Jumat, 16 Maret 2012

Nietzche


Nietzche

Kehidupan
Friedrich Nietzsche dilahirkan di kota Röcken, di wilayah Sachsen. Orang tuanya adalah pendeta Lutheran Carl Ludwig Nietzsche (1813-1849) dan istrinya Franziska, nama lajang Oehler (1826-1897). Ia diberi nama untuk menghormati kaisar Prusia Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama. Adik perempuannya Elisabeth dilahirkan pada 1846. Setelah kematian ayahnya pada 1849 dan adik laki-lakinya Ludwig Joseph (1848-1850) keluarga ini pindah ke Naumburg dekat Saale.
 Filsuf ini dikenal memiliki pemikiran yang kontroversial, radikal, frontal, serta ateistik. Ketika duduk dibangku sekolah dasar ia sudah pandai membaca dan menulis dan tergolong anak yang paling pandai bergaul, sejak kecil ia sudah memiliki ketertarikan pada bidang sastra dan musik. Pada umur 14 tahun Nietzsche pindah kesekolah dan sekaligus asrama yang bernama pforta, sekolah ini dikenal cukup keras dan ketat. Semenjak disekolah ini ia mendapat pelajaran bahasa Yunani dan Latin, dan dari sini ia mendapatkan bekal yang kuat untuk menjadi seorang ahli filologi. Di pforta inilah ia mulai kagum dengan karya-karya klasik Yunani dan kejeniusan para pengarang Yunani. Pada tahun-tahun terakhir di pforta Nietzsche sudah menunjukkan sikap jalangnya dengan mengarang “ohme Heimat” (tanpa kampung halaman) yang didalamnya memuat gejolak hatinya yang ingin bebas dan berharap bisa dipahami, bersamaan dengan hal tersebut ia mempertanyakan iman kristennya dan bahkan secara perlahan-lahan mulai meragukan seluruh ajaran agama.
Tahun 1864 Nietzsche melanjutkan studi di Universitas Bonn untuk memperdalam Filologi dan teologi. Namun, semenjak tahun 1865 Nietzsche memutuskan untuk tidak belajar teologi lagi. Keputusan ini erat kaitannya dengan kepercayaan Nietzsche yang sudah mulai pudar sejak ia masih tinggal di pforta. Di Bohnn Nietzsche hanya belajar selama 2 tahun lalu pindah ke Lipzigh untuk belajar filologi. Pengalaman membaca Schopenhauer merupakan suatu peristiwa terpenting dalam kehidupan intelektual Nietzsche. 

NIHILISME
Membuat orang gelisah adalah tugas saya (F. Nietzsche)
        The Madman mengatakan: “ Tuhan sudah mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?[Nietzsche, The Gay Science, seksi 125; terjermahan Walter Kaufman]
Dalam buku kumpulan Aforismenya “Der Wille Zur Match”, Nietzsche membuka tulisannya dengan gagasan tentang Nihilisme. Dia meramalkan bahaya dari segala bahaya yaitu Nihilisme. Pada dasarnya gagasan ini bukanlah suatu gagasan baru, semangat nihilistik sudah banyak ditemukan. Wacana tentang nihilisme merupakan sebuah renungan tentang krisis kebudayaan, khususnya kebudayaan Eropa. Hal ini digambarkan orang-orang Eropa yang sudah tidak sanggup lagi merenungkan dirinya sendiri, yang takut merenung. Hal ini dapat dikatakan merupakan sebuah “insight” tentang apa yang hendak terjadi pada zaman sesudahnya. Disamping merupakan hasil perkembangan sejarah sebelumnya, nihilisme juga dapat dikatakan merupakan akibat timbulnya pemikiran Nietzsche yang menghantam sisa-sisa pemikiran sebelumnya. Nihilisme meliputi seluruh segi kehidupan manusia, yang dapat dibagi dalam 2: Keagamaan (termasuk moral) dan Ilmu pengetahuan.
Runtuhnya dua bidang ini akan membuat manusia kehilangan jaminan dan pegangan untuk memahami dunia dan hidupnya. Nietzsche memaklumi situasi ini dengan terus meneriakkan “Tuhan sudah mati!!!, kita telah membunuhnya”. Ungkapan tersebut digunakan Nietzsche untuk mengawali perang melawan setiap bentuk jaminan kepastian yang telah mulai pudar.
Jaminan Tuhan seperti diwariskan oleh agama Kristen.
Model tuhan seperti ilmu pengetahuan, prinsip logika, rasio, sejarah, dan kemajuan (progress).

 Cara Mengatasi Nihilisme
              Nietzsche menolak sikap diam dalam menghadapi nihilisme, sikap diam bukanlah sikap netral, sikap ini akan mengantar manusia ke dalam situasi dekaden yang tak tertahankan. Dekaden merupakan sikap yang tidak berkata “Ya” pada hidup. Alternatif yang diajukan Nietzsche adalah sikap tidak tinggal diam, yaitu mengatasi nihilisme tanpa harus menolak nihilisme. Upaya ini dilakukan dengan membalikkan nilai-nilai. Membalikkan nilai-nilai berarti mengadakan penilaian kembali terhadap nilai-nilai yang sudah ada hingga sekarang. Dalam upaya merevaluasi seluruh nilai Nietzsche memandang nilai tidak lebih dari titik berangkat dari suatu pengembaraan. Kita kadang-kadang memerlukan nilai-nilai baru, namun kadang-kadang pula kita harus melepaskan nilai yang telah kita miliki. Kebenaran menurut Nietzsche bukan merupakan kebenaran yang absolut. 

Kehendak Untuk Berkuasa
              Kehendak untuk berkuasa dipaparkan secara gamblang dalam bukunya yang berjudul “The Will to Power”. Dalam beberapa bukunya Nietzsche menggunakan kata “kuasa” dalam beberapa konteks yang berbeda. Mula-mula Nietzsche memaksudkan kehendak untuk berkuasa sebagai prinsip untuk menerangkan perilaku, khususnya prilaku yang tidak disukainya. Dalam perkembangan selanjutnya kehendak lebih diartikan sebagai dorongan-dorongan hidup yang dimiliki oleh orang-orang Yunani kuno sehingga mereka mampu menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Baru dalam bukunya “Also Sprach Zarathustra” pembicaraan tentang zarathustra dilakukan secara filosofis
              Dalam bukunya “Beyond Good and Evil” Nietzsche menyebutkan bahwa hakikat dunia adalah kehendak untuk berkuasa, dan dalam “The Genealogy of Morals” dikatakan bahwa hakikat hidup adalah kehendak untuk berkuasa. Dan dalam “The Will to Power” hakikat terdalam dari ada adalah kehendak untuk berkuasa. Singkatnya kehendak untuk berkuasa merupakan hakikat dari dunia, hidup dan ada. Bagi Nietzsche kehendak untuk berkuasa merupakan khaos yang tak memiliki landasan apapun. Semangat Nietzsche untuk mendobrak konsep metafisik terlihat dalam makna yang terkandung pada kata kehendak (will) dan kuasa (power). Kehendak merupakan gejala yang sifatnya plural yang muncul karena terjadinya perbedaan kekuatan (power). 

Kehendak untuk Berkuasa vs Politik
              Gagasan untuk berkuasa yang ditulis secara aforistik dalam catatan-catatan yang ditinggalkan ini telah mengundang berbagai macam penafsiran, dan salah satu penafsirannya adalah merupakan hipotesis politik. Dalam bukunya “Nietzsche der philosoph und politiker” Alfred Baumler meyakinkan bahwa disamping sebagai seorang metafisi, Nietzsche juga merupakan seorang politikus. Penafsiran ini sulit dipisahkan dari ideologi Nazi jerman pada zaman hitler. Ini merupakan upaya yang baik untuk memadukan ideologi Nazi dengan gagasan kehendak untuk berkuasa, demikianlah akhirnya gagasan kehendak untuk berkuasa dijadikan legitimasi ilmiah untuk menyerukan dan  merealisasikan slogan “ Deutschland Deutschland uber Alles”.
              Pemahaman semangat kehendak untuk berkuasa secara politis ini sebenarnya sudah dirintis oleh Elizabeth, saudari Nietzsche. Negara dipandang sebagai musuh besar karena merupakan penghambat bagi kebebasan untuk merealisasikan diri. Penolakan ini dipertegas dengan pandangannya mengenai kedudukan manusia dalam dunia (die sonder stellung des menschen im cosmos). Menurut Nietzsche kedudukan manusia terletak diantara binatang dan apa yang disebut Ubermansch. Yang membedakan manusia dan binatang terletak pada bahwa manusia memiliki tujuan yang hanya dapat dicapai oleh manusia itu sendiri. Manusia memiliki kemungkinan dan kemampuan untuk mengatasi dirinya. Agar setiap orang dapat mengatasi dirinya.
           Ia menolak negara, karena negara hanyalah merupakan kesatuan orang-orang yang hidup setengah-setengah. Oleh karena itu negara harus dipandang sebagai godaan yang harus diatasi supaya orang dapat mencapai dirinya sendiri, negara adalah sumber dari berbagai konformitas. Nietzsche membagi tingakatan kebudayaan menjadi 3:
Barbar : kehendak manusia untuk menundukkan dan melukai orang lain
Normal : kebudayaan orang-orang yang mengagumi dan membiarkan sesamanya tertawa dan bahagia.
Asketik : orang lebih berpaling pada diri sendiri dan mengadakan penguasaan diri.
Orang yang berada pada kebudayaan ketiga akan merasakan dirinya sebagai orang yang paling berkuasa. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa gagasan kehendak untuk berkuasa bukanlah suatu provokasi politik. Karena kebanyakan orang mengaitkan begitu saja filsafat Nietzsche dengan gejolak politik yang terjadi di zamannya.

 Kehendak Untuk Berkuasan dan Pengetahuan
              Diawali dengan kritik Nietzsche terhadap Kant, karena Kant merupakan filsuf pertama yang secara sistematis mencoba melakukan kritik terhadap pengetahuan. kant berupaya untuk meninggalkan penggunaan akal secara dogmatis tanpa kritis. Nietzsche memuji kejelian Kant untuk melakukan kritik terhadap penggunaan rasio, namun disatu sisi Nietzsche melihat keterbatasan bahkan kebuntuan jalan yang diperlihatkan oleh Kant. Kritik Nietzsche terhadap Kant secara singkat dapat dirumuskan:
Sekalipun Kant sudah melakukan kritik rasio, teori pengetahuan Kant masih didominasi dan dikendalikan oleh pandangan teologis, dogmatis, dan prespektif yang bersifat moral.  
Kritik Nietzsche pada Kant terdapat dalam 2 hal: Penilaian Nietzsche tentang pengetahuan sebagai keputusan (judgement). Dan Penilaiannya tentang apa yang disebut Kant benda pada dirinya sendiri.
         Nietzsche menegaskan bahwa keputusan harus bersifat sintesis, dalam artian keputusan tersebut menghubungkan beberapa gagasan. Keputusan tersebut juga harus bersifat Apriori, artinya harus bersifat Universal. Kritik Nietzsche yang lebih penting berkaitan dengan kepercayaan Kant tentang adanya fakta pengetahuan. bagi Nietzsche hal tersebut merupakan dosa asal, yang merupakan keyakinannya pada adanya fakta pengetahuan. Nietzsche menunjukkan batu pertema yang menyangga pengetahuan adalah kepercayaan. Pengetahuan yang diajukan Kant menurut Nietzsche merupakan bentuk paling murni dari kepercayaan.
              Sehubungan dengan benda pada dirinya sendiri (das ding an sich) Nietzsche mengatakan bahwa dengan mata yang sudah kaburpun orang dapat melihat bahwa pembedaan dunia fenomenal dari das ding an sich tidak dapat sudah tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi. Nietzsche berpendapat bahwa pengakuan Kant akan das ding an sich menjadi dunia yang kita hadapi menjadi kurang bernilai, pandangan Kant ini justru akan membuat orang akan semakin menjauh dari das ding an sich, yaitu suatu model Tuhan yang belum berhasil ditanggalkan oleh Kant. Bagi Nietzsche pengakuan akan adanya das ding an sich  sama sesatnya dengan pengakuan adanya makna-pada-dirinya atau postulat adanya tuhan yang dikemukakan oleh Spinoza, yang dilanjutkan pada kritiknya terhadap fakta pada dirinya sendiri. Karena baginya fakta terhadap diri sendiri itu tidak ada. Esensi juga tidak ada, apa yang disebut fakta atau sensi adalah hasil dari pemberian makna atau kualitas dari sudut pandang tertentu.

 UBERMENSCH
              Melalui Ubermensch Nietzsche ingin mengajak orang berupaya menjadi kerasan tinggal di dunia. Sampai sekarang paling tidak ada 2 istilah Inggris yang dipakai untuk menerjemahkan Ubermensch: Supermen : menurut Oscar Levy, R.J Hollingdale, yang dapat ditemukan dalam karya Nietzsche “The Man and His Philosophy” dan “Eco Homo”. Manusia unggul dalam bahasa Indonesia. 

 Zarathustra
              Ajaran Nietzsche tentang Ubermensch diperkenalkan lewat mulut tokoh Zarathustra. Ajaran ini merupakan satu dari dua buah rohani terpenting dari kontemplasi Zarathustra diperbukitan selama bertahun-tahun. Selama 10 tahun Zarathustra menikmati roh dan kesunyian, lalu ia memutuskan untuk meninggalkan bukit dan turun ke kota. Dan berbagi tentang ajarannya kepada penduduk tentang Ubermensch “Tuhan sudah mati”.
              Bagi Nietzsche kebutuhan orang yang paling mendesak adalah soal pemaknaan. Ubermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri tanpa berpaling dari dunia dan menengok ke seberang dunia. Ubermensch berada di dunia ini dan tidak berada disebrang dunia. Dulu menghujat Tuhan merupakan hujatan yang paling keji, namun kini tuhan telah mati. Bagi Nietzsche yang sekarang berlaku adalah ‘menghujat dunia adalah dosa yang paling berat”. Kini manusia harus turun ke dunia dan mengakui dunia serta dirinya sebagai sumber nilai. Berpalingnya manusia pada tuhan merupakan akibat ketidak berdayaan manusia sendiri menghadapi kenyataan hidupnya dan memaknainya. Nietzsche menilai bahwa pesimisme terhadap hidup disebabkan oleh kerisauan akan dorongan-dorongan hidup. Sutu-satunya penghargaan akan hidup adalah dengan berkata “ya” pada hidup. Menurut Nietzsche penolakan hidup tidak hanya karena orang berhadapan dengan penderitaan yang menakutkan, penolakan juga dapat terjadi karena orang merasakan mempunyai kekuatan yang sangat dasyat. Dari uraian yang dipaparkan dapat digambarkan bahwa Ubermensch merupakan semacam pengganti Tuhan yang yelah dibunuhnya.

 Kedudukan Manusia: Antara Ubermensch dan Binatang
              Manusia tidak lebih daripada suatu entitas atau satuan kekuasaan yang terus-menerus hendak mengaktualisasikan diri lewat konflik. Konflik dijadikan kehendak yang paling kuat, yaitu kehendak untuk mengatasai atau menguasai. Dalam suasana semacam inilah sebenarnya kedudukan manusia berada di dunia. Dia harus mengatasi diri terus-menerus. Nietzsche menunjukkan kedudukan manusia di dunia yaitu dilukiskan dalam situasi manusia bagaikan tali yang terentang antara binatang dan Ubermensch. Bagi Nietzsche manusia bukanlah produk alam semata-mata seperti yang diyakini Darwin. Manusia memiliki potensi untuk mengatasi status kebinatangannya dan sekaligus mengarah pada Ubermensch. Kedudukan ini selalu membuat manusia dalam keadaan bahaya, dan pilihan jatuh pada perang. Sebab, dengan cara inilah manusia menuju Ubermensch.
              Kedudukan manusia di dunia yang selalu dalam keadaan bahaya menunjukkan kebesarannya. Kebesaran manusia adalah bahwa ia merupakan tujuan (Zweck), bergerak ke depan (Ubergang), dan bergerak ke belakang (Untergang). Pernyataan Nietzsche ini ,menunjukkan ciri hakiki manusia yang bersifat transisional dalam arti yang sesungguhnya. Manusia adalah makhluk yang tak henti-hentinya menyebrang, dari binatang menuju Ubermensch, dengan kata lain ciri khas manusia adalah mengatasi status kebinatangannya sekaligus menuju Ubermensch. Namun, menurut Nietzsche manusia tidak dapat begitu saja menuju Ubermensch kecuali apabila ia dapat mengatur naluri-naluri hidupya. Dengan pengaturan naluri sebenarnya Nietzsche ingin mengatakan bahwa Ubermensch dapat terwujud dengan prinsip kehendak untuk berkuasa.
              Ubermensch sebagai tujuan hidup diciptakan sendiri oleh manusia dan cara mewujudkannya sepenuhnya berasal pada kemampuan manusia. Singkatnya, Ubermensch adalah cita-cita hidup yang diciptakan dan dikejar oleh orang yang terus menerus diliputi semangat kehendak untuk berkuasa. Ubermensch sebagai tujuan hidup diciptakan berdasarkan potensi-potensi dan kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki setiap orang, dengan demikian akan selalu berada dalam lingkup  potensialitas manusia dan tidak berada di luar dirinya. Bagi orang yang sedang menuju Ubermensch perasaan bersalah dirasa tidak lagi relevan.
              Dapat dikatakan disini bahwa pada dasarnya posisi manusia terletak antara binatang dan Ubermensch, yang disatu pihak ditandai dengan bahaya untuk menyerah pada dorongan hidup dan resiko untuk berperang. Di lain pihak, kedudukan ini justru menandakan kebesaran manusia yang tidak identik dengan binatang. Kebesaran manusia ini hanya bisa didapat bagi orang yang mengarahkan dirinya kepada Ubermensch. Yaitu suatu kemungkinan optimal seseorang berdasarkan potensialitas kemanusiaannya atau dorongan hidupnya. Ubermensch ini begitu dekat dengan manusia dan setiap saat siap direalisasikan karena justru ia diciptakan untuk memenuhi kehendaknya untuk berkuasa.

 Siapakah Ubermensch?
              Jika Nietzsche berbicara tentang Ubermensch maka seolah-olah ia menunjuk suatu pribadi tertentu yang pada suatu saat benar-benar akan datang. Menurut Zarathustra datangnya Ubermensch mensyaratkan pengorbanan diri demi dunia dan bukn demi binatang-binatang jauh dilangit. Dan kedatangannya harus disiapkan dengan segala daya pengetahuan dan karya. Bagi Nietzsche Ubermensch sudah terpenuhi dalam diri Hitler. Namun, ternyata pengetian tentang Ubermensch pada hakikatnya melebihi sekedar manusia super. Ubermensch merupakan kemungkinan besar yang dapat dilihat dan dapat dicapai seseorang berdasarkan prinsip kehendak untuk berkuasa. Dengan demikian Ubermensch selalu berada di depan mata setiap orang yang berkehendak untuk berkuasa.
              Oleh karena itu Ubermensch tidak pernah dapat ditunjuk dalam perjalanan sejarah. Bagi Nietzsche makna terbesar dari dunia terletak pada Ubermensch. Untuk mencapai makna besar itu, orang harus selalu menjadi jembatan menuju Ubermensch. Orang akan menjadi jembatan bagi Ubermensch jika seluruh hidupnya diwarnai dengan kehendak untuk berkuasa. Ini berarti setiap orang harus selalu siap mengatasi naluri-naluri kebinatangannya dan mengatur hidupnya sedemikian rupa sehingga dia terus-menerus mendapatkan pengalaman akan bertambahnya kekuasaan.

 Tanggapan dan Kritik
Urgensi The Last Men dibanding Ubermensch
              Dalam Thus Spoke Zarathustra karya Friedrich Nietzsche, yang terbit pertama kali pada tahun 1883. memperkenalkan tokoh Ubermensch, yang dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan sebagai the Overman. Ubermensch adalah tokoh ideal ciptaan Nietzsche yang memiliki ambisi untuk berkuasa, tidak pernah puas, selalu ingin lebih dari yang lain, dan mampu menciptakan nilai-nilai untuk dirinya sendiri lepas dari nilai-nilai tradisional yang telah ada. Selain itu, ada lagi tokoh ciptaan Nietzsche yang merupakan kebalikan dari Ubermensch, yaitu der letzte Mensch, yang dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan sebagai the Last Man.
              Tokoh the Last Man “dicibir” oleh Nietzsche sebagai tokoh yang lemah, tidak mau mengambil resiko, cepat puas dengan apa yang sudah dicapainya, dan hanya mencari keamanan dan kenyamanan hidup. Tokoh the Last Man di era post modern ini muncul dalam buku karya Francis Fukuyama, pengamat politik dari Amerika Serikat, yang berjudul The End of History and the Last Man, yang terbit pertama kali pada tahun 1992.
             Dalam buku karya Fukuyama itu dijelaskan bahwa setelah runtuhnya negara komunis raksasa Uni Soviet di akhir tahun 1980-an, di dunia ini sudah tidak ada lagi pertarungan ideologi. Kapitalisme dengan demokrasi liberal telah mencapai kemenangannya dan menjadi satu-satunya ideologi yang dipercaya bisa membawa manusia kepada kesejajaran dalam mencapai kemakmuran. Pada saat itulah, sejarah manusia berakhir, karena tidak ada lagi pertarungan ideologi yang dapat dicatat dalam sejarah manusia. Selanjutnya, lahirlah manusia-manusia terakhir (the Last Man), yang tidak lagi peduli pada ideologi dan cenderung apatis dalam pilihan-pilihan politiknya. Oleh karena itu, pandangan terhadap partai politik juga berubah, di mana persoalan ideologi tidak lagi menjadi penting. Yang terpenting adalah upaya kongkrit apa yang bisa dilakukan oleh partai politik untuk kesejahteraan rakyat. Jadi di sini yang ingin saya tekankan bahwa konteks Ubermensch pada masa postmodern ini keurgensiannya tidak begitu berarti lagi dibandingkan dengan teori “The Last Men”
 
Nietzsche dan Demokrasi
Nietzsche, meninggal tanggal 25 Agustus 1900 dan hampir 105 tahun ia dikenang dengan pemikirannya. Ia tidak kuasa melawan kehendak Tuhan yang disebutnya telah mati itu. Sebagian besar hidupnya dijalani dengan berbagai macam penyakit. Nyaris separuh usianya ia pertahankan dengan obat. Pada detik-detik terakhir masa hidupnya ia gila. Ia tidak tahu lagi apa yang telah diperbuatnya, bahkan tak sampai menyadari bahwa dirinya telah demikian terkenal. Nietzsche, lepas dari berbagai kritik para pemikir lain, memang seorang filsuf besar pada zamannya, bahkan masih terus berpengaruh pada zaman berikutnya. Ia disebut-sebut sebagai pemberi ilham sekaligus martil bagi postmodernisme. Pemikirannya bisa ditemukan pada Michel Foucault, Karl Jaspers, dan Jacques Derrida.
Tapi apakah yang dapat kita raih dari Nietzsche? Bukankah Nietzsche antidemokrasi, sementara hari-hari belakangan ini kita sedang mabuk demokrasi? Bukankah Nietzsche manusia murtad yang berteriak-teriak bahwa Tuhan telah mati, sementara kita justru merupakan bangsa yang, katanya, religius? Barangkali kita memang bukan Nietzsche dalam soal keberanian, tetapi rupanya kita lebih dari Nietzsche dalam masalah kedurhakaan. Sebagai sebuah refleksi dalam ke-105 tahun kematian Nietzsche, saya akan mencoba menunjukkan bagaimana pernyataan tersebut mendekati kebenarannya.
Ada dua point penting dalam gagasan besar Nietzsche, yakni “kehendak untuk berkuasa” dan “kematian Tuhan”. Jika dua topik ini disandingkan, segera tampak satu benang merah yang erat mengikatnya. Tuhan adalah sebuah entitas kuasa. Berbicara mengenai Tuhan tidak bisa lepas dari soal kemahakuasaan. Ini berarti Tuhan bermakna karena ada kuasa yang dimilikinya. Tanpa pemilikan terhadap kekuasaan, bukan Tuhan namanya. Tuhan adalah kuasa itu sendiri. Keadaan ini, jika dihubungkan dengan dua aforisma Nietzsche tadi, jelas yang dimaksud dengan kehendak berkuasa itu bukanlah kehendak Tuhan, melainkan ada pihak lain yang ingin mengambil alih kuasa itu dari Tuhan. Agar kehendak ini tercapai, Tuhan harus dimatikan.
Namun, apakah memang demikian adanya yang dimaksud Nietzsche? Tentu saja pemaknaan tersebut hanya sebuah interpretasi. Ada banyak buku yang telah membahas Nietzsche dan semuanya merupakan interpretasi saja. Hal ini terjadi karena pemikiran Nietzsche memang sulit dipahami. Elizabeth, adik Nietzsche, yang notabene orang sangat dekat dengan Nietzsche, juga pernah menginterpretasikan pemikiran Nietzsche dengan sangat subjektif. Elizabeth menghubungkan “kehendak berkuasa” Nietzsche dengan persoalan politik. Ia menyambungkan gagasan saudaranya itu dengan perilaku politik Hitler yang membabat habis Yahudi. Interpretasi ini jelas tak tepat, sebab Nietzsche tidak anti-Yahudi, sebaliknya malah membenci yang antibangsa itu.
Bagi Nietzsche, kehendak berkuasa merupakan hakikat dunia dan keberadaan (being) manusia. Baginya, manusia secara terus-menerus hidup dalam kehendak untuk menguasai dirinya dan juga orang lain. Ini merupakan suatu kemestian. Oleh sebab itu, Nietzsche menulis, “Tujuan hidup adalah pertentangan, bukan kepuasan apalagi kedamaian, sebab itu pergilah kepada perang. Perangilah sesamamu dan dirimu sendiri.” Moralitas baik dan buruk bagi Nietzsche adalah omong kosong sehingga karena itu jangan tunduk kepadanya. Baik dan buruk adalah rekayasa masyarakat dan negara yang membunuh kebebasan individu. Untuk melawan moralitas tersebut, menurut Nietzsche, individu harus menciptakan Ubermensch sering diterjemahkan menjadi superman atau overmen sesuatu yang mengatasi manusia. Pada puncaknya, perlawanan terhadap moralitas tersebut juga pembunuhan atas Tuhan. Dan “Tuhan telah mati, Tuhan telah mati,” teriak kemenangan Nietzsche yang diverbalkan melalui mulut Zarathustra.
Demikianlah kurang lebih inti “kebengalan” Nietzsche. Kini setelah 105 tahun kematiannya, kita mungkin tak lagi menemukan pernyataan-pernyataan yang demikian sangat berani itu. Tidak ada dari kita yang berani lantang melontarkan pernyataan yang membalikkan nilai dari puncak sampai ke dasar tersebut. Kita bahkan tak pernah berani bertanya mengapa tangan kanan kita dianggap lebih mulia dari tangan kiri, misalnya. Apakah hal itu bukan sebuah diskriminasi? Filsafat kita adalah “jangan bermain api”, “jangan bermain di tepi kali”, “jangan bermain air di dulang”, dan jangan jangan yang lain. Kita, sebagaimana telah disinggung di atas, jauh berada di bawah Nietzsche dalam soal keberanian berpikir.
Namun begitu, jika kita sepakat bahwa keberanian Nietzsche tersebut dianggap murtad secara teologis, apakah kita tidak lebih durhaka dari Nietzsche? Jawaban atas pertanyaan ini bisa dimulai dengan menguraikan perilaku bangsa kita sepuluh tahun belakangan ini, yakni tahun ketika katup demokrasi mulai dibuka dan terbuka. Tengoklah sekali lagi, bersamaan dengan bertiupnya angin demokrasi (satu paham yang tidak disukai Nietzsche), kekacauan terjadi di mana-mana. Pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran kota, penjarahan, perang antarsuku dan agama sepertinya telah menjadi sesuatu yang biasa. Nyawa manusia tidak ada harganya (berbanding terbalik dengan harga dolar!). Tidak ada satu pun pakar yang bisa memberi penjelasan memadai mengapa semua itu terjadi. Paling-paling hanya bisa menuduh bahwa semua itu akibat dosa Orde Baru. Selebihnya kita sedang belajar berdemokrasi!
Ya, kita memang sedang belajar berdemokrasi. Namun, pembelajaran itu diawali dengan sebuah langkah yang keliru. Kita mulai masuk pada TK Demokrasi Primitif, lantas beranjak ke SD Demokrasi Liar (mungkin nanti akan ikut seleksi SMP Demokrasi Barbar, SMA Demokrasi Kanibal, dan Perguruan Tinggi Demokrasi Bunuh Diri). Kita benar-benar mabuk demokrasi sehingga karena kemabukan itu jadi tidak mengenal lingkungan. Demokrasi kita menjadi demokrasi anarkis.
Mengapa hal itu terjadi? Jawabannya karena demokrasi kita identik dengan kehendak untuk benar. Dan ini berarti berbanding lurus dengan kehendak untuk berkuasa Nietzsche. Bedanya, kehendak untuk berkuasa kita melewati batas-batas kamanusiaan. Jika Nietzsche masih menyisakan pemikiran bahwa kehendak berkuasa itu juga berarti mencakup menguasai diri sendiri, di benak kita menguasai berarti menundukkan orang lain agar patuh pada kemauan kita yang sewenang-wenang. Jika Nietzsche menyebut perang sebagai metafor (di dalamnya juga berarti perang melawan diri sendiri), bagi kita perang adalah mengangkat senjata dan menembakkannnya pada orang yang berlainan paham, suku, keyakinan, dan agama. Jika Nietzsche membenci demokrasi dan sosialisme karena paham ini dianggapnya kurang menghargai individu, kita berdemokrasi-ria karena ia bisa dijadikan dalih untuk berlaku apa pun. Demokrasi kita pun menjadi tirani di situ.
Dalam konteks demokrasi yang demikian, sesungguhnya pekerjaan setiap hari kita adalah membunuh Tuhan, lebih dari apa yang dilakukan Nietzsche. Tengoklah para politikus yang setiap saat bermain akrobat itu. Mereka bahkan membunuh Tuhan di masjid, gereja, pura, dan tempat-tempat peribadatan lain. Ketika mereka mengingat Tuhan, yang terpikir di benaknya adalah bagaimana agar Tuhan bisa diperalat untuk menarik khalayak masuk ke dalam partainya, bagaimana Tuhan dibuat sebagai sarana untuk menipu rakyat. Mereka memasarkan dan menjual Tuhan di mana-mana. Walhasil, politikus itu menjadi pedang bermata dua: membunuh Tuhan dan rakyat sekaligus dalam waktu bersamaan.
Mungkin semua itu terlalu hiperbola dan provokatif. Namun, bagaimana kita bisa menutup mata dari kenyataan yang demikian menggetirkan. Inilah sebuah tragedi bangsa yang mengerikan. Saya sangat pesimis kita bisa mengubah perilaku yang telah demikian liar ini ke arah yang lebih baik. Kita tidak punya lagi figur yang bisa dijadikan panutan. Para politikus negeri ini hanya sibuk berebut kekuasaan. Sebentar lagi, saya pikir, mereka akan merebut kekuasaan itu dari tangan Tuhan yang kini sedang beramai-ramai dibunuhnya setiap hari. Jika kepada fatwa “kematian Tuhan”-nya Nietzsche kita masih bisa memberi peluang makna yang ambigu, terhadap kenyataan yang setiap saat kita saksikan sekarang, bagaimana dan di mana metafor itu mesti diletakkan?. 

C. Tuhan Telah Mati dan Kegilaan Manusia
Pernyataan diatas sebaiknya jangan ditafsirkan secara harfiah. Sebagaimana dikatakan penulisnya, itu adalah perkataan orang “gila” . Orang gila yang karena sesuatu hal tidak dapat berkomunikasi kepada orang yang percaya, mungkin berguna bagi orang yang tidak percaya [atheis]. Tetapi pernyataan orang yang waras, bahkan bisa jadi lebih gila. Katanya: dunia ini dipenuhi orang gila! Karena ada yang gila uang, gila wanita/pria, gila kekuasaan, gila hormat, dsbnya. Bukankah dunia ini juga Rumah Sakit Jiwa?
Lalu dimana batas antara gila dan waras? 
Tuhan sudah mati, janganlah ditanggapi sebagai Tuhan secara fisik kini sudah mati. Sebaliknya inilah cara Nietzsche mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu berperan sebagai sumber dari semua aturan moral dan teologi. Sebagaimana umumnya ideologi keagamaan, Tuhan menempati posisi sentral dalam kepercayaan. Tidak percaya kepada Tuhan, bukanlah pandangan seorang theis. Ia otomatis atheis. Tidak percaya Tuhan berarti juga tidak percaya konsep-konsep turunannya seperti kitab suci, para rsi/nabi, pinandhita/pendeta, dan semua jenis upacara yang menyertai. Pertanyaan saya, adakah tempat dalam sebuah sistem keagamaan yang mengijinkan agama pribadi dimana kepercayaan terhadap Tuhan diikuti konsep keberadaan tuhan yang sekarat [mati]?
Dalam bahasa sekuler kita dapat katakan ada banyak tuhan di masyarakat. Ada pemeluk agama yang tuhannya adalah uang. Ada seorang pendeta yang tuhannya di siang hari adalah tuhan yang pendakwah dan malamnya ia sendiri adalah tuhan sekaligus iblis yang memperkosa gadis Tibet. Banyak juga tuhan-tuhan di pelacuran, di politik kekuasaan dsbnya. Ada yang percaya tuhan adalah kekuatan, kebenaran adalah tuhan. Adakah tempat bagi tuhan-tuhan yang mati?  
Bagi seorang theis tentunya tuhan tidak dapat mati. IA [huruf besar semua] ibaratnya tuhan personal, tetapi sekaligus melampauinya, sebagai sesuatu yang impersonal karena tidak dapat mati. IA antara ada dan tiada. Bagi Nietzsche, orang gila yang mengagungkan Ubermensch [manusia unggul] sebagai pengganti tuhan, Tuhan sudah mati. Dan kita telah membunuhnya. Tentu Anda tidak akan setuju dengan pernyataan tersebut. Tetapi mengapa ia bersikeras kepada kematian Tuhan?
Nietzsche percaya bahwa ada kemungkinan positif bagi manusia tanpa Tuhan. Melepaskan kepercayaan kepada Tuhan akan membuka jalan bagi kemampuan kreatif manusia untuk berkembang sepenuhnya. Manusia terbebas dari belenggu sejarah agama-agama. Menjadi manusia baru, lepas dari beban masa lalu dan terlepas dari ketakutan akan api neraka. Dihadapannya dunia yang putih, dan ia lah yang akan memberi warna. Nietzsche menggunakan metafora laut yang terbuka, yang dapat menggairahkan sekaligus menakutkan.
Agama pribadi memungkinkan kematian Tuhan. Agama pribadi berjarak dengan sejarah, dan segala turunannya. Agama pribadi yang mengatakan Tuhan adalah hati nurani. Hati manusia hidup, yang berjalan dengan kaki dan logika di kepala. Yang menempatkan moralitas agama selaras dengan kehidupan, bukan sekedar hukuman. Dan ketika, pribadi pemeluk agama ini menyaksikan orang-orang tidak menggunakan hati nurani, ia dengan khidmat mengatakan : Tuhan sudah mati. Pribadi yang kemudian di cap The Madman. Ia yang berjalan dengan lentera dan pergi ke pasar, masuk ke gua-gua untuk memanggil para pendeta untuk segera turun ke bawah. Menyaksikan kematian Tuhan. 
Saya tidak berasumsi untuk dapat menjawab dimanakah batas antara orang gila dan waras. Sebagaimana saya tidak bertendensi untuk dapat menerjemahkan pikiran Nietzsche yang seringkali disalahpahami, seperti yang pernah dilakukan Hitler. Yang saya ketahui, ada yang mengatakan orang gila ini adalah orang suci dari barat. Orang yang dapat merasakan pikiran. Sebuah ironi jika tidak tragedi bagi orang gila di Rumah Sakit Jiwa yang sesungguhnya.
*****
www.wikipedia.com (diakses 10 Desember 2007)
Sunardi. Nietzsche. Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara. 2006. Hal: 2-17
Nietzsche. The Will to Power. New York: Vintage Books. 1968 (dalam artikel Nihilisme) www.kompas.com
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.1980. Hal 125-126.
Hardiman, Budi. Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2004. Hal: 271-273
Megill, Allan, Prophets of Extremity: Nietzsche, Heidegger, Foucault, Derrida, Berkeley: University of California Press. 1913 Hal: 9 & 53.
The Will to power. Artikel. www.kompas.com
 Sudiarja. Pergulatan Manusia dengan Allah dalam Antropologi  Nietzsche. Dalam Sastraprateja (ed) 1982. Hal :9
Sunardi. Nietzsche. Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara. 2006. Hal: 138
 Bertens, Filsafat Barat abad XX: Inggris-Jerman. Jakarta: Gramedia. 1983.
Reaksi:

0 komentar: