Senin, 16 April 2012

Selubung Kekerasan dalam Islam


Selubung Kekerasan dalam Islam
Pengantar
Fenomena kekerasan begitu mudah dijumpai di mana-mana. Hal itu menjadi keprihatinan setiap orang yang mengerti nilai kemanusiaan. Ada banyak teori, gagasan atau ideologi yang tak terungkap dibalik fenomena kekerasan. Mengapa selalu ada orang yang menjadi bumerang bagi yang lain? Apakah Allah agama-agama menakdirkan manusia tertentu untuk mengalami nasib sebagai korban kekerasan?
Berhadapan dengan masalah kekerasan di Indonesia, seringkali dihadapkan pada kerumitan karena pelakunya adalah oknum beragama Islam. Apakah ajaran Islam meligitimasi kekerasan? Atau dimana letak duduk perkaranya? Oleh karena itu masalah ini sudah menjadi masalah yang kompleks, bahkan pemerintah mengalami kesulitan mencari akar penyebabnya. Dalam tulisan ini, penulis mencoba menguak selubung dibalik tindakan kekerasan tersebut.
Fakta
Tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum beragama saat ini menjadi momok yang menakutkan banyak orang. Ancamam selalu menghantui pihak-pihak yang tak bersalah. Tak terkecuali pemerintah. Siapa yang tidak mengenal FPI (Front  Pembela Islam) sebagai sebuah organisasi yang seakan inheren dengan kekerasan? Siapa yang tidak bisa menyebut deretan kekerasan yang mereka lakukan?
        Selama tahun 2011 tercatat sekian banyak tindak kekerasan yang dicancangkan oleh FPI.[1] Sejak 18 Februari, ribuan massa dari FPI melakukan demonstrasi anti Ahmadiyah di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka mengecam dan menuntut pembubaran Ahmadiyah dan mengancam melakukan revolusi meniru gerakan massa di Tunisia dan Mesir jika pemerintah tidak membubarkan Ahmadiyah.   Kemudian  4 Maret Massa FPI membuat onar, membakar markas Ahmadiyah di Kecamatan Lubuk Pinang, Bengkulu dan warung makan seorang Jemaah di Kota Polewali, Sulawesi Barat. Tiga bulan kemudian, 12 Agustus Massa FPI merusak warung makan milik Restoran Topaz Makassar   dan di Kebayoran Lama, Jakarta, mereka mengeruduk perusahaan SCTV tentang film.
Dewasa ini telah muncul kajian sistematis yang menggunakan perspektif yang beragam guna menguak sebuah masalah. Berbagai pendekatan dalam memahami suatu kasus yang selama ini digunakan adalah pendekatan teologis, normatif, filosofis, dan historis. Melalui pendekatan-pendekatan itu sosok agama Islam akan dapat dilihat mulai dari latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan dirumuskan, hingga upaya melihat hubungannya dengan berbagai tindakan deviatif yang terjadi di masyarakat.
Misalnya, antara agama dan ekonomi ditemukan adanya hubungan yang positif, khususnya menyangkut kondisi manusia. Artinya, golongan masyarakat miskin pada umumnya lebih tertarik kepada gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, sedangkan golongan kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan lantaran menguntungkan pihaknya.[2]  Dari contoh ini tampak dengan jelas bahwa sebuah problem agamis tidak lagi melulu problem agama, tapi sudah sangat kompleks. Dalam tulisan ini, analisa penulis tidak menyangkut semua kompleksitas tersebut. Akan tetapi, apakah memang masih ada koherensi ajaran klasik (asli) agama islam dengan peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh FPI? Atau murni problem kekinian?
Esensi Agama Islam
Umumnya agama memiliki fungsi yang kurang lebih sama, yakni: [3] Memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang tidak dapat dipenuhi oleh unsur lainnya,  memaksa orang untuk menepati janji-janjinya, membantu mendorong terciptanya persetujuan, membantu merumuskan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh manusia, menerangkan fakta-fakta, memberikan standar tingkah laku, yaitu berupa keharusan-keharusan yang ideal yang membentuk nilai-nilai sosial yang selanjutnya disebut sebagai norma-norma sosial. Namun, masing-masing agama juga memiliki fungsi khusus, yang membedakan agama satu dengan yang lain. Fungsi ini lahir dari forma esensialnya atau intense masing-masing agama.
Islam adalah agama yang sangat mencintai “kedamaian”. Karena kata al-sal├óm, al- al-muslim, mengindikasikan akan “kedamaian”. Dr. Hassan Hanafi dalam sebuah artikelnya yang berjudul Reconciliation and Preparation of Societies for Life in Peace: An Islamic Perspective menggambarkan dengan sangat baik tentang makna kata “Islam”. Beliau mengatakan:
“The word Salam, which means peace in all its derivate forms, is mentioned and constantly repeteadly in the Qur'an, more as a noun than a verb. Since a noun is substance while a verb is an action we can say that the peace indicated by the word Salam as a noun is a substance, a structure and a world-system not only an action. It is an objective reality, not only a subjective modd.”[4]
Oleh karena itu Islam tak pernah dipahami sebagai agama kekerasan. “Islam berarti komitmen yang kuat kepada Tuhan dan mempunyai akar kata yang sama dengan kata Arab untuk kedamaian, atau salam.”[5]  Selain itu, Islam yang berasal dari kata Arab, juga bisa diartikan menyerah pada kehendak Allah.[6]  Defenisi-defenisi itu menjadi sangat penting untuk mengerti esensi terdalam dari agama Islam.
Ajaran Agama Islam
Ajaran Islam diturunkan Tuhan dengan maksud terpenting, yakni mengubah tata kehidupan manusia menjadi lebih baik dan sejahtera. Al-quran mengatakan: “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Qs Al-Ra’d 11).
Stigma negatif terhadap agama Islam berkembang karena Al-quran tampak mengajarkan tindak kekerasan. Tradisi Islam memang menyebut kekerasan dengan terminologi “jihad”. Menurut bahasa Arab, jihad adalah jahada-juhdun dan jahdun sudah mempunyai makna mubalaghah (bersungguh-sungguh).[7] Ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak saling mengerahkan kemampuan maksimal untuk mengalahkan lawannya.  Al-quran mencatat: “Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahanam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”(Qs 66:9). Itulah sebabnya para pakar bahasa menyebutkan makna jihad sebagai tindakan mengerahkan seluruh kemampuan untuk mendapatkan kebaikan dan menolak bahaya.
 Bahkan dalam hadist Rasulullah SAW setan pun mengerti betul bahwa jihad adalah perang: "Sesungguhnya setan menghadang manusia di setiap jalan kebaikan. Ia menghadang manusia di jalan Islam." (HR. Ahmad 3/483). Jihad sesungguhnya merupakan sarana untuk mencapai kehendak  Allah SWT demi terciptanya suasana aman-damai dan keadilan. Dalam  Al-quran dikatakan bahwa;  “Allah mengutus para rasul disertai dengan bukti yang nyata, kitab suci dan neraca (keadilan), agar mereka dapat melaksanakan keadilan” (Qs. Al-Hadid [57]: 25). Jihad bisa dilakukan untuk melawan musuh yang nyata, yakni setan atau diri sendiri.
“Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” Qs 4: 90.
Ayat-ayat Al-quran juga menekankan bahwa perdamaianlah yang menjadi norma utama, bukan kekerasan dan peperangan. Ijin untuk memerangi musuh diseimbangkan dengan perintah yang kuat untuk membuat perdamaian.[8] “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Qs Al-Alnfal (8) 61).  
Al-quran telah menegaskan kemuliaan manusia (yang didengungkan manusia pada era kontemporer ini sebagai Hak Asai Manusia) sejak kelahirannya abad VII. Tapi manusia zaman modern yang jahil menangkapnya sebagai hasil pencapaian terkini.[9] Meski demikian, tak dapat disangkal, bahwa fungsi dan penegasan itu kerap menyimpang dan yang muncul justru sebaliknya yakni, parade kekerasan. Mengapa?
 Selubung Kekerasan
Seiring berjalannya waktu interpretasi tentang jihad mengalami distorsi dari orang-orang yang melegitimasi kekerasan dalam upaya menegakkan hukum Allah.  Jihad akhirnya memiliki banyak makna, yaitu perang melawan orang-orang kafir dalam rangka menegakkan kalimatulloh dan tidak dibawa kepada pengertian-pengertian lain baik thalabul ilmi, dakwah, pendirian pondok pesantren, membangun jembatan, menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim dan amal sholih lainnya.[10]
Syariat jihad memang diperintahkan oleh Allah untuk menegakkan kebenaran, dan sebagai alat untuk pembuktian mana orang-orang yang benar-benar teguh dalam berjuang dan mana orang-orang yang munafik, yang hanya duduk-duduk  mencari-cari alasan untuk tidak pergi berjihad.[11] Maka, jihad tidak bisa dipisahkan dari dakwah karena musuh hari ini telah memerangi umat Islam dengan segala arus dan berbagai tipu daya.[12]
“Dalam berbagai bentuknya, kekerasan tidak bisa ditoleransi lagi. Untuk menyikapi perbedaan, baik karena agama, pandangan keagamaan, maupun lainnya, semua pihak harus bisa menahan diri tidak menggunakan kekerasan untuk menyelesaikannya."[13] Sebab kekerasan yang dipraktekkan oleh FPI, – dalam kurun waktu  yang sangat singkat antara kekerasan yang satu dengan kekerasan yang lain dalam bentuk apa pun, – tak lagi dapat ditoleran. Mengapa? Karena dalam ajaran Islam tidak diajarkan melakukan kekerasan. "Kekerasan yang dilakukan oknum yang mengatasnamakan agama Islam (FPI, misalnya) sesungguhnya telah menyalahi ajaran Islam itu sendiri dan memperburuk citra Islam di mata dunia."[14]
Islam tidak pernah mengajarkan tindak kekerasan, dan Al-quran tidak mengandung ajaran bernuansa kekerasan. Maka, kalaupun FPI melakukan tindak kekerasan di berbagai pelosok tanah air, itu tidak dapat diklaim sebagai esensi ajaran Islam dan Al-quran. Justru sebaliknya dikatakan bahwa Allah akan menghancurkan para pelaku kezaliman seperti demikian. “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik” (Qs. Al-A`raf [7]: 165. Oleh karena itu, Islam senantiasa menyerukan kepada umatnya agar melawan kezaliman, menghapuskan kemunkaran dengan segala cara.[15] Misalnya dalam Quran surath Al-Hujurat 9 dikatakan:
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”
Atau dalam Qs. An-Nahl 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
Al-quran adalah kitab suci yang mengajarkan perdamaian di muka bumi. Sebagai bukti riil adalah sejarah perjalanan Islam sejak empat belas abad silam. Bahkan Al-quran menyebutkan segala cara melawan kezaliman, sesuai dengan keadaan pemerintahan yang melenceng dari syariat dan  sesuai dengan tingkat kezaliman dan penyelewengannya yang ada, agar umat Islam dapat memilih bentuk hidup yang sesuai dengan kondisi dimana mereka hidup. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya tindak kekerasan yang semakin membabi buta. Lalu apa selubung dari tindak kekerasan FPI khususnya di bumi Indonesia?
Pertama, selubung kondisional.  Artinya, harus menjadi sebuah kesadaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas di sekelilingnya. Suasana dan situasi keberadaan mereka amat berpengaruh. Sebab praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkan dari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan.[16] Maka, agenda kekerasan yang dilanggengkan oleh FPI barang kali menggambarkan kondisi bangsa yang carut marut dan mendeskripsikan situasi anak bangsa yang memprihatinkan.  Hal itu jelas tak bisa diingkari, karena mengingkari keterpautan agama dengan realitas kondisonal berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia.[17]
Kedua, selubung interpretasi. Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya-primordial-yang telah melekat di dalam dirinya.[18] Maka tidak dapat disangkal bahwa di Indonesia Islam seakan menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik. Perbedaan manifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan, ekonomi, pendidikan.
Perdebatan dan perselisihan dalam masyarakat Islam sesungguhnya adalah perbedaan dalam masalah interpretasi, dan merupakan gambaran dari pencarian bentuk agama yang sesuai dengan konteks bangsa.[19] Lahirnya ilmu tafsir, ilmu hadits dan ilmu fikih adalah hasil konstruksi intelektual manusia dalam menerjemahkan ajaran agama sesuai dengan kebutuhan manusia di dalam lingkungan sosial dewasa ini.[20] Artinya, interpretasi yang salah kaprah, – yang dipengaruhi oleh mutu pendidikan agama, – pasti melahirkan tindakan brutal sebagaimana yang dilakukan oleh FPI. Maka, harus terus disadari bahwa pergumulan keagamaan pada dasarnya adalah pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan. 
Ketiga, selubung pengamalan. Realitas keagamaan sesungguhnya adalah realitas ilahi yang diejawantah dalam dunia nyata. Oleh karena itu, makna hakiki dari keberagamaan adalah pengamalan.  Dalam konteks FPI pengamalan nilai-nilai Islam jatuh pada tragedi kekerasan. Bahkan kekerasan sering merupakan sebuah media bagi seseorang untuk bereksitensi, saat tidak ada sistem yang mampu berfungsi sebagai manajeman kehidupan sosial. “Beragama atau tidak, taat menjalankan ajaran agamanya atau sekedar menyatakan memeluk suatu agama, abangan atau santri, setiap orang cenderung mengukuhkan dirinya dengan realitas superhuman dengan beragam sebutan. Kekerasan mulai memperoleh penguatan teologis sebagai sebuah ritus.”[21]
Pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat akan ditentukan oleh komitmen etik kemanusiaan dalam susunan konstitusi yang tidak lagi terperangkap pada bentuk-bentuk simbolis yang sering disebut syariat.[22] Setiap masyarakat adalah ruang publik bagi pengamalan nilai-nilai agama. Sebab agama diperuntukkan untuk kepentingan manusia dan persoalan-persoalan manusia adalah juga merupakan persoalan agama.
Penutup
Setelah mencoba membuka selubung kekerasan dalam Islam, kita dapat menyimpulkan bahwa tuduhan stigma negatif yang diterima Islam tidak dapat dibenarkan dan kabar tidak selamanya sama dengan kenyataan.  Semakin jelas bahwa Islam tidak mengajarkan tindak kekerasan. Pendapat yang menyatakan bahwa Islam itu agama kekerasan tidak benar sama sekali. Itu hanya pendapat tendensius semata yang ingin menyudutkan Islam.
Bahkan, dari penjelasan di atas tampak jelas bahwa Islam adalah agama anti-kekerasan. Sejak masa turunnya Islam di Jazirah Arabia, ia selalu menentang tindak kekerasaan atau kezaliman. Oleh karena itu, Islam sangat menghargai dan menghormati kebebasan dan sangat anti kekerasan. Meskipun terpaksa harus berperang, Islam tidak serta merta melakukan tindakan yang membabi buta.
Agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. Sekarang ini ada kecenderungan untuk melihat Islam secara menyeluruh. Uraian di atas memperlihatkan bahwa sesungguhnya pemahaman agama tidak akan lengkap tanpa memahami realitas manusia sekarang ini dan di sini atau “nunc et hic”. “Barangkali tidak berlebihan untuk menyebut bahwa realitas manusia sesungguhnya adalah realitas ketuhanan yang empiris.”[23]



[1]Bdk. Daftar kekerasan FPI yang dicatat dalam,  http:id.wikipedia.org diakses 10 Oktober 2011
[2] Hanifk, Kekerasan Dalam Islam, dalam http://www.muslimdaily.net/jurnalis/5509/kekerasan-dalam-Islam. diakses pada tanggal 20 Sep 2011.
[3] Ibid.
[4] Qosim Nursheha Dzulhadi, Islam, Al-Quran dan Wacana Global Violence dalam http://www.abim.org.my/minda_madani/modules/news/article.php?storyid=141 diakses tanggal 26 September 2011.
[5] Lih. John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Saatnya Muslim Bicara: Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM dan isu kontemporer Lainnya, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008, hlm., 28.
[6] Michael Keene, Agama-agama Dunia, Yogyakarta: Kanisius, 2006, hlm., 120
[7] Waryono Abdul Ghafur M.Ag, Hidup Bersama Al-quran: Jawaban Al-quran terhadap Problematika Sosial, Yogyakarta:Pustaka Rihlah, 2007, hlm., 340-342
[8] Lih. John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Op.Cit., hlm., 40
[9] Bdk. Dr. Yusuf Quardhawi, Berinteraksi dengan Al-quran, Jakarta: Gema Isani Press, 1999, hlm., 118.
[10] Hanifk, Loc. Cit.
[11] Lih. John L. Esposito dan Dalia Mogahed, Op.Cit., hlm., 39-44.
[12] Ibid.
[13] Umar Shihab, “Ajaran Islam Tak Benarkan Kekerasan” dalam KOMPAS, Senin, 10 Oktober 2011.
[14] Ibid.
[15] Al-quran dengan jelas menyebutkan adanya kukuatan dari Allah sebagai penolong. (Qs. Al-Hajj [22]: 39, Qs. An-Nisa' [4]: 75, , Qs. Al-Anfal [8]: 39, dan Qs. Asy-Sura [42]: 39-42).
[16] Jamhari Ma'ruf,  Pendekatan Antropologi dalam kajian Islam, dalam http://www.ditpertais.net/artikel/jamhari01.asp, diakses pada tanggal 12 Oktober 2011.
[17] Ibid.
[18] Bdk. Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Manusia Alquran: Jalan Ketiga Religiositas di Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, 2007., hlm., 13.
[19] Hanifk, Loc. Cit.
[20] Ibid.
[21] Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Op.Cit., hlm.,165.
[22] Bdk. Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, Op.Cit.,hlm,.121
[23] Jamhari Ma'ruf,  Loc.cit.
*****

 Daftar Pustaka
Buku
Al-quran Elektronik.
Esposito, John L. dan Dalia Mogahed.  Saatnya Muslim Bicara: Opini Umat Muslim tentang Islam, Barat, Kekerasan, HAM dan Isu Kontemporer Lainnya. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2008.
Ghafur , Waryono Abdul M.Ag. Hidup Bersama Al-quran: Jawaban Al-quran terhadap Problematika Sosial. Yogyakarta:Pustaka Rihlah, 2007.
Keene,Michael.  Agama-agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius, 2006
Mulkhan, Abdul Munir Prof. Dr. Manusia Alquran: Jalan Ketiga Religiositas di Indonesia.  Yogyakarta: Kanisius, 2007.
Quardhawi, Yusuf, Dr. Berinteraksi dengan Al-quran. Jakarta: Gema Isani Press, 1999.
Artikel
Dzulhadi, Qosim Nursheha.  Islam, Al-Quran dan Wacana Global Violence dalam http://www.abim.org.my/minda_madani/modules/news/article.php?storyid=141 diakses tanggal 26 September 2011.
Hanifk.  Kekerasan dalam Islam, dalam http://www.muslimdaily.net/jurnalis/5509/kekerasan-dalam-Islam,  diakses pada tanggal 20 September 2011.
Ma'ruf,  Jamhari. Pendekatan Antropologi dalam Kajian Islam, dalam http://www.ditpertais.net/artikel/jamhari01.asp., diakses pada tanggal 12 Oktober 2011.
Shihab,Umar . “Ajaran Islam Tak Benarkan Kekerasan” dalam KOMPAS. Senin, 10 Oktober 2011.
http:id.wikipedia.org diakses 10 Oktober 2011*****
Reaksi:

2 komentar:

- mengatakan...

Salam sejahtera Brother, saya cuma ingin berbagi informasi sekalian ingin mendengar tanggapan brother tentang situs http://indonesia.faithfreedom.org
halaman aslinya ini
http://faithfreedom.org
Yang membuat saya kaget dengan isi situs itu adalah penjelasan tentang suatu agama, di mana bahwa agama is*am itu adalah ajaran sesat. Bukan hak saya untuk menghakimi agama mereka, tapi sejak saya mengetahui sesuatu dari situs itu, ingin rasanya menghapuskan agama itu dari muka bumi ini.
Saya tak ingin menjadi Rasis karena mengetahui hal-hal seperti itu, saya ingin tetap toleran terhadap kepercayaan mereka.Brother mengerti kan? ^_^

Rata Diajo Manullang mengatakan...

Makasih yah bro krn udah melihat dan membaca serta mencoba menanggapinya, terutama untuk bagian ini.

Gni Brother, aq udah buka situs yang diatas, tpi dsana ada banyak terdapat artikel tentang islam.. jadi blom aq baca satu per satu

Gni ajjah, memang kita ga bisa mengklaim apalagi menjadi ekslusif terhadap agama lain kan, karena semua agama ada benarnya dan ada juga salahnya. Maksudnya, semua agama selalu memiliki kekuatan dan kelemahan dalam hal ajaran. "Tidak ada yang mutlak mengenai agama mana yang benar". Tapi meskipun seperti itu, kita harus tetap kritis terhadap semua ajaran agama, dan kira2 mana ajaran agama yang sesuai dengan keyakinan kita. Biarkan orang lain menganut agama yang sesuai dengan keyakinan mereka
iah kan
hehehee