Selasa, 10 Mei 2011

Mengintip ”Kebebasan” Manusia lewat Sartre

Resensi sebuah buku
Mengintip ”Kebebasan” Manusia lewat Sartre
Judul buku : Humanisme Eksistensialis Jean-Paul Sartre
Penulis : Dwi Siswanto
Cetakan pertama : Oktober 2001 TebaL : XVI + 172 Halaman
Penerbit : Philosophy Press, Yokyakarta. Oleh Askolan Lubis

Jean-Paul Sartre bagi orang yang akrab dengan disiplin ilmu humaniora tentu nama ini tak asing lagi. Sartre yang lahir di Paris pada 21 juni 1905 ini adalah seorang sastrawan masyhur, filosof besar paling berpengaruh dalam mewakili mazhab eksistensialisme. Perjalanan kariernya sebagai filosof cukup unik dan penuh dengan teka-teki. Bayangkan saja, ia banyak berbicara tentang partai komunis, sementara ia sendiri tak pernah menjadi anggota partai itu. Ia banyak berbicara dan berjuang demi keadilan sosial, sementara dia gigih memikirkan kemerdekaan dan kebebasan manusia pribadi. Ia banyak berbicara tentang Tuhan, sementara ia sendiri tidak mengakui keberadaan Tuhan (Brouwer : 1980 : 92).

Buku Humanisme Eksistensial Jean-Paul Sartre ini merupakan salah satu dari sedikit upaya untuk menjawab teka-teki di atas. Buah karya Dwi Siswanto dari Universitas Gajah Mada (UGM) ini patut kita sambut gembira sebagai upaya kritis dalam meneropong pemikiran humanisme Sartre terutama kaitannya dengan eksistensi manusia. ”Manusia adalah kebebasan”, demikian kata Sartre, ”tidak cukup dengan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang menginginkan kebebasan, manusia adalah kebebasan itu sendiri”. Inilah corak humanis pemikiran sartre. Kebebasan berarti memilih, menentukan sikap dari sekian alternatif yang dimungkinkan. Manusia bebas memilih jalan hidupnya sendiri tanpa harus ditentukan oleh orang lain atau faktor objektif lainnya. Namum, kebebasan bukan berarti ”lepas sama sekali” dari kewajiban dan beban. Menurut Sartre, kebebasan adalah sesuatu yang erat kaitannya dengan tanggung jawab, dan tidak bisa dipisahkan.

Nah, dengan kebebasan inilah manusia bereksistensi. Manusia dikatakan makhuk bebas karena ia sanggup untuk mengatakan ”tidak”, menidak (nientir). Dalam hal ini, ada dua modes of being (cara berada) manusia yang kita kenal dari Sartre, being-in-itself (ada-pada-dirinya) dan being-for-itself (ada-bagi-dirinya).

Pertama, being-in-itself menunjukkan cara bereksistensi secara tertutup. Apa yang ada sepenuhnya dengan dirinya sendiri, ia tertutup rapat tanpa lobang, tanpa celah, dan tanpa ruang gerak sedikitpun untuk keluar darinya. In the in-self there is not particle of being is which not wholly within it-self without distance. Bagi Sartre, ”ada” yang demikian ini disebut dengan ada yang ”tak berkesadaran”. Ia ada begitu saja (it is what it is) tanpa mempunyai masa silam, masa depan, dan tidak mempunyai kemungkinan ataupun tujuan. Berbeda dengan being-in-itself, being-for-itself menunjukkan cara beradanya manusia di muka bumi; ada yang berkesadaran yang hanya ada pada manusia. Cogito atau kesadaran sebagai titik tolak filsafat, di sini mendapat tekanan khusus dari Sartre, yaitu kesadaran tentang dirinya sendiri (conciusness of self) yang berarti ”membuka diri”.

Being-for-itself ini merupakan inti pandangan Sartre tentang eksistensi manusia. Kata kuncinya adalah kebebasan. Kebebasan akan menetukan keberadaan manusia dalam sejarah. Seorang yang berusaha lari dari kebebasan sebenarnya juga sedang berusaha merealisasikan kebebasan itu sendiri. Jadi tidak ada kata tidak untuk kebebasan manusia. Manusia adalah kebebasan, titik. Justru itu, manusia bebas maka Tuhan tidak ada, karena jika Tuhan ada, lanjut Sartre, berarti ”aku” tidak bebas alias diam karena semuanya sudah dirancang sedemikian rupa oleh Tuhan.

Dengan demikian, Sartre sangat menentang segala bentuk determinisme dan sikap malafide, sikap pasrah yang menerima segala sesuatu secara taken for granted. Misalnya dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar apa boleh buat, memang sudah begitu adanya.

Demikianlah Sartre, sepanjang sejarah eksistensialisme, kebebasan ala Sartre ini boleh dikatakan paling ekstrim dan radikal. Dalam sejarah perkembangan filsafat, agaknya tidak ada pendirian tentang kebebasan yang ekstrim dan radikal seperti Sartre. Tidak dapat disangkal ada cukup banyak orang yang sangat revolusioner, progresif, dan berhaluan kiri dalam masa mudanya, sedangkan di masa tua ternyata mereka sudah merasa lesu untuk berjuang terus dan menjadi reaksioner, konservatif, dan berhaluan kanan. Tetapi pada Sartre tidak demikian halnya, ia selalu cenderung berpendapat yang ekstrim dan radikal dan tidak pernah menyembunyikan kecenderungan itu. (Bertens : 1987)

Seorang Sartre tidak hanya bermukim di menara gading pemikiran teoretis, kebebasaan yang digembar-gemborkannya mengejawantah pada praksis hidup kesehariannya. Sekadar contoh, misalnya, ia bersama kekasihnya, Simone de Beauvoir, memilih untuk tidak menikah. Menurut mereka, perkawinan hanyalah suatu lembaga kaum borjuis saja. Ia juga menolak hadiah nobel kesusastraan yang dianugerahkan kepadanya pada tahun 1964. Katanya, dengan menerima hadiah tersebut, kebebasannya akan berkurang, karena otomatis ia masuk golongan tertentu, yaitu golongan borjuis atau kapitalis.

Bagaimanakah pandangan Sartre terhadap relasi antarmanusia dalam lingkup sosial? Menurut Sartre, inti setiap relasi antarmanusia adalah konflik, saling menegasikan terus-menerus, karena seorang manusia menjadi subjek sekaligus juga objek bagi yang lain. Oleh karena itu, satu dengan yang lainnya berusaha untuk memasukkan orang lain ke dalam pusat ”dunia”-nya.

Adapun sarana terjadinya konflik tersebut adalah sorot mata (le regard). Setiap perjumpaan dan komunikasi dengan orang lain merupakan ancaman bagi eksistensinya. Ucapan Sartre yang cukup populer dan banyak dikutip tentang hal ini adalah neraka adalah orang lain dan dosa asal saya adalah adanya orang lain”.

Sejalan dengan itu, standar objektif moralitas manusia tidak ada sama sekali. Mengikuti Nietzche, Sartre mengutuk setiap bentuk objektivikasi dan impersonalisasi. Tak ada standar baik dan buruk kecuali kebebasan itu sendiri. Meski Sartre tak banyak mengulas soal moralitas dalam karya-karyanya, namun seorang teman akrabnya, Francis Jeanson, dalam komentarnya menilai bahwa penulisan Being and Nothingness (ada dan ketiadaan)-buku Sartre yang mendapat sambutan luar biasa di Eropa-berawal dari suatu inspirasi moral.

Barangkali nilai plus buku ini terletak pada olah bahasanya yang cair, mengalir, dan sistematis sehingga menghilangkan kesan umum bahwa filsafat adalah belantara pemikiran yang rumit dan berliku-liku. Keistimewaan lain buku ini adalah karena ia dibarengi dengan evalusasi kritis atas pemikran Sartre (Bab 6). Di sini, penulis buku ini tampak sangat hati-hati dengan pemikiran eksistensialis Prancis yang pernah mengaku seorang ”anarkis” ini. Namun harus dikatakan di sini, dengan menghadirkan Bab 6, terutama pada sub tentang ”aspek positif dan negatif pemikiran Sartre”, tampaknya pengarang berusaha keluar dari kerangka berpikir Sartre yang menolak semua yang berbau objektivikasi. Hal ini tentu karena pandangan Sartre tentang objektivikasi masih menyimpan ambiguitas, bukankah dengan mengatakan bahwa manusia adalah kebebasan itu sendiri, Sartre berarti telah masuk dalam sel objektivikasi.

Dan kenapa Sartre tidak mengakui keberadaan Tuhan alias atheis? Hal ini dapat disadari karena Tuhan versi Sartre adalah-meminjam istilah Gabriel Marcel-problem, sesuatu yang eksternal, jauh, berjarak dari dirinya. Tentu akan berbeda hasilnya bila Tuhan didekati sebagai misteri, sesuatu yang ada dalam diri kita (in-self), kita alami, dan kita rasakan.
Reaksi:

0 komentar: