Minggu, 01 April 2012

Perempuan di Hadapan Hidup dan Allah

Perempuan di Hadapan Hidup dan Allah
Maria Teladan Hidup Perempuan
dalam
Hidup dan Allah
*Rata Diajo Manullang

Pengantar
Allah menciptakan manusia yaitu laki-laki dan perempuan sebagai pribadi. Ini merupakan anugerah bagi kita manusia. Allah melihat bahwa laki-laki dan perempuan saling memerlukan dan saling melengkapi. Dalam diri manusia, laki-laki dan perempuan, kemuliaan Allah disingkapkan. Dengan cara masing-masing, laki-laki dan perempuan mengungkapkan dimensi misteri hidup Allah. Artinya menuju hidup yang menuju ke kepenuhan yaitu Allah sendiri. Hidup laki-laki semakin menuju kepenuhannya dengan bantuan perempuan, demikian sebaliknya. Laki-laki dan perempuan bersama-sama menghayati kehidupan, dengan kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri mereka masing-masing. Di dalam dan dengan keperempuanannya, perempuan menghayati hidupnya. Demikian pula di dalam kelaki-lakiannya, laki-laki menghayati hidup.
Manusia tumbuh sebagai ciptaan Allah, sejauh dia tumbuh dalam kemanusiaannya. Manusia beriman tumbuh, sejauh dia tumbuh dalam iman yang dipeluknya. Bagi orang kristen, pertama-tama dia perlu bertanya sejauh mana dia telah bertumbuh sebagai pribadi kristen. Maka setiap kita, baik laki-laki maupun perempuan, pertumbuhan hidup tidak terpisahkan dari kenyataan Kekristenan dan iman kita. Karena itu, kaum perempuan layak juga bertanya bagaimana dirinya tumbuh sebagai perempuan kristiani. Sejauh perempuan tumbuh dalam pengalaman kepenuhan panggilan perempuan kristen, sejauh itu juga dia akan tumbuh dalam panggilan pernikahan, hidup bakti religius dan hidup pengabdian dalam karier dalam masyarakat.
Boleh diyakini, bahwa perempuan menghayati hidup dan panggilan kehidupan dengan segala potensi yang ada dalam dirinya sebagai perempuan, baik itu fisik, psikis, dan rohani maupun kemampuan sosial. Penggilan manusia yang dihayati dalam potensi keperempuanan, itulah yang menjadi ciri proses aktualisasi diri menuju ke kepenuhan dan kesempurnaan hidup. Pertumbuhan hidup rohani maupun hidup manusiawi memang tergantung pada kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri, di samping oleh karya rahmat Allah. Kedalaman  hidup rohani tergantung pada kemampuan orang untuk membangun relasi dengan Allah, sesama maupun dirinya sendiri. Diri manusia jelas ditentukan oleh kenyataan diri, baik yang bersifat laki-laki maupun perempuan.
Marilah sedikit kita refleksikan kepribadian dan kemampuan perempuan untuk menghayati hidup dalam terang pengalaman iman tentang pengalaman iman. Dengan kata lain, refleksi berikut ini lebih mendasarkan manusia sebagai mahluk religius, artinya manusia sebagai ciptaan dan memiliki relasi dengan Allah. Manusia direnungkan. Seperti ini pulalah, renungan perempuan dihadapan hidup dan Allah berikut ini.

1.   Tujuan Religius Hidup Manusia
Merenungkan hidup bakti tidak dapat dipisahkan dengan tujuan terdalam manusia di dunia ini. Adapun tujuan terdalam dan tujuan terakhir manusia diciptakan ialah untuk turut serta ambil bagian secara penuh dalam hidup ilahi. Sangat sering dikatakan bahwa tujuan hidup manusia ialah untuk mencapai hidup adikodrati. Akan tetapi meskipun demikian, hal yang perlu disadari ialah bahwa tujuan hidup itu sendiri sudah harus terlaksana saat sekarang di dunia ini. Kepenuhan dan kesempurnaan hidup manusia terletak pada kepenuhan dan kesempurnaan cinta kasih yang merupakan hidup Allah sendiri. Kesempurnaan hidup dalam kasih hanya akan terlaksana jika manusia berbakti kepada Allah. Dengan berbakti, manusia memuji, meluhurkan dan menghormati serta memuliakan Dia. Dengan demikian, manusia akan mendapatkan keselamatan, yaitu hidup dalam kesatuan dengan Allah.
Meskipun manusia berdosa karena tidak taat, rahmat Allah tidak pernah ditarik kembali. Rahmat Allah tidaklah merusak hidup melainkan menyempurnakan. Rahmat Allah meresapi hidup manusia, dan rahmat itu semakin menjadi nyata dengan kedatangan Kristus ke dunia ini. Kristus datang untuk menyelamatkan segala sesuatu yang ada dalam hidup manusia agar dia tidak binasa. Yang binasa dalam hidup manusia karena dosa; bukan hanya jiwa, melainkan seluruh manusia dan seluruh ciptaan. Karena itu Kristus merupakan asal dan sumber sekaligus penyingkapan siapa itu manusia dihadapan Allah. Jadi kesempurnaan manusia tidak terlepas atau terpisah dari Kristus. Manusia tidak sungguh menjadi manusia bila dia tidak dilahirkan. Kristus datang untuk mengilahikan manusia, Manusia semakin menjadi ilahi dalam Kristus, sejauh dia menghayati kasih, seperti yang ditunjukkan dan diungkapkan oleh Kristus dalam hidup-Nya.
Karena kedatangan Kristus yang menjadi manusia, tidak layaklah manusia meremehkan atau menyepelekan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Segala sesuatu telah dikuduskan di dalam Kristus. Itu berarti bahwa segala sesuatu yang ada ini dikembalikan menjadi sarana bagi manusia untuk menuju kepada Allah. Bahkan penderitaan, kesengsaraan serta kematian merupakan jalan menuju kepada Allah, sebagaimana telah dilalui oleh Kristus. Maka tidak seorang pun bersikap masa bodoh terhadap dirinya sendiri, terhadap sesama dan terhadap alam ciptaan ini. Tidak seorang pun dapat menjadi kudus dan sempurna hanya dengan memikirkan diri sendiri. Tidak seorang pun akan menjadi sempurna dan ilahi dengan melarikan diri dari tugas dan panggilannya di dunia ini. Dunia dan seluruh ciptaan merupakan tempat di mana manusia hhidup dalam proses menjadi sempurna, kudus dan ilahi. Oleh karena itu, manusia harus bersahabat dengan sesama dan seluruh alam ciptaan ini.
Manusia dipanggil untuk menuju kepada Allah melalui hidup di dunia ini. Maka tidak seorang pun menjadi ilahi, kudus dan sempurna tanpa masuk dan terlibat ke dalam hidup di dunia ini. Kesempurnaan dan kekudusan manusia tergantung pada sejauh mana manusia berusaha membangun dunia ini menjadi tempat yang layak dihuni manusia. Dan hidup manusia semakin manusiawi, bermartabat dan berdaulat sebagai manusia religius. Manusia dipanggil Allah untuk bersama dengan Allah menguduskan dunia ini. Dengan demikian, manusia menguduskan dirinya sendiri dan memuliakan Allah.
Tujuan hidup manusia memang tidak di dunia kini, tetapi ke dunia kelak sesudah kehidupan ini. Meskipun demikian, manusia tidak boleh begitu saja membenci dunia, apapun keadaannya. Manusia harus menyaturagakan dunia ini dengan tujuan kodrati. Dalam diri manusia dan seluruh alam ciptaan terkandung makna dan tujuan yang luhur. Maka terhadap dunia, manusia harus berikap positif tanpa melupakan hal-hal yang negatif yang timbul di dalamnya. Terhadap keadaan itu, manusia harus mengulurkan kasih yang menyembuhkan, memelihara dan mengembangkan ke arah tujuan diciptakannya. Dunia dengan segala kemajuannya harus merupakan tempat di mana manusia semakin mampu menghayati panggilannya, yaitu dalam iman, harapan dan kasih menuju ke pemenuhan dan penggenapan yang telah direncanakan oleh Allah.
Dunia disediakan bagi manusia untuk hidup dan merealisasikan diri dalam hubungannya dengan Allah. Sebagai gambaran Allah, manusia mendapat tugas untuk mengolah dunia sesuai dengan maksud dan tujuan Allah. Begitulah dunia menjadi sarana untuk membangun dan mengembangkan hidup, kasih dan persaudaraan. Manusia harus bergulat menggunakan dunia dengan segala kekayaan yang ada untuk membangun kasih persaudaraan, bukan untuk memecah-belah. Inilah tantangan manusia. Manusia yang berbudi dan berhati nurani yang baik, akan menggunakan akal dan tangannya untuk membangun dan menyempurnakan dunia, sebagai proses menuju ke dunia baru. Dengan demikian, manusia akan menemukan dirinya sebagai manusia ciptaan Allah yang berharkat dan bermartabat sekaligus sebagai makhluk religius.
Oleh karena itu, manusia harus memupuk suatu pandangan yang benar dan mengatasi kekinian dunia dan hidup. Manusia harus berusaha terus menerus membebaskan diri dari perangkap yang membatasi pandangan bahwa hidup hanya sampai di dunia saja. Kemajuan hidup manusia dalam segala bidang, namun jika terpisah dari kenyataan manusia yang hakiki sebagai makhluk yang bermartabat dan religius, maka akan mengandung bahaya perendahan martabat, kondisi hidup dan kerja manusia. Tantangan yang selalu ada dan harus dihadapi ialah bagaimana segala kemajuan mampu membawa manusia semakin lebih manusiawi dengan Allah. Demikian juga halnya mengenai tantangan hidup yang diakibatkan oleh kemajuan zaman perlu dihadapi dengan pikiran dan hati yang jernih, agar tidak mudah membawa orang lain kepada keputusasaan, melainkan ke kebijaksanaan hidup yang lebih dalam atas segala sesuatu dalam kerangka dan arah tujuan hidup adikodrati.
Kesempurnaan manusia yang bermartabat terletak dalam kemerdekaan hati dan batin. Kemerdekaan hati dan batin hanya mungkin bila manusia mampu membangun sikap lepas bebas terhadap segala sesuatu yang bukan Allah. Sikap lepas bebas ini tidak berarti bahwa manusia tidak peduli akan keadaan dunia dan akan hidup sesama. Begitu pula sikap lepas bebas tidak berarti bahwa manusia tidak mempunyai komitmen terhadap perkembangan manusia dalam proses penciptaan dan penebusan Allah. Kemerdekaan yang bersikap lepas bebas, karena hati dan budi terarah pada tujuan adikodrati. Hidup manusia, semestinya lebih merupakan suatu ungkapan kasih yang berani, peduli, hangat dan tanpa pamrih terhadap sesama dan realitas kehidupan. Kemerdekaan yang bersikap lepas bebas tidak berati bahwa kita tidak mencintai segala sesuatu dalam Tuhan. Cinta dalam kemerdekaan seperti itu selayaknya semakin menghantar kita untuk semakin mencintai sesama dan segala sesuatu yang ada harus merupakan bagian dari cinta kita yang tak terbagi dan menyeluruh kepada Allah. Kita harus belajar terus menerus mencintai seperti itu.
Semangat kemiskinan, yang terungkap dalam cinta lepas bebas seperti itu tidaklah bagitu saja dicapai. Kemiskinan dalam cinta lepas bebas menuntut dari pihak kita suatu program terbesar hati dan masuk akal untuk laku tapa, sebagaimana juga dituntut keberanian untuk mengundurkan diri ke keheningan dan kesunyian. Dari pihak manusia juga dituntut keberanian untuk berkorban diri dan mempersembahkan diri dengan segala pekerjaannya untuk kemuliaan Allah. Pengunduran diri seperti itu diperlukan agar kita tidak dimakan oleh kerja dan kesuksesan kerja yang dapat mematikan dan membunuh kedalaman hidup manusia. Pengunduran diri merupakan saat subur untuk meningkatkan segala daya dan bakti kepada pengabdian ‘duniawi’ dalam Tuhan. Itulah persembahan yang paling berkenan bagi Tuhan, yang dapat dilakukan pada Altar kehidupan bagi Tuhan.
Manusia harus mendasarkan hidup pada prinsip kekudusan, bukan pada prinsip keamanan. Prinsip kekudusan berarti prinsip kesatuan dengan Allah, sesama dan seluruh alam ciptaan. Kudus dalam hidup berarti menyatukan, dan bukan memecah belah, menghargai sesama manusia dan bukan menghina, menggunakan dalam ciptaan dan kebendaan untuk tujuan hidup manusia dan bukannya menjadikan alam ciptaan dan kebendaan menjadi ilah-ilah. Dengan demikian, kudus berarti manusia sembah sujud kepada Allah penciptanya, bukan kepada ilah-ilah buatan pikiran serta tangannya. Prinsip keamanan berarti pandangan keamanan egoistik pribadi atau kelompok yang menjadi nilai tertinggi dalam hidup. Hal itu membawa akibat pada pelanggaran kemanusiaan sesama dan segala hak asasinya. Demikian pula keamanan egoistik membawa orang ke dalam perjuangan kepentingan pribadi-pribadi atau kelompok dengan jalan apapun juga. Bahkan karena itu, orang dapat menjadi semakin serakah dan tamak, dengan menggunakan agama dan iman untuk membela tindakan-tindakan egoistik tersebut.
Untuk hidup seperti itu, diperlukan orang-orang yang rela menyatukan dan membawa kesaksian bahwa tujuan hidup manusia tidak hanya dalam dunia kini, melainkan di dunia sesudah kini. Karena itu, diperlukan orang-orang yang mampu menyatakan bahwa dunia dan segala isinya bukanlah menjadi suatu penghalang untuk mencapai tujuan melainkan sebuah penopang, yakni  mereka yang dalam hidup ini berani mengambil sikap lugas dan tegas, namun lembut terhadap tujuan akhir hidup manusia.

2.   Perempuan dan Penghayatan Hidup
Renungan alkitab (Kej 1:26-27) mengungkapkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama dihadapan Allah. Namun dalam kesamaan itu juga terdapat berbagai perbedaan. Persamaan tidak berarti identik. Perempuan mencerminkan kemuliaan dan kesempurnaan Allah dengan ciri dan caranya sendiri. Perempuan menghayati hidup lebih kuat yang ditandai dengan sikap pemberian diri. Ciri-ciri pemberian diri perempuan ialah kasih, dedikasi, keperempuanan dan keibuan. Hati merupakan pusat penggerak kuat dinamika hidupnya. Dengan demikian, hati dan perasaan, itulah yang lebih menjadi titik perhatian perempuan dalam membangun relasi. Karena itu, penalaran perempuan sangat dipengaruhi oleh gerakan hati. Penalaran perempuan lebih bersifat persepsi yang mampu mengantisipasi pikiran-pikiran dan bersifat asosiatif. Oleh karena itu, indera dan daya imaginasi sangat berkembang dalam perempuan.
Perempuan lebih mendapat anugerah intuisi daripada refleksi sistematik. Perempuan lebih dikenal sebagai orang yang mengikuti logika hati daripada budi. Maka cara berpikir perempuan pada umumnya bersifat sintetik, mempertemukan dan menyatukan. Dengan demikian dapat dipahami bila perilaku kehendak perempuan memiliki ciri sebagai berikut; yaitu bukan dari sarana ke tujuan, tapi langsung menempatkan diri pada tujuan. Tujuan dilihat langsung berada didepannya. Karena itu perempuan kerap kali berpendapat bahwa segala masalah sudah terselesaikan.
Pusat perhatian perempuan bukan pada perkara-perkara tetapi pertama-tama pada cinta, baru kemudian pada kerja, profesi, sukses dan persaingan. Perempuan memang pada hakekatnya diciptakan untuk menjadi ibu. Bagi perempuan, dunia ini merupakan sesuatu yang harus dipelihara dan dilindungi. Nafas hidup perempuan ialah cinta kasih. Perempuan hidup dalam dunia kemanusiaan. Oleh karena itu, bentuk kesalehan perempuan memberikan suasana tertentu dalam kehidupan manusia. Perempuan mempunyai disposisi menuju ke hidup keagamaan. Inilah yang merupakan dasar perumpamaan untuk hidup memberikan diri. Pada umumnya, perempuan menghayati hidup ini dalam nafas-nafas mistik kesatuan dan mesra, yang mampu mengangkat perkara-perkara kecil dan sederhana dalam hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari wujud mistik cinta.
Mistik kesatuan cinta dalam pemberian diri dari hati ke hati pada umumnya diwujudkan dalam hidup ini dengan tiga macam cara, yaitu hidup menikah, hidup karier dan hidup bakti. Semua itu dihayati dengan jiwa dan ciri-ciri keperempuanannya.

3.   Keutamaan dasar perempuan
Secara singkat, hakekat perempuan, dalam terang wahyu ilahi ialah diciptakan untuk memberikan hidup dan hidup memberikan diri. Jelas bahwa memberikan hidup dan memberikan diri itu dapat dihayati oleh perempuan dengan berbagai cara dan jalan. Apapun yang ditempuh dan dipilih, kiranya dapat dikatakan bahwa pada diri perempuan ada kekuatan untuk menyerahkan diri secara total dan eksklusif langsung kepada seseorang, kepada Allah dan kepada dunia kehidupan tertentu. Kemampuan mencintai dalam keterpautan total itulah ciri dari kemuliaan dan keluhuran perempuan. Santo Ireneus berkata, bahwa kemuliaan Allah terlaksana pada manusia yang hidup. Bagi perempuan, hidup dalam cinta keterpautan total merupakan kemuliaan Allah. Dengan kata lain, perempuan yang hidup dalam cinta keterpautan total merupakan kemuliaan Allah. Hidup dalam pemberian diri membuahkan rasa belas kasih, artinya mampu masuk, senasib sepenanggungan dalam nasib sesama. Itulah yang disebut kesetiaan.
Karena hidup perempuan itu: pemberian diri dalam cinta keterpautan total dan karena kemampuan untuk masuk serasa dan sepenanggungan dengan sesama, maka dapat dimengerti bila perempuan juga memiliki kemampuan untuk akrab dan dekat dengan penderitaan. Allah mencipta hati perempuan untuk cinta keterpautan total. Karena itu, Allah menganugerahkan kepada perempuan hati yang peka, kuat dan tabah dihadapan penderitaan dan kemalangan manusia. Sedemikian peka perasaan hati perempuan, sehingga hati mudah tergetar oleh penderitaan dan mudah terkenai oleh sentuhan yang menyakitkan. Sedemikian kuat hati perempuan, sehingga dia kuat berdiri di bawah salib sampai akhir kesudahannya. Sedemikian tabah hati seorang perempuan, sehingga dia mampu mengorbankan yang paling berharga dalam hidupnya, demi hidup itu sendiri. Kegembiraan perempuan terletak dalam memberikan yang paling berharga dalam hidupnya.
Dengan kekuatan dan cara maupun keutamaan seperti itu, sebagaimana ditunjukkan oleh Bunda Maria, perempuan dijadikan sanggup untuk menjadi rekan kerja dalam karya penciptaan dan penebusan manusia lewat misteri salib. Itulah perempuan dihadapan misteri hidup. Jadi perempuan diciptakan untuk karya pengilahian manusia dengan kekuatan dan keutamaan yang dimiliki. Dia menjadi rekan hidup laki-laki sekaligus mau diisi oleh yang lebih kuat dan menonjol dalam diri laki-laki. Arah kuat hidup dalam keperempuanan ialah hidup mistik dalam keterpautan hati karena cinta yang tak terbagi. Hidup seperti itu langsung menyentuh rahasia hidup adikodrati atau hidup ilahi sendiri.
Mengingat semuanya itu, dapat dimengerti bila perempuan pada umumnya mempunyai kepekaan atau rasa religius yang kuat. Mereka lebih cepat dan tanggap akan hal-hal rohani. Mereka mudah membawa diri ke dalam dunia hati dan rasa, yang membawa ke kesadaran bahwa nilai hidup ini lebih dalam daripada yang segera dapat ditangkap oleh pikiran dan indera. Hal itu dimungkinkan, karena sebagai perempuan, hidup mereka dikuasai oleh kesadaran betapa kuat daya menyembuhkan dan pengutusan cinta itu. Cara bertindak cinta ialah bukan dengan menguraikan, menegaskan dan membuktikan, tetapi terutama dengan mengungkapkan dan menyatakan hati kepada yang dicintai. Cinta lebih dinyatakan dalam menyentuh kebenaran terdalam dari yang dihadapi. Komunikasi cinta dari hati bukan sesuatu yang dingin, tetapi sesuatu yang memancarkan keagungan dan kemuliaan manusia dalam kehangatan dan kemesraan yang penuh kasih.
Kepekaan akan kemanusiaan, yang keluar dari lubuk hati, memberikan kekuatan kepada perempuan yang diresapi oleh kesanggupan untuk menderita demi yang lain dan demi Allah. Mereka dibuat dekat dengan penderitaan manusia. Mereka dijadikan mampu untuk memahami dengan hati, bahwa penderitaan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, menghidupkan dan mengharapkan. Penderitaan dan kesakitan mempunyai kekuatan penyelamatan. Maka perempuan juga lebih dapat dekat dengan salib Yesus. Penderitaan dapat memenangkan seseorang dan melahirkan hidup. Bukan penderitaan itu yang memenangkan seseorang, tetapi karena perempuan itu mampu menghayatinya seperti Kristus menghayatinya. Tragedi bukan terletak bahwa di dunia banyak penderitaan dan kesengsaraan, tetapi karena karena banyak penderitaan dan kesengsaraan dijadikan sia-sia. Untuk tidak menjadikan kesengsaraan dan penderitaan sia-sia, kiranya kata-kata St. Paulus berikut ini membantu bagaimana menghayati; “sekarang aku bahagia karena aku boleh menderita demi kamu dan menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu Gereja (Bdk. Kol 1:24)
Hidup seperti itu memang hidup ilahi. Maka juga diperlukan sarana-sarana adikodrati, yang datang dari Allah, yaitu kesatuan dengan Allah. Maka perempuan harus yakin akan 2 hal yaitu bahwa dirinya memerlukan Allah dan diperlukan oleh Allah. Itulah kekuatan dinamis untuk menghayati panggilan.

4.   Berbagai pembaktian perempuan
Perempuan diciptakan oleh Allah untuk memberikan hidup dan untuk hidup memberikan diri. Untuk hidup yang demikian:
Pertama: kebanyakan perempuan akan memberikan hidup dan dirinya kepada seorang dalam pernikahan. Sewaktu perempuan berlutut di depan altar dengan seorang laki-laki pilihannya, perempuan tersebut telah bersedia dan berjanji untuk mempersatukan hidup dan dirinya kepada laki-laki pilihannya. Dalam sakramen pernikahan itu, perempuan memberikan anugerah dan rahmat kepada laki-laki pilihannya, sebagaimana laki-laki sebaliknya memberikan itu kepadanya. Dalam pemberian anugerah rahmat pernikahan ini, perempuan memberikan yang paling berharga dalam dirinya kepada yang lain. Dia memberikan dirinya sendiri dan dia memberikan kepada Allah. Pemberian diri seperti itulah yang tumbuh pada tahun-tahun selanjutnya. Perempuan memberikan diri kepada bumi dan surga. Kristus lahir dalam tubuh dan jiwanya, bahkan Kristus lahir karena kerjasama mesra antara perempuan dan Allah dan antara dia dan laki-laki yang dicintainya. Perempuan melahirkan kehidupan yaitu manusia, tempat tinggal Allah sendiri sekaligus gambaran Allah sendiri. Pemberian diri perempuan yakni untuk bekerja sama dalam karya penciptaan Allah secara mesra. Dalam keibuannya, perempuan membaktikan diri secara langsung kepada laki-laki pilihannya. Dengan demikian, pembaktian diri perempuan berarti perempuan membaktikan diri kepada Allah dan sekaligus kepada laki-laki pilihannya yang adalah sebagai gambaran Allah.
Kedua: perempuan membaktikan hidup kepada Allah lewat berbagai tugas kemasyarakatan, entah dihayati bersamaan sebagai ibu rumah tangga atau juga sebagai perempuan karier/profesi melulu. Kepada perempuan, Allah menganugerahkan berbagai kecakapan, agar kemuliaan Allah diwujudkan dalam berbagai pengabdian perempuan kepada kemanusiaan. Kebaktian seperti itu mungkin untuk sementara perempuan merupakan panggilan hidup, yang membuatnya hidup tidak menikah. Apapun bentuk yang dipilihnya, perempuan kiranya tetap akan menghayati semua itu dengan jiwa dan ciri-ciri kemanusiaan yang menonjol. Apakah perempuan itu seorang dokter, ahli hukum, guru, pekerja sosial, perawat, dan lain-lain, bila ingin memuaskan tuntutan terdalam kodratnya, dia harus tetap berpegang pada kekuatan untuk memberikan diri dan hidupnya. Jadi dalam karier atau profesi manapun yang menjadi pilihan, perempuan tetap terpanggil untuk mewujudkan rencana Allah yang terkandung dalam diri perempuan, yaitu melindungi dan memelihara kehidupan.
Ketiga: bagi beberapa orang, pembaktian diri diarahkan langsung kepada Allah dengan jalan penghayatan hidup religius dalam lembaga hidup bakti. Mereka terutama membaktikan diri kepada Allah dengan mengikuti dan meneladan hidup Kristus. Pembaktian diri seperti itu sering disebut persembahan hati yang tidak terbagi-bagi pelayanan kasih demi kerajaan Allah. Bagi perempuan-perempuan ini, gambaran Kristus lahir bukan dari tubuh tetapi dari jiwa mereka, dari air mata dan doa-doa mereka, dari pergulatan mereka dalam pengabdian kepada anak-anak, kaum jompo, orang miskin, orang sakit, lemah dan tidak diperhatikan, dan sebagainya. Pembaktian religius seperti itu ditandai dengan kaul religius, keperawanan, kemiskinan, dan ketaatan, sebagai pernyataan dan pewartaan bahwa Allah nomor satu dalam hidup dan bahwa tujuan hidup di dunia ini terletak di dunia kelak sesudah hidup.

Reaksi:

0 komentar: