Minggu, 29 April 2012

Apologi Sokrates


          Athena merupakan sebuah kota yang melahirkan Filsafat. Sokrates merupakan salah satu filsuf yang berasal dari kota itu. Dalam mengembangkan filsafatnya, tak satupun tulisan yang ditinggalkan Sokrates. Gambaran sosok Sokrates yang terkenal dalam sejarah filsafat ditulis oleh Plato dalam Apologinya.
            Secara etimologi, apologi berasal dari bahasa Yunani apologia dan bahasa Inggris apology yang berarti sebuah pidato pembelaan.[1] Apologi adalah pidato Sokrates untuk membela dirinya di depan sidang pengadilan atas aneka tuduhan yang diberikan kepadanya. Sidang pengadilan itu dihadiri oleh 500 orang anggota juri, sehingga sangat menggemparkan kota Athena saat itu.
Pada awal persidangan, Sokrates pertama-tama memberi salam kepada warga Athena dan menghimbau warga Athena untuk tidak terpengaruh oleh tuduhan-tuduhan para pendakwanya. Ia mengatakan bahwa semua  tuduhan yang diajukan oleh para pendakwanya bukanlah sesuatu yang benar. Adapun tuduhan kelompok pendakwa pertama; Anytus dan teman-temannya yang diajukan kepadanya  adalah “Dia sering mau serba tahu, dalam hal bahwa dia menyelidiki apa yang ada di bawah bumi dan yang ada di langit, dan mengubah argument yang lebih lemah menjadi argument yang lebih kuat dan mengajar orang lain untuk melakukan yang sama.”[2] Dengan kata lain Sokrates dituduh sebagai penghasut kaum muda. Selain itu, Sokrates juga mendidik dan menuntut bayaran dari orang lain.[3]  Sedangkan tuduhan kelompok pendakwa kedua yang diketuai oleh Meletus adalah “Sokrates perusak kaum muda, dia sang koruptor kaum muda dan sebagai seorang ateis, sokrates tidak percaya kepada dewa yang dianut oleh negara”[4]
Terhadap tuduhan-tuduhan para pendakwanya yang pertama, Sokrates memulai pembelaanya berdasarkan komedi Aristofanes yang mengisahkan seorang yang bernama “Sokrates berjalan-jalan di langit dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. Ia menyatakan bahwa komedi itu tidaklah benar, kemudian ia menanyakan kepada para pendengar apakah ia pernah berkata demikian dan mendiskusikan hal-hal yang dikatakan dalam komedi itu.[5] Berkaitan dengan tuduhan yang mengatakan bahwa Sokrates mendidik dan menuntut bayaran dari orang lain, Sokrates mengatakan bahwa hal itu dilakukan oleh Georgias dari Leontini dan oleh Evenus yang mengajar kedua anak Kallias. Tetapi Sokrates sendiri menyadari bahwa ia tidak memiliki pengetahuan seperti yang dimiliki oleh Evenus itu dan secara tidak langsung Sokrates berkata bahwa tidak mungkinlah ia menarik uang dari orang lain.[6]
Kemudian Sokrates menjelaskan duduk persoalan yang membuat dia mendapatkan fitnah serta desas-desus pembicaraan mengenai dirinya. Ia menceritakan bahwa semua itu bersumber dari orakel Delfi yang diceritakan oleh Khaerefon. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa “Sokrates adalah manusia paling bijaksana”. Setelah mendengar cerita itu, dalam diri Sokrates muncul sebuah pertanyaan “apa sebenarnya maksud Allah dari cerita tersebut.” Ia menyadari bahwa ia bukanlah orang yang bijaksana, maka darisitu timbulah keinginannya untuk membuktikkan kebenaran Orakel tersebut. Ia mencoba membuktikkan kebenaran itu dengan bertanya kepada setiap orang yang ia anggap bijaksana atau orang yang menganggap dirinya bijaksana antara lain politikus, penyair dan pengerajin. Setelah bertanya kepada mereka semua ia berpendapat bahwa tidak ada manusia yang paling bijaksana selain Allah sendiri. Tetapi dari aktivitasnya inilah, banyak orang menjadi tidak senang kepadanya.[7]
Sokrates menceritakan bahwa aktivitasnya dalam mencari dan menyelidiki orang yang dianggapnya bijak adalah demi ketaatannya kepada Allah. Aktivitas Sokrates itu diikuti oleh orang muda dan itu merupakan kemauan mereka sendiri. Ia menambahkan pula bahwa orang muda itu juga meniru cara Sokrates dalam melakukan penyelidikan dan karena itu pulalah banyak orang mengatakan bahwa Sokrates merusak kaum muda. Sokrates berpendapat bahwa tuduhan yang diberikan itu muncul karena orang yang diselidiki itu tidak bisa menjawab pertanyaan kaum muda. Dengan begitu tuduhan yang menyatakan bahwa Sokrates menghasut kaum muda tidak terbukti karena mereka meniru Sokrates atas kemauan mereka sendiri.[8]
Sokrates menanggapi tuduhan pendakwa kedua yang diketuai Meletus dengan cara dialog. Dalam dialog itu, Sokrates menggunakan jawaban lawan bicaranya (Meletus) untuk menyangkal tuduhan mereka, Tuduhan pertama mengatakan bahwa Sokretes merusak kaum muda. Ia menanyakan kepada Miletus “apakah hanya Sokateslah yang memberi pengaruh buruk kepada para pemuda sedangkan semua orang lain memberi pengaruh yang baik kepada mereka.” Miletus mengatakan “ya itulah persisnya”. Dari jawaban itu, Sokrates mengambil perbandingan dengan pelatih kuda, Sokrates bertanya “apakah semua orang membuat kuda lebih baik dan satu orang merusaknya atau malah sebaliknya satu orang yang membuatnya baik dan orang lain merusaknya”. Dalam kenyataannya memang hanya satu orang untuk melatih kuda, dengan demikian secara tidak langsung Sokrates yang benar dan tuduhan itu tidak benar.[9] 
Dakwaan yang kedua berkisar soal Sokrates yang ateis, tidak mengakui dewa-dewa. Sokrates menggunakan analogi menunggang kuda untuk melawan tuduhan Meletus. Ia bertanya adakah orang yang mengakui kuda, tapi tidak mengakui fenomena keahlian menunggang kuda?[10] Sokrates melanjutkan pertanyaannya, “Adakah orang yang mengakui fenomena spiritual itu ada, namun tidak mengakui roh-roh?”[11] Meletus menjawab “Tidak ada.” Sokrates mengatakan bahwa ia mempercayai hakikat-hakikat spiritual. Dan itu berarti ia mempercayai roh-roh (dewa-dewa). Dakwaan Meletus patah dengan sendirinya.
 Setelah Sokrates memberikan pembelaan, ia mengungkapkan pandangannya mengenai kematian, bagaimana kehidupanya yang selalu mencari kebijaksanaan dan bukan kekayaan. Ia menambahkan pula bahwa ia tidak pernah menjadi guru siapapun juga. Ia mengatakan pula bahwa ia  tidak pernah merusak orang dan bila ada mereka pasti mendakwaku dan menuntut ganti rugi. Setelah Sokrates mengungkapkan pandangannya kemudian diadakan voting dan dari 500 juri, sebanyak  280 juri menyetujui Sokrates dihukum dan kemudian Sokrates berbicara kembali dihadapan mereka. Setelah penyampaian beberapa hal maka juri memutuskan bahwa Sokrates dijatuhi hukuman mati. Setelah menerima vonis hukuman mati, Sokrates mengatakan bahwa ia tidak akan gentar menghadapinya. Ia mengutuk mereka yang menyetujui hukuman mati atasnya dan berkata bahwa mereka akan mendapat ganjaran yang lebih kejam. Sedangkan kepada mereka yang mendukungnya untuk dibebaskan, ia berkata bahwa mereka tidak boleh menghindari kematian demi satu kebenaran. Bagi Sokrates kematian merupakan sesuatu yang baik. Kematian adalah proses transformasi jiwa ke suatu tempat lain ataupun sebagai sebuah ketidakberadaan dimana orang tidak memiliki kesadaran tentang apapun. Kemudian pada akhir pernyataannya Sokrates meminta agar mereka menghukum anaknya bila  tidak menaruh perhatian pada kebajikan.[12]

Filsafat Sokrates
            Sokrates lahir di Athena pada tahun 470 SM. Ayahnya Sophroniscus seorang tukang pahat dan ibunya Phenarete seorang bidan. Masa kecilnya Socrates mendapatkan pendidikan yang baik seperti gymnastik, musik, puisi atau syair. Ia juga pernah belajar mengukir dari ayahnya. Sokrates muda banyak belajar dari filsuf-filsuf ternama seperti Prodicus dan Archelaus murid Anaxagoras. Ia pernah menjadi tentara dalam perang melawan orang-orang Peloponesos di Eleusis. Dalam perjalanan hidupnya ia tidak akan puas dengan kebenaran yang telah diketahuinya. Bisa dikatakan Sokrates merupakan sosok pencari kebenaran sejati dan orang yang cerdik sehingga ia tidak pernah salah dalam menimbang baik dan buruk. Cita-citanya tidak mengajarkan filosofi melainkan hidup berfilosofi dalam mencari kebenaran.[13]
Keinginannya untuk mengajarkan hidup berfilosofi muncul karena adanya berbagai faktor yang terjadi dalam masyarakat Yunani pada zaman itu. Faktor tersebut merupakan dampak dari berakhirnya perang Parsi pada tahun 449 SM. Pada waktu itu Athena belum mengalami perkembangan dalam bidang filsafat dan ilmu pendidikan yang sedang berkembang pada abad ke-6 SM. Saat itu Athena mengalami perkembangan dalam bidang politik dan ekonomi di bawah kekuasaan Perikles sehingga banyak orang asing di Athena. Tetapi sejarah mengatakan bahwa kota yang mengalami kemajuan dalam bidang politik dan ekonomi juga menjadi pusat perkembangan bidang intelektual dan kultural. Seiring dengan perjalanan waktu kebutuhan akan pendidikan semakin dirasakan di Athena. Maka mulailah para sofis menampakkan diri untuk mengajar berkeliling dari kota ke kota.[14]
            Dalam filsafatnya Sokrates juga memiliki kesamaan dengan kaum sofis. Sokrates menjadikan manusia  sebagai obyek penyelidikannya. Manusia dipandangnya sebagai makhluk yang mengenal, yang harus mengatur tingkah lakunya sendiri dan hidup di dalam masyarakat. Meskipun demikian, Sokrates juga muncul sebagai orang yang memberikan reaksi terhadap ajaran sofisme yang merajalela pada waktu itu. Alasan yang mendasar bagi Sokrates adalah para sofis mengajarkan tentang kebenaran sejati yang tidak tercapai. Kebenaran dicapai berdasarkan kesepakatan orang banyak. Hal ini berarti bahwa para sofis berusaha membuat kebenaran berdasarkan kekuatan kata-kata untuk memperoleh persetujuan orang banyak tentang hal yang diajarkan. Dengan demikian sebenarnya  para sofis mengajarkan pengetahuan yang dangkal kepada para pendengar ajaran mereka. Lalu metode apa yang digunakan Sokrates untuk mewujudkan reaksinya terhadap ajaran sofisme yang menguasai manusia Athena pada masa itu?
Menurut Plato murid Sokrates metode yang digunakan oleh sang guru untuk mewujudkan reaksinya terhadap ajaran kaum sofis adalah metode dialektis. Dialektika berasal dari kata kerja Yunani dialegestai yang berarti bercakap-cakap atau berdialog, sehingga dalam metode ini dialog memegang peranan penting. Dialektis (dialektos) juga berarti pidato, pembicaraan, perdebatan. Plato mengatakan bahwa gurunyalah penggagas bentuk dialektis klasik dan Sokrates juga termasuk orang yang senang berdialog dengan orang yang dijumpainya di sepanjang jalan kota Athena.[15]
Dialektika Sokrates ingin membawa manusia pada hakikat kebenaran melaui dialog-dialog untuk menjelaskan konsep-konsep secara bertahap.  Dalam dialognya Sokrates mengawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang sederhana berkaitan dengan hal yang belum diketahui kebenaran sejatinya. Dialognya digambarkan dalam usahanya untuk meyakinkan bahwa dirinya bukan orang yang bijaksana seperti apa yang dikatakan orakel para dewa dengan bertanya kepada siapa saja yang dipandang sebagai bijaksana.[16]
Sokrates orang yang sangat kritis dan cerdik dalam menyikapi pernyataan, pertanyaan dan jawaban-jawaban yang diberikan kepadanya. Ia tidak berhenti pada satu pernyataan, pertanyaan dan jawaban pertama yang diterimanya melainkan terus memberikan pertanyaan mencari kebenaran sejati dari apa yang tidak diketahuinya. Karena itu seringkali pertanyaan yang diajukan oleh Sokrates cukup membingungkan partnernya. Hasil yang kerap kali menuai kebingungan itu ternyata dalam dialog-dialognya menghasilkan suatu definisi yang berguna bagi proses pencarian kebenaran sejati. Dan inilah yang oleh Plato disebut sebagai ironi Sokrates.
Caranya yang tulus dan jujur dalam berfilsafat membuat Sokrates banyak memperoleh kawan. Para pemuda Athena sangat menyukainya. Tetapi di lain pihak cara Sokrates itu tidaklah sepenuhnya mendapat sambutan baik dari orang yang diajaknya berdialog. Lawannya juga banyak, terlebih para sofis dan para politikus penganut aliran sofisme yang diuntungkan dengan metode retorika yang diajarkan kaum sofis jaman itu.
            Sokrates terus mencari kebenaran sejati kepada banyak ahli dan orang yang dipandang bijak pada masa itu. Kebanyakan dari ahli dan orang bijak yang ia jumpai tidak bisa membuktikan bahwa kebenaran sejati tidak ada. Dengan demikian Sokrates dapat menyimpulkan bahwa orang-orang yang dianggap ahli dan bijak itu tidaklah demikian adanya. Sikap Sokrates yang terus memburu kebijaksanaan dan kebenaran sejati membuat dirinya semakin dibenci oleh orang-orang tersebut. Tetapi tidaklah semua orang di Athena membenci Sokrates. Sebenarnya tujuan utama dari dialog yang dilakukan oleh Sokrates tidak lain adalah untuk memperoleh pengertian dan kebenaran yang mendalam tentang keutamaan etis. Oleh karena itu, ia menggunakan metode induksi sebagai dasar untuk memperoleh definisi.
Induksi dalam metode yang digunakan Sokrates ini adalah menyimpulkan pengetahuan yang bersifat umum dengan bersumber pada pengetahuan yang bersifat khusus.[17] Ia memulai pertanyaan dan contoh-contoh dengan sesuatu yang bersifat spesifik. Hal ini bisa dilihat dari usahanya untuk menyelidiki apa yang dimaksud dengan keutamaan. Ia mencoba bertanya pada tukang-tukang sepatu, tukang-tukang besi dan tukang-tukang tenun karena mereka dianggap sebagai orang yang memiliki keahlian yang dianggap sebagai keutamaan mereka.[18] Bagi Sokrates, keutamaan adalah pengetahuan. Keutamaan yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki keahlian tertentu akan membuat ia menjadi seorang ahli  yang baik. Dalam keutamaan yang dimilikinya tersebut di dalamnya mengandung pengetahuan karena seorang ahli  pasti mengetahui apa yang menjadi tujuan dari apa yang dihasilkan dari keahliannya. Jawaban-jawaban yang diperolehnya itu digunakan untuk merumuskan definisi yang bersifat umum.
Cara berfilsafat yang dilakukan oleh Sokrates ini hendak menyadarkan bahwa sebuah kebenaran itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan  membutuhkan perjuangan dengan bertanya dan terus bertanya. Apa yang dilakukan oleh Sokrates ini disebutnya sebagai maieutike tekhne (seni kebidanan), dimana ia menganggap dirinya sebagai bidan yang membantu melahirkan bayi, melahirkan pengertian yang benar dalam pikiran orang lain. Latar belakang keluarganya yaitu ibunya yang bekerja sebagai seorang bidan ikut mewarnai bagaimana ia berfilsafat. Sokrates tidak membidani tubuh tetapi membidani pengetahuan dalam jiwa orang lain melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya dan menguji kebenaran dari nilai pikiran-pikiran yang sudah dilahirkan itu.



Daftar Pustaka


Bagus,Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta:Gramedia, 1996.

Bertens,K.. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta:Kanisius, 1975.

Filsafat Sokrates, dari
http://www.mustikoning-jagad.com,Tuesday,29 September 2009.

Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta:Kanisius, 1980.

Rahmat, Ioanes.Sokrates Dalam Tetralogi Plato. Jakarta:Gramedia, 2009.

Riyanto, Armada.Diktat Pengantar Filsafat.






[1] Lorens bagus,Kamus Filsafat,Jakarta:Gramedia,1996,hlm.67.
[2]Ioanes Rahmat,Sokrates dalam Tetralogi Plato,jakarta:Gramedia,hlm 84.
[3] Ibid., hlm. 85.
[4] Ibid., hlm. 94.
[5] Bdk.ibid., hlm. 85.
[6] Bdk.ibid., hlm. 85-87.

[7] Bdk.ibid., hlm. 88-92.
[8] Bdk.ibid., hlm. 92-93.
[9] Bdk.ibid., hlm. 95-97.
[10] Ibid.,hlm.100.
[11] Ibid.,hlm.101.
[12] Bdk.ibid., hlm. 102-130.
[13] http://www.mustikoning-jagad.com,Tuesday,29 September 2009
[14] Prof.Dr.K.Bertens,Sejarah Filsafat Yunani,Yogyakarta,Kanisius,1975,hlm.84-85
[15] Loc.cit,Lorens Bagus,hlm.161-162
[16] Bdk.Dr.Armada Riyanto, CM,Diktat Pengantar Filsafat,hlm.6
[17] DR.Harun Hadiwijono,Sari Sejarah Filsafat Barat 1,Yogyakarta:Kanisius,1980,hlm.36
[18] Loc.cit,Prof.Dr.K.Bertens,hlm.88

Reaksi:

0 komentar: