Minggu, 01 April 2012

Mengikuti Dia dalam Sengsara-Nya 2


Belajar Berdoa: Doa Yesus di Getsemani

  Permenungan ini diawali dengan satu pertanyaan: Apakah benar bahwa Yesus menyatakan diri sepenuhnya kepada para murid-Nya? Dalam Injil berkali-kali ditemukan bahwa Yesus mengatakan; setiap kata yang diucapkan Yesus, bukan milik Yesus sendiri, tetapi datang dari Bapa (Bdk. Yoh 3:34; 7:16; 14:24). Bahkan Ia berkata, “Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” (Bdk. Yoh 15:15)
       Namun kita menemukan satu aspek dari hidup Pribadi Yesus yang sepertinya tidak dibuka, pun kepada para murid-Nya yang disebut sebagai sahabat-Nya sendiri. Yesus malahan sering menyendiri untuk berdoa, pergi ke gurun pasir, ke bukit, dan bahkan sampai semalam-malaman; dan setelah Ia kembali kepada para murid-Nya, Yesus tidak memberitahukan atau membicarakan mengenai apa yang telah dibicarakan-Nya dengan Bapa-Nya. Saat-saat intim seperti itu yang diliputi suasana misterius membuat kita ingin tahu: apa yang dipercakapkan antara Yesus dengan Bapa-Nya? Bagaimana Yesus berdoa?
      Beberapa kali para murid-Nya mendengar Yesus berdoa, dan setiap kali juga selalu terjadi sesuatu yang luar biasa. Suatu kali terdengar suara Bapa menjawab “Engkaulah Putra-Ku”; di lain kali juga yakni ketika  Ia selesai berdoa dan Yesus bertanya “...tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?” dan setelah mendapat jawaban dari Petrus bahwa Ia adalah Putera Allah yang hidup, maka Yesus memberitahukan sengsaara-Nya, tetapi pada hari ketiga akan bangkit (Bdk. Luk 9:18-22). Di waktu yang lain, para murid melihat bahwa wajah Yesus berubah pada saat Ia sedang berdoa, dan mereka mendengar suara Bapa yang menyatakan bahwa Yesus adalah Putra-Nya (Bdk. Luk 9:35). Mereka mendengar bahwa Yesus bersyukur kepada Bapa sebab Bapa selalu mendengarkan setiap permintaan-Nya, beberapa saat sebelum Ia membangkitkan Lazarus (Bdk. Yoh 11:41); tetapi.......apa yang dipercakapkan Yesus dengan Bapa setiap kali Ia menyendiri dan berdoa?
     Hanya satu kali Yesus membiarkan diri didengar oleh para murid-Nya, yaitu pada santap malam terakhir. Di situ Ia berbicara lama tentang Bapa, dan para murid-Nya seperti tidak ada; Ia seperti tenggelam dalam Bapa. Tetapi di sini Ba[a tidak menjawab. Di sini juga, setelah selesai berbicara, Ia berdiri dan bertolak menuju Getsemani. Menuju saat-Nya! Sejak saat itu seperti terputus hubungan-Nya dengan Bapa. Mulai diamnya Bapa, mulai ketakutan, mulai gentar akan sengsara yang akan dialami-Nya. Sekarang tidak ada lagi kontak dengan Bapa, tidak ada lagi dialog, seolah-olah Bapa menceraikan-Nya, dan mengusir-Nya dari rumah-Nya.
    Namun Yesus, sampai saat terakhir berusaha, minta kepada surga yang tertutup bagi-Nya. Ia berusaha melunakkan Bapa agar menghindarkan-Nya dari kehinaan itu, dari kegagalan umum itu. Tetapi doa-Nya menjadi monolog seseorang yang tidak lagi mempunyai kata yang dapat diucapkan kecuali kehancurannya: “Bapa, sekiranya mungkin ambillah piala ini dari pada-Ku.”
     Sekarang kelihatan jauh perasaan Yesus yang berkata bahwa Ia sangat merindukan “saat” itu, saat Ia kan menyelesaikan misi-Nya, yang akan berakhir dengan suatu permandian darah yang dahsyat (Bdk Luk 12:50). Sejak sekarang Ia berdoa sebagaimana seorang manusia biasa yang akan menjalani hukuman mati tidak lama lagi. Memang penjelmaan merupakan suatu “perendahan” (katabasis) dalam situasi seperti ‘daging yang dikuasai dosa’ (Bdk. Rm 8:3). Sekarang Getsemani Yesus seperti mengalami situasi dan kondisi yang bisa dialami oleh smua manusia
   Sekarang Ia tampak pada mata para murid-Nya dan semua orang yang melihat-Nya, bukan sebagai Anak Allah yang hidup, bukan sebagai manusia yang sempurna yang mebuat orang berkata terpesona: “berbahagialah ibu yang telah mengandung engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Bdk. Luk 11:27). Sekarang Ia kelihatan sebagai manusia yang ditolak Allah, yang jauh dari Allah; jauh sebagaimana jauhnya dosa dari Allah.
     Apa yang diminta Allah kepada Kristus, apa yang kadang-kadang diminta-Nya kepada manusia, tampak tidak proporsional dengan kemampuan manusia. Adegan di Getsemani adalah suatu adegan tanpa belas kasihan. Yesus berusaha menjembatani jarak kepada Allah dengan doa, kendari Ia sudah tahu bahwa doa-Nya tidak akan dikabulkan, tidak akan dijawab. Karena itu doa-Nya berubah dan menjadi kepasrahan total kepada kehendak Bapa; “bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu lah yang terjadi”. Merasa diri ditolak oleh Bapa, Yesus seperti menyatakan protes-Nya: terserah Engkau memperlakukan Aku bagaimana, namun Aku tetap Anak-Mu.
Reaksi:

0 komentar: