Kamis, 17 Mei 2012

PENTINGNYA MEMAHAMI MAKNA BAHASA TUBUH


Pengantar
Pembahasan tentang bahasa tubuh merupakan salah satu dari dua dimensi mendasar perkawinan sebagai sakramen.[1] Sebagai sakramen, perkawinan menampakkan misteri agung Allah. Misteri itu diungkapkan melalui  bahasa tubuh. Paus Yohanes Paulus II merefleksikan sakramen perkawinan bukan berarti hanya merefleksikan satu sakramen dari tujuh sakramen Gereja tetapi keseluruhan sakramen. Bahkan, sakramen perkawinan adalah prototipe untuk semua sakramen Gereja. Sakramen perkawinan adalah model untuk mengerti keseluruhan misteri penyelamatan Allah terhadap manusia. Sebab, tujuan sakramen ialah menyatukan pengantin wanita (Gereja) dengan pengantin pria (Kristus), dan memenuhi GerejaNya dengan hidup Ilahi. Berkaitan dengan bahasa tubuh, Paus membahasnya dalam 16 ceramah yang berlangsung sejak tanggal 5 Januari1983 sampai 4 juli 1984.[2] Tulisan ini mencoba memahami gagasan teologis Paus Yohanes Paulus II tentang bahasa tubuh.

Konsep Bahasa Tubuh
Sebelum mendalami lebih lanjut gagasan teologis Paus tentang bahasa tubuh, perlu memahami konsep dasar. Menurut Paus, tubuh manusia berbicara. Tubuh mengungkapkan seluruh kebenaran dan makna perkawinannya. Kebenaran itu ialah panggilan untuk mencintai sebagaimana Kristus mencintai dengan memberikan diriNya. Panggilan ini telah ditentukan oleh Allah, Sang pencipta dari awal mula penciptaan. Mereka telah dipanggil oleh Allah untuk menunjukkan realitas Ilahi dalam dan melalui tubuh.
Inilah kebenaran terdalam dari keberadaan pribadi manusia sebagai perempuan dan laki-laki. Kristus sendiri adalah model dalam hal ini. Kristus memberikan tubuhNya dengan bebas (Yoh 10:18), total (Yoh 13:1), setia (Mat 28:20), dan berbuah (Yoh 10:10). Kebenaran itu hanya dapat diungkapkan secara penuh melalui tubuh.[3] Bahasa yang cocok dengan kebenaran ini ialah hubungan intim suami-istri. Hubungan ini menunjukkan cinta Ilahi (Agape).[4] Lebih lanjut, Paus menegaskan bahwa hubungan ini menunjukkan cinta Kristus kepada Gereja. Jean Vanier menegaskan ide Paus ini. Tindakan saling memberikan diri yang total antara laki-laki dan perempuan diungkapkan dalam persetubuhan. Tindakan ini menggambarkan hubungan antara Kristus dengan Gereja (Bdk. Ef 5:25;31-32).
Di sini, jelas bahwa orang Kristen tidak menolak persetubuhan dan seks. Sebaliknya, seks dipandang sebagai sesuatu yang sangat indah dan dihidupi secara penuh hanya dengan kesetiaan untuk bersatu di antara mereka selamanya. Kesetiaan ini didirikan atas perjanjian setiap manusia dengan Allah.[5] 

Isi dan Dasar Dari Persatuan Suami-Isteri[6]
Tindakan persetubuhan dalam perkawinan memiliki nilai yang sangat mendasar. Tindakan itu mengungkapkan dua pribadi yang saling memberikan diri. Tindakan ini tidak dapat dilepaskan dari pasangan. Ketika tindakan ini dipisahkan, maka tindakan itu bukanlah dasar kesatuan bagi mereka.[7]  Itulah sebabnya, keberadaan tindakan persetubuhan itu perlu dipahami secara baik. Paus memulai analisisnya tentang tindakan ini melalui pemahamannya tentang janji perkawinan. Baginya, unsur yang sangat penting dalam liturgi perkawinan ialah janji perkawinan. Paus mengatakan:
“ I take you as my wife, I take you as my husband.” These words are the centre of the liturgy of marriage as a sacramental of the church. The words spoken by the engaged couple are inserted in the following formula of consent “ I promise to be faitful to you always, in joy and in sorrow, in sickness and in health, and to love and honor you all the days my life.” With these words, the engaged couple enter the marriage contract and at the same time receive the sacrament of which both are the ministers.[8]

Dengan mengucapkan kata-kata ini, pasangan calon pengantin tersebut memasuki janji perkawinan, dan pada waktu yang sama mereka melaksanakan sakramen. Janji tersebut diungkapkan di hadapan para saksi yaitu imam dan umat Allah. Tetapi, janji yang mereka ucapkan itu belum diungkapkan secara penuh di dalam realitas. Hal itu hanya diungkapkan secara penuh melalui hubungan suami-isteri. Bagi Paus, panggilan manusia untuk menjadi satu daging merupakan rencana awali Allah bagi manusia. Paus mengutip Kej 2:24 yang berbunyi “Karena itu, seorang laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya, dan bersatu dengan isterinya, dan mereka menjadi satu daging.”[9]
Dengan mengucapkan janji perkawinan, pasangan menjadi “seseorang” bagi yang lain. Orang memberikan dirinya bagi orang lain sebagai pemberian. Diri mereka adalah pelayan bagi pasangannya. Tindakan suami-isteri yang mereka lakukan mengungkapkan tanda pemberian diri melalui seks mereka. Lebih jauh, Paus menegaskan bahwa janji perkawinan itu akan diungkapkan lagi dan dihidupi dengan cara yang sangat unik dalam kehidupan mereka sehari-hari. Unik karena hubungan suami-istri mendapat tempat yang istimewa. Mereka tidak hanya sebagai dua pribadi yang bersahabat. Keduanya adalah orang-orang yang terpilih, orang dipilih dari hati mereka masing-masing. Mereka adalah orang-orang yang saling mempercayakan diri dalam persetubuhan. Mereka menjadi satu daging, satu hati.[10]
Mereka mengungkapkan maksud untuk menjadi satu daging itu pada tahap intelektual, kehendak, kesadaran, dan hati. Sehingga, kata-kata “Saya mengambil kamu sebagai isteriku/suamiku,” secara tidak langsung menjadi bahasa tubuh yang tidak dapat diulang, bersifat kekal, dan unik. Pada waktu yang sama, janji perkawinan tersebut mendasari niat mereka untuk menjadi satu daging.  Hal ini diungkapkan dengan kata-kata “Saya berjanji untuk selalu setia padamu, dalam suka dan duka, sehat dan sakit, dan mencintaimu, dan hormat padamu sepanjang hidupku.” Dengan demikian, mereka (laki-laki dan perempuan) menjadi “pemberian” bagi yang lain. Mereka saling memberikan diri dengan cara yang tidak dapat diubah. Inilah tanda yang kelihatan dari perjanjian manusia dengan Allah dalam Kristus. Sebagai suami-isteri, mereka menunjukkan tanda ini dengan keseluruhan hidup mereka, dan tetap menjadi tanda sampai mereka mati.[11]

Dasar biblis
Dasar-dasar penjelasan tentang bahasa tubuh ditemukan dalam kitab suci Perjanjian Lama. Secara khusus, Paus menemukannya dalam kitab-kitab para Nabi.[12] Di sana, ditemukan analogi-analogi tentang suami-isteri. Analogi tersebut dapat dibagi dalam dua yaitu perjanjian antara Allah dan Israel, umat pilihanNya sebagai perjanjian antara suami-isteri (Ams 2:17;Mal 2:14). Perjanjian ini berasal dari inisiatif Allah, Tuhan Israel. Dengan memilih Israel, Allah bersatu dengan umatNya melalui cinta dan Rahmat. Ia diikat oleh ikatan yang sangat personal. Kedekatan ini diungkapkan oleh Nabi Yesaya (bdk. Yes 54:5,10). Dengan demikian, Yahweh adalah Allah Israel tetapi juga menjadi suaminya.[13] Kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama menghadirkan ketuhanan Yahweh secara absolut. Di sini, ditemukan dimensi yang mengagumkan, yaitu hubungan suami-isteri. Dengan cara ini, ketuhanan Yahweh yang absolut menjadi cinta yang absolut. Konsekuensinya, suatu pelanggaran tidak hanya melanggar hukum, tetapi ketidaksetiaan, dan  menusuk hati Allah. Tindakan ini adalah tindakan yang secara langsung menusuk hati Allah, yang adalah Bapa, suami, dan Tuhan. Pada unsur yang lebih dalam inilah dapat ditemukan posisi bahasa tubuh manusia. Jika perjanjian cinta Allah dengan Israel dihadirkan sebagai cinta suami-isteri, maka bahasa tubuh dimaksudkan untuk mengungkapkan perjanjian cinta Allah dengan setia.[14]

Membaca Kembali Bahasa Tubuh Dalam Kebenaran[15]
Paus menekankan bahwa bahasa tubuh manusia itu perlu dibaca secara terus-menerus dalam kebenaran. Bukan hanya dengan simbol-simbol fisik yang ditampakkan oleh tubuh.  Tetapi, manusia perlu membacanya dengan jujur dan terbuka. Sehingga, manusia dapat menemukan kembali makna yang sesungguhnya. Ketika suami-isteri saling mengungkapkan kata-kata perjanjian “Saya mengambil kamu sebagai suamiku/isteriku,” mereka menegaskan kebenaran mendasar dari bahasa tubuh, dan secara tidak langsung mereka menolak kebohongan. Mereka melakukan kebenaran sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah dari semula pada awal penciptaan. Menurut Paus, tubuh membicarakan kebenaran melalui cinta suami-isteri, kesetiaan, dan integritas.
Sebaliknya, tubuh membicarakan kebohongan melalui segala sesuatu yang dapat meniadakan semuanya itu. Berkaitan dengan kebenaran itu, pasangan tersebut harus terbuka terhadap kelahiran anak. Berkaitan dengan keberadaan anak dalam keluarga, Benny Phang menulis artikel berjudul Marriage and Celibacy: Reveals? dalam  Review for Religious; A Journal Catholic Spirituality, 2009, 417.
Beliau menegaskan bahwa pada saat itu, suami-istri menjadi bapak dan ibu. Kahadiran anak menegaskan kebapaan suami dan keibuan istri. Posisi mereka ini sangat mempengaruhi dan membentuk hidup anak. Di sini, tampak jelas peranan penting suami dan istri bukan hanya sebagai sahabat Allah dalam menciptakan manusia baru tetapi juga bertanggungjawab atas pendidikan anak.
Lebih lanjut, beliau mengutip pernyataan William Pollack yang menegaskan peranan ayah dan ibu dalam menentukan pola anak. Ibu mengubah anak laki-laki menjadi manusia. Cinta seorang ibu mampu secara nyata membuat anak laki-laki menjadi lebih kuat baik secara emosional maupun secara psikologis. Demikian juga halnya dengan Bapa. Dengan keramahan, lucu, dan ketegasannya terhadap anak, mengaruniakan anak dengan rasa aman tertentu mendukung suatu kepekaan kelelakian anak.[16]Manusia harus belajar membaca kembali hubungan suami-isteri[17] dalam kebenaran. Membaca bahasa tubuh dalam kebenarannya merupakan hal penting untuk mewartakan kebenaran tanda yang kelihatan dari perkawinan sebagai sakramen.
Dengan kata lain, sakramen ialah bahasa tubuh yang dibaca dalam kebenarannya. sebab, melalui keseluruhan bahasa tubuh, suami-isteri mengungkapkan bahwa mereka melaksanakan sakramen. Mereka tidak hanya mewartakan yang dari Allah tetapi mereka sendiri melakukannya dalam nama Allah. Akhirnya dengan cara ini, mereka mewartakan misi kenabian Gereja yang diterima dari Kristus.[18]

Analogi dalam Kidung Agung
Untuk memahami secara lebih mendalam tentang bahasa tubuh, Paus menjelaskan tindakan pasangan mempelai laki-laki dan perempuan dalam kidung agung. Dengan ungkapan-ungkapan yang romantis, pasangan mempelai mengungkapkan kekayaan bahasa tubuh. Paus mengatakan:
The song of songs is certainly found in the wake of that sacrament in which, through language of the body, the visible sign of man and woman’s participation in the covenant of grace and love offered by God to man is constituted.[19]

Saling terpesona
Kidung agung tidak dapat dipisahkan dari realitas sakramen awali. Sebab, melalui bahasa tubuh, laki-laki dan perempuan menampakkan misteri agung Allah yang ditawarklan kepada manusia. Kidung Agung menunjukkan kekayaan bahasa tubuh sebagaimana yang sudah diungkapkan dalam Kej 2:23-25, dimana Adam mengagumi Hawa, pasangannya ketika pertama kali bertemu. Di dalam Kidung Agung, Paus menemukan dua pribadi manusia sebagai laki-laki dan perempuan saling mengagumi tubuh. Mereka mampu saling mengagumi tubuh karena mereka mengakui diri mereka sebagai subyek. Selain itu, Paus juga menemukan di dalam kidung agung diungkapkan sebuah keterpesonaan dan ketakjuban terhadap tubuh. Melalui pesona dan daya tarik di antara mereka, terungkap femininitas dan maskulinitas secara nyata. Kata-kata yang mereka ungkapkan terpusat pada tubuh, bukan karena tubuh itu mempesona tetapi karena tubuh itu hidup dan menarik orang lain. Mereka tidak hanya memandang tubuh belaka. Tetapi, mereka memandang keseluruhan pribadi manusia. Itulah yang menarik dan memunculkan kekaguman, pesona di antara mereka. Pasangan kekasih ini saling mengagumi tubuh. Di sini, tampak posisi pasangan sebagai subyek.
Mereka sadar bahwa pasangannya adalah setara dengan dia. Dengan demikian, tidak ada pribadi yang merasa dijadikan obyek. Mereka tidak memandang pasangan atas dorongan nafsu. Sebaliknya, tubuh dipandang dan dialami sebagai tanda yang nyata dari hakikat manusia (laki-laki dan perempuan) sebagai gambar dan rupa Allah. Dengan cara pandang yang demikian, pasangan membaca kembali bahasa tubuh mereka secara benar dan utuh. Sehingga, tidak ditemukan adanya “perzinahan” di antara mereka.[20] Sikap demikian haruslah juga terjadi dalam relasi perkawinan.
Hal ini ditegaskan oleh Jean Vanier. Ia mengatakan bahwa tindakan seks adalah ungkapan terdalam persatuan pribadi laki-laki dan perempuan. Sebagai pasangan suami-istri, mereka memberikan diri satu sama lain. Berkaitan dengan hal ini, tindakan seks tidak bisa dilepaskan dari relasi sehari-hari. Ketika tindakan seks dilepaskan dari relasi sehari-hari, maka di sana tidak ada pemberian diri. Yang ada hanyalah tindakan mengambil. Pribadi lain hanya menjadi obyek. Dengan demikian, tindakan seks menjadi kehilangan keindahan kesatuan dan kepuasan afeksi.

Dinda, pengantinku
Ungkapan lain yang mengungkapkan kekayaan bahasa tubuh dalam Kidung Agung ialah ungkapan “Dinda, pengantinku.” Paus mengutip bab 4 ayat 9-10. Dalam ayat-ayat ini, mempelai laki-laki tidak pernah menyebut mempelai perempuan dengan namanya tetapi selalu dengan sebutan yang khusus. Kata dinda yang digunakan oleh mempelai laki-laki itu menunjukkan bahwa cintanya menunjukkan pribadi lain sebagai satu kesatuan dengannya.[21] Kata “Dinda, pengantinku,” dalam bahasa Ibrani berarti “Saudari.” Tetapi, bisa juga berarti adik perempuan. Maka, ungkapan “Dinda, pengantinku,” bisa juga berarti “adik, perempuanku, mempelaiku.” Ketika mempelai laki-laki menyebutkan ungkapan ini kepada mempelai perempuan, sebenarnya ia sedang mengungkapkan hubungan antar sahabat yang mendalam. Ia mengakui bahwa “dirinya” ada di dalam diri pasangannya. Ia menyadari bahwa mereka berasal dari sumber yang sama. Lebih lanjut, Paus menegaskan bahwa ungkapan ini membawa kedamaian di antara mereka. Karena tidak ada suasana saling mengancam.  Keduanya adalah satu.[22]

Kebun tertutup, mata air termeterai
Ungkapan ini terdapat dalam teks kidung agung 4:12 “Dinda, pengantinku, kebun tertutup, dan mata air termeterai.” Ungkapan ini adalah juga ungkapan perasaan terpesona dari mempelai laki-laki terhadap tubuh perempuan. Mempelai laki-laki menyadari bahwa di dalam dirinya ada kerinduan untuk bersatu dengan tubuh perempuan. Jelas, bahwa panggilan manusia sebagai laki-laki dan perempuan untuk menjadi satu tubuh sungguh-sungguh terungkap. Manusia memiliki kebebasan untuk melakukannya. Kebebasan itu bukan berarti ia sebagai mempelai laki-laki harus memiliki mempelai perempuan. Karena “memiliki” di sini berarti menjadikan pribadi perempuan sebagai obyek bagi mempelai laki-laki. Tetapi, ungkapan mempelai laki-laki ini mengungkapkan kesadarannya bahwa panggilan mereka adalah untuk menjadi satu daging. Di sini, tidak ada tempat bagi nafsu untuk memiliki pribadi.

Cinta kuat seperti maut
Cinta yang dimaksud di sini ialah rasa terpesona, rasa hormat, pengakuan terhadap pribadi lain sebagai subyek. Paus menafsirkan ungkapan ini  sebagai kekuatan cinta yang mengalahkan kekuatan si jahat. Ketika kekuatan si jahat mendominasi cinta manusia, ia akan berusaha mengambil hak orang lain. Hal ini dapat dibandingkan dengan peristiwa jatuhnya menusia pertama ke dalam dosa. Mereka mengambil hak Allah yang sebenarnya akan diberikan kepada mereka. Bagi Paus, hal yang sama juga berlaku bagi cinta manusia. Cinta yang kuat itu tidak akan memberi ruang bagi manusia untuk mengambil hak orang lain. Cinta yang demikian ini hanya dapat muncul kalau ada pengakuan sebagai subyek di antara mereka.[23]

Tindakan liturgis
Apa yang dilakukan oleh Tobia ini juga direfleksikan oleh Paus sebagai tindakan liturgis. Doa yang diungkapkan oleh Tobia direfleksikan oleh Paus juga sebagai tindakan liturgis. Doa Tobia ini merupakan ungkapan syukur, pujian, dan permohonan. Ungkapan ini membawa mereka menjadi pelaksana sakramen. Mereka sadar bahwa melalui persetubuhan, mereka mengungkapkan misteri Ilahi. Itulah sebabnya mereka berseru “Allah Bapa kami.” Pada ayat 7, Tobia mengakhiri doanya dengan kata-kata ini “Sudilah kiranya mengasihi aku ini dan dia, dan membuat kami menjadi tua bersama.” Mereka juga sadar akan kekudusan panggilan ini yaitu bahwa dengan persetubuhan mereka menanggapi panggilan Allah sesuai dengan rencana awali dalam penciptaan. Itulah sebabnya mereka bermohon, sudilah kiranya mengasihi aku dan dia ini.[24] Paus menegaskan bahwa persetubuhan tidak boleh lepas dari doa. Jika terjadi demikian, itu berarti tindakan persetubuhan tidak lagi dibaca dalam seluruh kebenarannya. Manusia tidak lagi menemukan hakekat persetubuhan.[25]Tindakan cinta yang dilakukan oleh Tobia dan Sara ditopang oleh kekuatan doa.[26] Inilah dimensi liturgis dari tindakan persetubuhan. Mereka ambil bagian dalam karya agung Allah ini.

Keindahan dan kesungguhan hubungan-hubungan seksual
Persekutuan dua pribadi yang saling memberikan diri diungkapkan melalui tindakan persetubuhan. Ketika tindakan ini dipisahkan dari dari hati dan dari hubungan dua orang pribadi, maka tindakan itu bukanlah dasar kesatuan bagi mereka. Pribadi yang lain akan menjadi obyek. Menjadikan pasangan sebagai obyek dalam persetubuhan berarti orang cenderung untuk menggunakannya sebagai pemuas keinginan dagingnya, bukan mencintainya dengan tulus. Sikap yang demikian ini juga dapat menimbulkan ketakutan di antara pasangan.  Seseorang dapat merasa terancam. Ia merasa diserang sehingga perlu membentengi diri.[27] Di sana, tidak ada lagi unsur pemberian diri secara total. Dengan demikian hakekat persetubuhan pun akan hilang. Persetubuhan membawa pasangan pada hubungan baru. Nilai-nilai pemberian diri dan persatuan pribadi secara tidak langsung membawa mereka pada cinta yang absolut. Ketika mereka saling memberikan diri, mereka melepaskan diri dari egoism, dan membuka diri secara lebih mendalam terhadap keadilan, damai, persatuan, dan kepada Allah sendiri. Akhirnya, dengan saling memberikan diri kepada orang lain, mereka pun menjadi tanda kehadiran Allah yang nyata dalam keseharian hidup.[28]

Perjumpaan dengan Allah
Lebih lanjut, Vanier menegaskan bahwa dalam perkawinan, relasi permanen terjadi. Hal terjadi karena pasangan suami-istri disatukan oleh Allah. Perjumpaan mereka dengan Allah memampukan mereka menghadapi tuntutan relasi suami-istri. Persoalan dewasa ini ialah oranmg tidak mengerti bahwa kesulitan adalah bagian yang harus mereka hadapi. Situasi dimana orang mengalami kesulitan bukan berarti mereka harus meninggalkan harapan.[29] Relasi antara laki-laki dan perempuan itu berharga. Relasi ini bukan hanya untuk mereka tetapi juga anak, masyarakat, dan Allah. Dalam hal ini, mereka punya seorang pribadi yang selalu menuntun mereka menuju kesatuan yang lebih mendalam yaitu Allah. Itulah sebabnya, kesatuan ini suci. Lebih lanjut, Vanier menegaskan bahwa persatuan ini adalah gambar Allah: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Inilah sumber kesatuan suami-istri.
Kesatuan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan itu suci. Ini dipermaklumkan di depan umat Allah dan ditegaskan oleh Gereja. Ini adalah tanda suci yang diikat oleh Yesus Kristus sendiri. Itulah sebabnya, kesatuan ini merupakan perjumpaan manusia dengan Allah. Dia hadir dalam kesatuan ini dan menjadi tujuan dari setiap pasangan.

Relevansi
Gagasan Paus ini sangat relevan. Zaman ini, manusia kurang memahami nilai-nilai terdalam dari perkawinan. Di berbagai media masa, kita menemukan juga situasi yang sama. Perceraian marak di mana-mana. Keluarga kurang menampilkan nilai-nilai Ilahi yang mendasarinya. Hal ini sudah menjadi perhatian Gereja. Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostoliknya yaitu Familiaris Consortio berbicara tentang hal ini.[30] Paus menegaskan bahwa dewasa ini, keluarga menemukan kehadirannya dalam dua aspek yaitu aspek positif yaitu kaluarga sebagai tanda keselamatan Kristus yang dijalankan di dunia. Manusia memiliki kesadaran untuk mengutamakan relasi interpersonal dalam perkawinan mengangkat martabat wanita, tanggungjawab terhadap keturunan, dan pendidikan anak. Kedua, negatif  karena adanya unsur penolakan  dari manusia untuk memberikan cinta Allah. Di sini, ada kesalahan pemahaman tentang relasi cinta antara suami-istri. Akibatnya, ialah maraknya perceraian, aborsi, juga mentalitas kontrasepsi.[31]
Gagasan tentang bahasa tubuh yang diberikan oleh Paus Yohanes ini juga kiranya dapat membangun kesadaran pasangan suami-istri akan nilai perkawinan mereka. Perkawinan bukanlah ikatan cinta dua pribadi manusia belaka tetapi ungkapan cinta terdalam manusia sebagai gambar Allah. Melalui kesatuan tubuh, mereka menampakkan realitas Ilahi di dunia ini. Mereka telah dipanggil oleh sejak awal penciptaan untuk misi ini.

Daftar Pustaka
Buku Utama
Paul II, John. The Theology of The Body: Human Love In The Divine Plan, Boston, MA: Pauline Books and Media, 1997.
Rahmadhani, Desi. S.J. Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks bersama Yohanes Paulus II, Yogyakarta: Kanisius, 2009.
Review for Religious: A Journal Catholic Spirituality, 2009.
Vanier, Jean. Man and Woman God Made Them, London, Darton, Longmann and todd Ltd, 1985.
West, Christopher. Theology of The Body for Beginners: A Basic Introduction to Pope John Paul II’s Sexual Revolution, West Chester, PA: Ascension Press, 2004.
West, Christopher. Theology of The Body Explained: A  Commentary on John Paul II’s Man and Woman He Created Them, (Revised Edition), Boston, Pauline Books and Media, 2007.

Internet.


[1] Kedua dimensi itu ialah, pertama dimensi Ilahi yaitu perjanjian dan Rahmat, kedua dimensi manusiawi yaitu tanda. Dimensi inilah yang akan dibahas dalam makalah ini.
[2] Christopher West, Theology of The Body Explained: A  Commentary on John Paul II’s Man and Woman He Created Them, (Revised Edition), Boston, Pauline Books and Media, 2007, 461.
[3] Christopher West, Theology of The Body for Beginners: A Basic Introduction to Pope John Paul II’s Sexual Revolution, West Chester, PA: Ascension Press, 2004, 90-91. Bandingkan juga Christopher West, Op. Cit., 463.
[4] Bdk.“Agape” dalam The New Catholic Encyclopedia, Vol I, Washington, D.C: Juck Heraty & Associates, Inc, Platine, III, 1981,193. Istilah Agape berasal dari kata kerja bahasa Yunani ἀγαπᾶῶ (mencintai). Kata ini lazim digunakan dalam bahasa Yunani klasik. Dalam Kitab suci Perjanjian Baru, kata ini digunakan untuk menandakan sebuah cinta yang dermawan, suatu tindakan yang berasal dari kehendak hati Allah untuk manusia, atau cinta dari manusia untuk Allah, juga cinta di antara manusia itu sendiri misalnya tindakan kasih. Istilah ini merupakan istilah teknis di kalangan Kristiani awali yang menunjuk pada perjamuan persaudaraan. Kemudian, perjamuan tersebut dikaitkan dengan Ekaristi. Yesus sendiri telah mengadakan Ekaristi pada malam terakhir dalam bentuk perjamuan dimana cintaNya mencapai kesempurnaan penuh (Yoh 13:1). Di dalam Ekaristi, persatuan Kristiani dalam cinta Kristus sungguh-sungguh diungkapkan.
[5] Jean Vanier, Man and Woman God Made Them, London: Darton, longman and Todd Ltd, 1985, 131-132.
[6] John Paul II, The Theology of The Body: Human Love In The Divine Plan, Boston, MA: Pauline Books and Media, 1997, 354.
[7] Jean Vanier, Op.Cit., 1985, 131-132.
[8] John Paul II, Op.Cit., 354.
[9] Ibid  
[10] Jean Vanier, 131-132.
[11] John Paul II, 357.
[12] Nabi Hosea, Ezekiel, Deutro-Isaiah, dll.
[13] John Paul II, 357.
[14] Christopher West, 468.
[15]Desi Rahmadani, S.J, Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks bersama Yohanes Paulus II, Yogyakarta: Kanisius, 2009, 184. Bdk juga Christopher West, 469.
[16] Benny Phang, Marriage and Celibacy: Reveals? dalam  Review for Religious; A Journal Catholic Spirituality, 2009, 417.
[17] Hubungan suami-isteri dalam hal ini ialah ungkapan integritas antara femininitas dan maskulinumitas).
[18] Christopher West, 470; John Paul II, 360-363.
[19] John Paul II, 368.
[20] Desi Rahmadani, S.J, Op.Cit.,190-191; John Paul II, 369.
[21] John Paul II, 371.
[22] Desi Rahmadani, S.J, 192-193.
[23] Ibid., 196.
[24] John Paul II, 375-376.
[25] Yaitu manusia (laki-laki dan perempuan) sebagai gambar Allah, kesatuan Allah Tritungal, menjadi satu daging. Mereka saling memberikan diri secara total sebagaimana Kristus mencintai Gereja.
[26] John Paul II, 375-376.
[27] Christopher West, 26.
[28] Jean Vanier, 131-132.
[29] Ibid.139.
[30] http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/apost_exhortations/documents/hf_jp-ii_exh_19811122_familiaris-consortio_en.html, diakses pada tanggal 10 Desember 2011.



Reaksi:

0 komentar: