima realitas tersebut meliputi: Dunia, Gereja, Liturgi, Sesama,  dan  Doa. Kelimanya dirangkum sebagai berikut:
1.      Dunia
Yesus Kristus dilihat dalam kacamata iman sebagai pusat dari semua gambar di dunia. Dia adalah gambar dari semua gambar. Seluruh gambar (image) yang berada dan ada di dunia ini dipahami melalui Yesus Kristus yang hadir dalam dunia. Lewat kehadiran Yesus Kristus di dunia, manusia mampu memahami dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah, gambar Allah yang sempurna. Dunia memberikan gambaran kepada manusia akan kehadiran ilahi dalam setiap ciptaan lewat kehadiran Yesus Kristus.
Menurut Balthasar, jika Kristus adalah penampakan Allah di dunia, maka kehadiran-Nya bukan untuk kelompok agama tertentu atau bagi individu tertentu, tetapi kehadiran-Nya universal bagi seluruh manusia. Kehadiran Kristus juga melampaui waktu, tempat dan sejarah hidup manusia. Kristus hadir dahulu, sekarang, dan akan datang. Untuk percaya dan memahami kehadiran wahyu ilahi dalam diri Yesus Kristus tidaklah penting apakah seorang saksi mata yang pernah hidup dalam sejarah Yesus Kristus, melainkan dunia dan alam semesta telah memberikan persepsi bagi manusia untuk membuka diri, lewat pernyataan imannya, akan kehadiran Allah dalam hidupnya. Realitas penciptaan yang ada dalam dunia ini adalah gambaran kehadiran nyata Allah dala dunia, yang juga dipahami lewat peristiwa inkarnasi Yesus Kristus.
2.         Gereja

Menurut Balthasar, tidaklah cukup jika setiap individu hanya melihat Kristus sebagai gambar di antara gambar yang lain. Kristus juga menyatakan diri di dunia dalam koherensi gambar yang membentuk wajah Gereja. Bagi Balthasar, Kristuslah yang membentuk dan mendirikan Gereja sehingga daripada-Nya memancar cahaya yang menyinari semua yang berada di dalamnya. Melalui Gereja, umat beriman mampu melihat terang dan wahyu ilahi yang memancar dari Allah melalui Putera-Nya.

3.      Liturgi

Melalui Gereja, manusia merasakan gerak ilahi Kristus yang dirayakan melalui perayaan liturgi. Gerakan ini dirasakan melalui Firman yang diucapkan dan melalui sakramen. Firman dan sakramen hadir dalam liturgi. Sakramen bukan hanya sebuah simbol, tetapi juga sebagai bentuk yang mengungkapkan rahasia wahyu ilahi dalam diri Kristus.

4.      Sesama
Menurut Balthasar, ada satu gambar yang sempurna yang juga mewakili kehadiran Allah di dunia yakni sesama. Lewat sesama, seseorang dapat melihat penebus-Nya, yang adalah sesama bagi semua orang. Iman dapat diperteguh lewat perjumpaan dengan sesama. Menurutnya, kasih terhadap sesama adalah penampilan dari kasih Allah kepada manusia. Dalam perspektif kristiani, cinta bukanlah sebuah wujud (bentuk) yang semu, melainkan menampilkan sebuah tindakan nyata dalam mengasihi sesama.
5.      Doa

Pada akhirnya bentuk dari wahyu ilahi ini dapat dirasakan dalam doa dan kontemplasi. Melalui doa dan kontemplasi, manusia dihantar menuju iman yang sejati akan Yesus Kristus. Dalam doa, Allah menyentuh fantasi dan imajinasi manusia sehingga setiap pengalaman diarahkan untuk menuju transendensi diri yang sejati dalam Yesus Kristus (bdk Mat 5:48).
Dengan menyebut lima persepsi subjektif iman ini, Balthasar mencoba untuk menjelaskan kemungkinan manusia untuk menerima wahyu ilahi. Melalui cara ini, ia mempercayai bahwa akan terjadi kontinuitas antara iman alkitabiah dengan pengalaman iman sehari-hari. Menurutnya, iman tidak hanya dihayati lewat kontemplasi yang agung dan mistik akan kitab suci, tetapi dapat dijumpai pula dalam dan lewat pengalaman hidup manusia.


V.      Refleksi Kritis (relevansi bagi gereja Katolik Indonesia

Alam teologis selalu menyesuaikan diri dengan lokus kontekstual lewat suatu budaya tempat ia berkembang. Indonesia sebuah negara  berwajah pluralis, tentunya mempunyai lokus teologinya sendiri dalam karya pewartaan keselamatan Allah bagi umat manusia Indonesia. Ke-kompleks-an suku, budaya, agama, dan adat istiadat membuat Gereja perlu untuk menyesuaikan diri agar dapat terus berkarya dalam tugas pewartaan keselamatan Tuhan di dunia Indonesia.
Estetika teologis Von Balthasar menawarkan sebuah ‘ideologi’ baru yakni bagaimana memahami iman akan Yesus Kristus, yang ditujukan untuk memperoleh keselamatan, dalam pergulatan hidup sehari-hari lewat aneka bentuk kehadiran yang berada di dalam dunia. Wajah pluralitas menggambarkan bagaimana kehadiran Gereja bukan pertama-tama dan terutama membentuk sebuah kesatuan eksklusif dalam gereja, tetapi menghadirkan karya keselamatan ini bagi semua orang, tidak terkecuali bagi mereka yang berbeda haluan dengan kita. Gereja mempunyai kewajiban untuk menghantar setiap orang pada aneka bentuk keselamatan. Inklusivitas Gereja tidak hanya terbatas pada perayaan sakramen-sakramen demi keselamatan umat beriman khususnya, tetapi juga hadir lewat pewartaan cinta kasih Allah kepada sesama, terutama mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, kemuliaan Allah sebagaimana yang dimaksudkan Balthasar dalam estetika teologisnya, dapat memancar bagi semua orang yang berada di dunia ini.
Relevansi pemikiran dan refleksi Balthasar bagi Gereja Katholik di Indonesia ini, akan diuraikan dalam dua bagian. Bagian pertama, relevansi bagi pengembangan ke dalam Gereja (lewat liturgi dan perayaan sakramen-sakramen) lalu yang kedua relevansi bagi karya pewartaan keselamatan Gereja Katolik Indonesia dalam masyarakat pluralis.

A.   Relevansi bagi Perkembangan Intern Gereja

                                            i.         Bagi Hierarki Gereja Katolik Indonesia
Gereja Katholik memiliki warisan kekayaan iman yang melimpah. Kita bisa melihat hal tersebut lewat aneka perayaan liturgi dan sakramen-sakramen yang sudah diwariskan sejak ribuan tahun yang lalu. Warisan ini tentu bukan dimaksudkan sebagai ajang pamer kekayaan Gereja sehingga merasa diri lebih superior dibandingkan lembaga keagamaan lainnya. Warisan iman, yang adalah sarana ini, dimaksudkan agar umat beriman dapat menghayati membawa pada transendensi diri ilahi untuk memahami misteri Allah leawat manusia yang terbatas ini.
Akan tetapi, disadari atau tidak, warisan iman yang kaya ini, sedikit demi sedikit mulai tergerus arus perkembangan tekhnologi sehingga menjadi kurang diminati. Dominasi tekhnologi yang sedemikian rupa membuat orang lebih tertarik untuk mengejar ‘keselamatan’ lewat perkembangan ilmu pengetahuan hasil rekayasa tekhnologi. Keselamatan pada akhirnya hanya dihayati pada ranah dan locus hidup duniawi tanpa melibatkan lagi kehadiran yang ilahi. Menyikapi keadaan yang sudah terlanjur ini, Gereja harus menghidupkan dan menggerakkan lagi warisan iman ini agar tidak tinggal sebagai museum kenangan yang dilupakan. Gereja harus berusaha untuk menghidupkan kembali perayaan liturgi dengan meninggalkan segala bentuk kekakuan dan kecenderungan ‘otoritarian’ agar sungguh-sungguh mengena di hati umat.
Menarik bahwa Balthasar menyatakan bahwa Gereja dapat mengubah, menambah dan atau menghapus praktik-praktik liturgis yang sesuai maupun yang tidak sesuai, asalkan tidak berbelok dari tujuan awal dan dasar dari perayaan ini, yakni untuk menjunjung tinggi kemuliaan nama Tuhan dalam diri Yesus yang hadir sebagai kepala Gereja. Dengan demikian, unsur objektif dari wahyu ilahi dapat dipahami dan juga sejalan dengan pengalaman subjektif iman manusia, suatu pemahaman akan ketakterbatasan dari bentuk yang terbatas.
Gereja Indonesia, khususnya hierarki, dalam usaha untuk mewartakan keselamatan Kristus di tengah-tengah umat, hendaknya juga menyesuaikan diri dengan perkembangan umat dalam konteks zaman saat ini. Dalam dunia yang serba modern dengan aneka tawaran yang menggiurkan, ada kecenderungan dalam umat untuk menghamba pada apa yang ia senangi. Selain itu, hiruk pikuk saat ini, membuat umat mencari bentuk ‘hiburan’ dan kepuasan yang dapat memuaskan serta menyentuh sisi afeksi sehingga bentuk-bentuk perayaan dalam Gereja kurang diminati karena dirasa kaku dan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan rohani dan spiritual. Oleh sebab itu, Gereja perlu membuka diri terhadap aneka kebutuhan dan kerinduan umat akan bentuk-bentuk yang sesuai dengan kondisi mereka. Gereja tidak harus membentengi diri karena takut bahwa apa yang diwartakan bertentangan dengan Tradisi. Dalam pewartaan keselamatan ini, Gereja Katolik di Indonesia harus menjadi wadah keselamatan yang menghantar umat menuju bahtera yang sejati dalam persatuan dengan Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Salah satu dari sekian banyak hal yang dapat dilakukan adalah perayaan liturgi dan sakramen yang beriringan dengan budaya lokal umat setempat sehingga umat dapat menghayati kehadiran nyata Tuhan melalui bentuk-bentuk tradisi yang ia pahami.[29]
Gereja juga harus mampu membawa dan menghantar umat pada kedalaman kontemplasi kasih ilahi. Lewat aneka keindahan ilahi sebagaimana yang dipahami oleh Balthasar yakni suatu kehadiran yang memancar lewat realitas alam kehidupan yang adalah cerminan dari yang ilahi itu sendiri. Hanya saja, umat perlu diarahkan pada tujuan esensial dari perayaan tersebut, yakni agar umat semakin mengenal, memuji, dan mengagungkan Penciptanya, yang telah memberikan segalanya bagi hidupnya. Akan tetapi, yang tidak kalah penting adalah hendaknya hidup para gembala Gereja memancarkan cerminan wajah Allah yang suci dan ilahi, penuh kemuliaan dan keagungan, di tengah pergolakan dunia dengan aneka tawaran yang menggiurkan dan terkadang juga bisa menyesatkan.

                                          ii.         Bagi Umat Beriman

Pesan Balthasar juga kontekstual bagi hidup umat beriman masa kini. Perkembangan modernitas menawarkan aneka bentuk kenikmatan duniawi yang (sepertinya) melampaui batas iman. Saat ini, keselamatan kerap direduksi pada materi-materi yang kelihatan, pada perkembangan tekhnologi yang bahkan mengalahkan kecepatan dalam lingkaran kemapanan duniawi sehingga pengakuan iman akan Yesus Kristus hanya tinggal sebagai wacana.
Bagaimana pun, agama tetap mengajarkan nilai-nilai keselamatan yang harus dicapai manusia untuk memperoleh hidup yang kekal. Perkembangan dunia memang terkdang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang ditawarkan dalam ajaran iman dan agama. Namun dengan iman, kita yakin dunia juga membantu kita untuk mengerti dan menyelami secara mendalam misteri Allah yang besar dan agung dalam dunia semesta ini. Karya Allah yang dahsyat ini dapat kita selami dengan iman, seperti kata Balthasar, yang diwujudkan lewat kontemplasi.
Ditengah carut-marut dunia yang telah diracuni oleh hedonisme, materialisme, sekularisme, dan sebagainya, kita tetap mempunyai penawar yang mengobati kita dari racun dunia ini. Namun, itu tidak serta merta kita peroleh dengan instan tetapi memerlukan perjuangan iman yang melelahkan, untuk bisa sampai pada tingkat tertinggi hidup kita. Gereja melalui gembala umatnya, selalu bersedia menghantar kita sampai mencapai keselamatan yang dari Allah. Kini tergantung dari kita, apakah kita rela dan bersedia dibimbing untuk bisa sampai kepada Allah. Oleh sebab itu, umat beriman hendaknya memiliki keterbukaan hati untuk menerima kehadiran Allah dalam pengalaman hidup sehari-hari. Salah satu cara terbaik adalah tetap berpegang teguh pada keyakinan iman kita agar tidak tergoyahkan.

                                        iii.         Relevansi Bagi Pewartaan Keselamatan Gereja Katolik Dalam Alam Pluralisme Indonesia
Estetika teologis Balthasar juga relevan bagi karya pewartaan keselamatan Gereja Katolik Indonesia yang hidup dalam alam pluralisme. Bagaimanapun Gereja tetaplah wadah keselamatan bagi semua orang tanpa disekat oleh perbedaan suku, agama, rasa, dan antar golongan (bdk. Mat 28:20). Dalam karya pewartaan keselamatan ini, Gereja tidak harus memaksa setiap orang untuk mengakui dan membenarkan ajarannya, tetapi Gereja dapat bertindak sebagai sarana keselamatan lewat sikap terbuka dan dialogis.
Gereja haruslah menjadi pembawa damai dan cinta kasih kepada semua orang dengan mengelupas perbedaan-perbedaan yang cenderung merugikan. Kesatuan dalam Kristus harus dijadikan dasar untuk tetap bersatu meskipun pada akhirnya dihadapkan pada aneka perbedaan yang memiliki keyakinan dan kebenarannya masing-masing.
Selain itu, Gereja harus melihat orang-orang yang berada di luar persekutuannya sebagai sesama yang juga mampu menghantarnya pada kedalaman kontemplasi bahwa sesamaku adalah gambaran Allah yang sempurna, yang hadir dalam dunia, yang membantu untuk mengerti keagungan, kemahakuasaan dan keilahian sang Pencipta.
Dengan demikian, Gereja Katolik tidak hanya menjadi sebuah lembaga yang bergerak di dalam dan memikirkan kelangsungan hidup anggota-anggotanya, tetapi menjadi sebuah lembaga religius yang menghantar semua orang pada keselamatan, dengan tetap terbuka pada tawaran keselamatan yang diajarkan dalam budaya, adat-istiadat, dan agama lain.

VI.    Penutup
Hans Urs Von Balthasar, walaupun sering disebut sebagai ‘Teolog keindahan’, tidaklah secara jelas mendefinisikan konsep keindahan atau mengembangkan teori keindahan. Ia hanya menyatakan bahwa Bapa-bapa Gereja khususnya pada zaman skolastik abad pertengahan memberikan keindahan dalam status transenden. Namun, dalam teologi modern, pernyataan seperti ini menjadi bermasalah karena sesuatu yang tidak mengalami realitas secara menyeluruh tidak dapat dikatakan sebagai yang indah, atau baik dalam hal ini. Jika indah memang dianggap sebagai karunia dan oleh karena itu benar-benar independen dari persepsi manusia, maka setidaknya kita harus mengakui bahwa persepsi manusia sering tampaknya tidak cukup untuk menerima karunia ilahi.
Namun menurutnya, jika teologi mengabaikan status transendental dari keindahan, maka teologi tidak lagi menganggap dunia sebagai wilayah di mana roh ilahi sedang bekerja. Dengan demikian manusia dan alam semesta akan kehilangan statusnya sebagai ciptaan karena tidak ada lagi yang dapat menjelaskan dari mana manusia berasal. Oleh sebab itu, lewat estetika keindahannya ini, Balthasar mengajak kita semua untuk memaknai hidup kita di dunia ini dalam kaca mata transendental sehingga pemahaman ini mampu menghantar kita pada pemahaman yang ilahi akan kehadiran kita di dunia. Alam ciptaan memberikan gambaran kepada kita betapa agung dan ilahinya Pencipta, Sang Maha dari segala yang ada di dunia ini. Dengan demikian, kita mampu memaknai hidup kita dalam hubungannya dengan dunia, sesama, dan alam semesta.


















KEPUSTAKAAN
Buku
Dister, Nico Syukur, Dr. OFM, Teologi Sistematika I, Yokyakarta:Kanisius, 2004.
Suryanto, Stefanus, Rm.CP Lic, Diktat Eklesiologi 1 historis, Malang: Widya sasana, 2010
Von Balthasar, Hans Urs, The Glory of The Lord: A Theologogical Aesthetics, Translated by Erasmo Leiva-merikakis, Joseph Fessio , SJ and John Riches (eds.), Vol 1, Edinburgh: T&T.Clark, 1982.
Internet
http://en.wikipedia.org/wiki/Hans Urs von Balthasar, di akses Kamis 24 Februari 2011.
http://www.lasalle.edu/~garver/bio.htm, di akses Kamis 24 Februari 2011.
http://www.joelgarver.com, diakses Minggu 20 Februari 2011.
http://catholiceducation, diakses minggu 20 February 2011.
http://www.communio-icr.com, diakses minggu 20 February 2011.


[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Hans Urs von Balthasar, di akses Kamis 24 Februari 2011
[2] http://www.lasalle.edu/~garver/bio.htm, di akses Kamis 24 Februari 2011
[3] Meskipun tidak dijelaskan secara detail di sini, baiklah kami sertakan juga beberapa teolog dan juga mungkin filsuf yang berpengaruh pada pemikiran Balthasar dalam menyusun traktat teologinya. Mereka adalah Erich Przywara yang merupakan guru Balthasar yang berpengaruh dalam pemikirannya tentang analogia entis (ada), Henry de Lubac (professor teologi Von Balthasar), Karl Barth (tokoh yang menjadi rujukan dalam disertasinya yang membahas tentang teologi dogmatik), dan para Bapa Gereja dan Teolog (Agustinus, Irenaeus, Origenes, Gregory dari Nyssa, Bonaventura, Anselmus, Pseudo-Doynisius dan Maximus Confessor), yang juga memberikan konstribusi bagi pemahaman teologinya. Bdk. http://www.joelgarver.com, diakses Minggu 20 Februari 2011.
[4] Judul asli Herrlichekeit: Eine Theologische Asthetik (Kemuliaan:Sebuah Estetika Teologis) yang dibagi dalam tujuh jilid sebagai berikut • Volume I: seeing the form • Volume II: clerical Styles • Volume III: Lay styles •Volume IV: The Realm of Metaphysics in Antiquity • Volume V: The realm of Metaphysics in the Modern Age • Volume VI: Theology: The Old Covenant •Volume VII: Theology: The New covenant
[5] Theodramatik (drama Ilahi) ini dibagi dalam lima jilid sebagai berikut: • Volume I: Prolegomena • Volume II: Dramatis Personae • Volume III: Dramatis Personae • Volume IV: The Action • Volume V: The Last Act.
[7] Terjemahan dari coincidence (koinsidensi:kejadian yang tidak disengaja)
[8] Paham Trinitarisme monopersonal (Karl Rahner dan Karl Barth) mengatakan bahwa tiga persona (yang diterjemahkan pribadi) dalam Tradisi Gereja tidak sama artinya dengan tiga Pribadi atau diri dalam arti modern karena pemahaman pribadi dalam arti modern (person, ing.) cenderung jatuh pada paham Triteisme. Menurut paham ini, Allah Tritunggal tidak dapat berdiri dari tiga pribadi atau tiga subjek. Allah hanya mempunyai Satu; Aku bukan tiga, satu kehendak, satu wajah, satu sabda, dan satu karya. Allah itu satu pribadi dalam tiga cara berada. Cara berada yang rangkap tiga itu, berkaitan erat dengan pewahyuan dan “keterwahyuan”. Teolog yang menganut paham ini adalah Karl Barth dan Karl Rahner. (Dr. Nico Syukur Dister, OFM, Teologi Sistematika I, Yokyakarta:Kanisius, 2004, hlm., 165-169).
[9] Manurut paham Jurgen Moltman dan Wolfhart Panenberg, sejarah Trinitas merupakan sejarah tiga Subjek dalam hubungan persekutuan satu sama lain. Moltman berbicara terang-terangan tentang tiga Subyek yang secara intim dan intensif berhubungan. Wolfhard Penenberg mengatakan bahwa Bapa, Putera, dan Roh Kudus digambarkan sebagai tiga penampakan dari satu medan dan kekuatan yang diidentifikasi sebagai cinta kasih. (ibid.)
[10] Dalam hal ini juga dimaksudkan sebagai bentuk penyangkalan diri Kristus.
[11] Rm. Stefanus Suryanto, PC Lic, Diktat Eklesiologi 1 Historis, Malang: Widya sasana, 2010,hlm.69.
[12] http://catholiceducation, diakses minggu 20 February 2011
[13] http://www.communio-icr.com, diakses minggu 20 February 2011.
[14] “The universal (catholic) community is not just one among many. Bestwedon us by God, freely given, it is the only one that is unrestricted in scope.”
[15] Pada umumnya kita hanya ingin berkurban bagi orang yang kita cintai dan yang mencintai kita. Namun Yesus tidak sebatas pada orang yang mencintai-Nya tetapi secara khusus bagi orang-orang yang berdosa. Hal inilah yang membuat cinta Kristus itu menjadi penuh atau total.
[17] Kami tidak akan memberikan penjelasan mengenai isi dan rangkuman dari seluruh jilid (volume) bukunya karena tidak memungkinkan. Dalam waktu yang singkat dapat dipahami seluruh isi dari bukunya yang terdiri dari 7 volume ini. Apa yang diuraikan disini hanyalah rangkuman umum dari seluruh isi bukunya yang berjudul “Glory of Lord” terlebih konsep utama dari estetika teologisnya yang merangkum semua tulisannya dalam ke tujuah volume bukunya.
[18] Hans Urs Von Balthasar, The Glory of The Lord: A Theological Aesthetics, (Translated by Erasmo Leiva-Merikakis, Joseph Fessio, SJ and John Riches (eds.), Vol, I Edinburgh: T&T Clark, 1982, P.79
[19] Pandangan Plato tentang keindahan dibagi dua. Menurut pandangan pertama, yang indah adalah benda material, umpanya tubuh manusia, tampak pada saya. Lebih jauh lagi, yang lebih indah daripada itu adalah jiwa lalu yang paling indah adalah idea. Adapaun pandangan kedua, bahwa yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana, umpamanya nada yang sederhana, warna yang sederhana. Pandangan keindahan Aristoteles agak dekat dengan pandangan kedua Plato, keindahan menyangkut keseimbangan dan keteraturan ukuran, yakni ukuran material. Pandangan ini berlaku untuk benda-benda alam maupun untuk karya seni buatan manusia. Agustinus mengatakan bahwa keindahan berdasarkan atas kesatuan dan keberaturan yang mengimbangi kompleksitas. Masing-masing cara mengatur ini adalah melalui ritme, simetri atau proporsi-proporsi sederhana (perbandingan ukuran yang enak dilihat). Teolog lain yang terkenal adalah Tomas Aquinas (1225-1274) yang menulis mengenai esensi dari keindahan. Rumusannya yang terkenal adalah “keindahan berkaitan dengan pengetahuan”. Sesuatu disebut indah jika menyenangkan mata si pengamat, namun di samping itu terdapat penekanan empiris pengamat. Hal yang selalu mencolok adalah kondisi dan sikap terhadap subjek keindahan, persiapan individu untuk memperoleh pengalaman estetik. Selanjutnya, ia berpikir bahwa keindahan adalah hasil dari tiga syarat: keseluruhan atau kesempurnaan, keselarasan yang benar dan kejelasan atau kecemerlangan.
[20] Dalam estetika teologinya ini, Balthasar mengkritik tiga gerakan dalam sejarah modern teologi Kristiani, yang ia lukiskan sebagai bentuk penyangkalan terhadap estetika teologis pada tempat yang sebenarnya. Ketiga gerakan tersebut adalah: 1). Estetika filosofis modern, yakni gerakan idealisme Jerman yang dipelopori oleh Immanuel Kant dengan idealisme transendentalnya 2). Penghapusan estetika protestan dari teologi, sebagai akibat dari gerakan Lutheran sehingga mengeliminasi sakramen- sakramen dalam Gereja Katolik sebagai sarana keselamatan agar manusia dapat sampai pada Allah, dan 3). Hermeneutika alkitabiah Gereja Katolik dan metode historis kritis yang menurutnya cenderung menafsirkan hal-hal secara lahiriah dari Kitab Suci. Gerakan-gerakan ini jugalah yang kemudian melahirkan ide brilian yang digagas dalam triloginya. (Hans Von Balthasar, op.cit, hlm 80.)
[21] Dalam filsafat, keindahan didefenisikan sebagai sesuatu (hal-hal) yang dapat dicerap dengan indera atau cerapan indera. Estetika (keindahan) membahas hal yang berkaitan dengan refleksi kritis terhadap nilai-nilai atas sesuatu yang disebut indah atau tidak indah. Keindahan lebih dipahami dalam unsur objektif dan subjektifnya. Terkadang, ditegaskan juga bahwa keindahan itu adalah keindahan yang terdapat dalam seni. Keindahan dalam seni mempunyai hubungan erat dengan kemampuan manusia menilai karya seni yang bersangkutan untuk menghargai keindahannya. Kemampuan ini dalam filsafat terkenal dengan istilah cita rasa (taste). Cita rasa menurut perumusan Kant diartikan sebagai kemampuan mental untuk menilai suatu benda atau suatu macam gagasan dalam hubungannya dalam kepuasan atau ketidakpuasan tanpa adanya suatu kepentinganapapun. Benda yang mengakibatkan kepuasan tersebut adalah indah. Sedangkan dalam filsafat modern, keindahan, dilihat dari pandangan seniman dan rasionalitas yang terdapat di dalam keindahan tersebut. Menurut Leon Baptista Alberti, untuk menemukan keindahan karya seni, haruslah dapat mengamati keselarasannya dan dituntut memiliki “cita rasa keindahan”. (http://pastipds.blogspot.com/2010/10/10/keindahan-dalam-filsafat.html, diakses tanggal 21 February 2011).
[22] http://www.wordtrade.com/religion/christianity/Balthasar, loc.cit. (pernyataan ini tidak memaksudkan bahwa manusia adalah objek yang pasif-reseptif dalam menerima karunia Roh).
[23] Tidak ada terminologi yang tepat untuk menerjemahkan kata form ini (sebenarnya masih ada yakni wujud atau rupa atau lebih tepatnya forma). Akan tetapi pemahaman lebih lanjut mengenai form ini akan dibahas di atas. Bentuk Wahyu Ilahi (The form of Divine revelation) menjadi tema sentral dalam estetika teologis Balthasar).
[24] The form of revelation is the main theme of Balthasar’s theological aesthetics because it is the glorious evidence of divine agency in the world.
[25] Sebagai contoh sekuntum mawar. Mawar secara lahiriah dapat dikatakan indah jika berwarna cerah, segar, mekar, dan semerbak. Ini adalah konsep filosofis filsafat modern dimana sesuatu dapat dikatakan indah jika dapat dicerap oleh indera. Namun, dalam estetika teologis, mawar in se indah dari dirinya sendiri karena menggambarkan imajinasi dari yang Ilahi itu sendiri, mendahului hal lahiriah yang terlihat oleh indera.
[26] Von Balthasar juga menguraikan tentang konsep bentuk menurut Kant, tetapi melihatnya secara bertentangan. Kant menafsirkan bentuk sebagai jembatan antara objek akal budi murni dan praktis. Menurut Kant, manusia lewat akal budinya dengan sendirinya sudah mempunyai konsep tentang keindahan itu sendiri. Saat berjumpa dengan pengalaman praktis, manusia dihadapkan pada dua kenyataan yang indah dan yang tidak indah menurut penilaian akal budinya, bukan dari objek itu sendiri.
[27] Balthasar menyebut mereka sebagai bukti (kesaksian) objektif dari peristiwa inkarnasi Yesus Kristus.
[28] The form of Jesus offers itself to view only within these contexts, which for the eyes of faith are not seperable from himself since they stand in a most intimate ontological connection with the form thas is beheld. (Hans Urs Von Balthasar, op.cit.198.)
[29] Dengan bentuk-bentuk pembaharuan semacam ini, tidak dimaksudkan bahwa Gereja tidak memiliki pendiriain yang tegas berkenaan dengan ajaran keselamatan (seperti yang diajarkan dalam Tradisi) yang ia ajarkan sehingga sepertinya cenderung ‘mengalah’ pada budaya. Bentuk pembaharuan ini adalah semacam upaya Gereja agar karya keselamatan Allah tetap dapat dipahami dalam konteks hidup saat ini karena menurut Balthasar, kehadiran dan pewahyuan diri Allah melampaui segala waktu dan zaman.
Reaksi:

1 komentar:

yosef dian mengatakan...

Terimakasih banyak yah bro, karena saya sudah terbantu untuk menyelesaikan skripsiku.

sukses selalu dalam melanjutkan karya tulismu ini
Tuhan memberkati