Selasa, 16 November 2010

SIAPA LIYAN BAGI FUNDAMENTALIS (sebuah bahan seminar filsafat)

SIAPA LIYAN BAGI FUNDAMENTALIS?


Fundamentalisme adalah sebuah gerakan dalam sebuah aliran, paham, atau agama yang berupaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar atau asas-asas. Fundamentalisme merupakan reaksi sekelompok orang terhadap realitas yang menurut mereka mengalami kemerosotan nilai. Gerakan ini sebenarnya baik, karena berusaha menjaga agar realitas tidak bergerak “liar”. Namun fundamentalisme seringkali diikuti oleh tindakan kekerasan. Tujuan baik yang bersaranakan tindak kekerasan kepada orang lain ini menimbulkan pertanyaan: siapa liyan bagi fundamentalis? Tulisan ini bertujuan “membedah” konsep liyan fundamentalis dari sudut pandang etika Paul Ricoeur.
Fundamentalisme dan Etika
Sebelum melihat lebih jauh tentang etika Paul Ricoeur, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dulu pengertian etika secara umum. Etika adalah filsafat tentang tindakan manusia sebagai manusia (human action). Human action dibedakan dari acting of human being. Human action berarti tindakan manusia yang menunjukkan kemanusiaannya dan dapat dinilai secara moral, sedangkan acting of human being berarti sekedar gerakan dan tidak dapat dinilai secara moral. Tindakan manusia yang termasuk dalam human action ialah tindakan yang didasari oleh pengetahuan, kehendak, dan kebebasan .
Pengetahuan yang dimaksud ialah pengetahuan akan sasaran perbuatannya dan akan dirinya sendiri. Manusia yang melakukan perbuatannya dengan sadar dapat dikatakan berbuat dengan didasari pengetahuan ini. Perbuatan inilah yang dapat dimasukkan dalam penilaian moral. Namun, perbuatan manusia yang tidak sadar, misalnya karena mabuk atau penyakit, tetap masuk dalam penilaian moral, hanya saja tidak seberat penilaian terhadap orang yang sadar. Sedangkan, kehendak berarti kemauan untuk melakukan suatu perbuatan tanpa didasari paksaan. Dalam hal ini, manusia tersebut memilih dengan bebas pilihan-pilihan yang ditawarkan kepadanya. Inilah hubungan pengetahuan, kehendak, dan kebebasan dengan tindakan moral. Jika melihat syarat-syarat di atas, maka fundamentalisme masuk di dalam perbuatan moral, karena tindakan ini menyiratkan pengetahuan dan kehendak.

The aim of good life
The aim of good life adalah dasar etika Paul Ricoeur. Ia ingin menjawab pertanyaan apa yang dimaksud dengan hidup baik. Ia berkata:

The fundamental basis of good life is in praxis but that the content of the good life is . . . the nebulous of ideals and dreams of achievements with regard to which a life is held to be more or less fulfilled or unfulfilled.

Pendapat Paul Ricoeur tentang hidup baik ini dapat dipahami demikian. Pertama-tama, Hidup baik berada dalam ranah hidup praktis. Ia bukan sekedar ide saja. Pengertian ini jelas memiliki konsekuensi bahwa persoalan baik-buruk dapat dipersoalkan sejauh tampak dalam perbuatan. Kemudian, hidup baik ternyata tidak dapat didefinisikan dengan jelas dan penuh. Ia merupakan suatu proses terus menerus. Norma-norma yang ada hanyalah sarana untuk semakin memaknai hidup baik tersebut. Meskipun definisi hidup baik itu tidak jelas, namun hidup baik dapat dikenali dari akibatnya. Artinya manusia yang hidup dengan baik merasa penuh dalam dirinya. Ia tidak takut akan berbagai macam ancaman yang menghalangi dia hidup baik.
Setelah menguraikan pengertian tentang hidup baik, Paul Ricoeur melanjutkan penjelasannya tentang alasan manusia mengusahakan hidup yang baik. Ia berkata, “The aim for the ‘good life’ with and for others, in just institutions is an object of desire that includes the goods of justice and equitability.” Menurutnya, manusia pada dasarnya mengharapkan kebaikan itu sendiri. Ia ditarik oleh kebaikan yang begitu cemerlang. Dengan kata lain, manusia mengusahakan kebaikan karena itulah kodratnya.

The Self
Pada sub-bab ini, persoalan etika perbuatan mulai masuk pada hal-hal praktis. Paul Ricoeur memulai dengan pertanyaan bagaimana manusia mampu hidup baik. Dalam three-cornered ethics, ia menjawabnya dengan pertama-tama menjelaskan apa itu the self.

In response, Ricoeur makes distinction between identity as spatiotemporal selfsameness (idem-sameness) and the capacity of an agent to initiate an imputable action (ipse-selfhood). To idem-identity correspond the model of character. . . . character was one of the absolutely permanent and involuntary aspects of human experience to which we can only consent. . . . It designates the set of permanent dispositions that have undergone innovation and sedimentation in the acquisition of habits that yield the constancy of what permits us to recognize that person as particularly that person. It answers the “what” of the “who”. The other model of permanence in time, ipse-identity, is represented by keeping one’s word. Unlike character this model lies solely in the dimension “who?” . . . The promise of one’s word is a fidelity to self anchored in the presence of the other and not reducible to a form of idem-identity.

Dari kutipan di atas, dapat diketahui bahwa the self terdiri dari 2 bagian, yaitu idem dan ipse. Idem adalah bagian dari the self yang merupakan pemberian dari Tuhan. Ia terbentuk dalam sejarah hidup seseorang, yaitu ruang-waktu asalnya. Misalnya, terlahir sebagai orang Jawa dengan segala karakter kejawaan. Sedangkan ipse merupakan bagian lain dari the self yang dinamis, dalam arti ia dapat berubah tergantung pada posisinya terhadap orang lain. Kedua bagian ini kemudian berkorespondensi dan memunculkan narrative identity (identitas naratif).
Identitas naratif berarti identitas yang memiliki sifat kisah. Kisah adalah pergumulan. Maka, Paul Ricoeur berpendapat bahwa the self adalah pribadi yang terus-menerus berupaya menjalin kisah. Ia tiada hentinya menafsirkan kejadian-kejadian yang ia alami untuk semakin berkembang. Ia adalah penulis dan penafsir atas hidupnya.

The Other
Persoalan selanjutnya ialah bagaimana the self dapat menafsirkan hidupnya.

In Time and Narrative, Ricoeur argued that the self does not know itself immediately, but only indirectly, through the detour of narration and hence, as an interpretation. We have already crossed the path of interpretation and the self above in speaking about the centrality of praxis. There we said that someone is the author of his or her action to the extent that he or she interprets himself or herself in terms skills, arts, games, and so forth. On ethical plane, this self-interpretation, or self-evaluation of behavior, appears as self-esteem .

Paul Ricoeur berpendapat bahwa the self menafsirkan hidupnya melalui berbagai macam kegiatan yang dapat ia lakukan sehubungan dengan kejadian yang dialaminya. The self akan percaya diri jika ia mampu melakukan banyak kegiatan dan sebaliknya, ia menjadi kurang percaya diri saat banyak hal yang tidak bisa ia lakukan. Dengan kata lain, the self memakai suatu standar-kebaikan tertentu untuk memandang dirinya sebagai yang baik. Ia menafsirkan dirinya berdasarkan standar-standar-kebaikan. This is because our by standards of excellence.
Standar ini dibuat dalam relasi antara the self dan the others. Oleh sebab itu, Paul Ricoeur berkata:

To self-esteem, understood as a reflexive moment of the lack, the fact that we need friends; as a reaction to the effect of solicitude on self-esteem, the self perceives itself as another among others. It signifies that I can acknowledge the other as a self like myself who is the author of his or her actions, preferences an solicitudes such that there is the mutual understanding of you too as myself. It is the recognition of the shortest distance between the I and you where the esteem of the other as oneself and the esteem of oneself as an other are seen as equivalent.

Keberadaan the others merupakan pengakuan terhadap keberadaan the self. Jika demikian, the self tidak dapat mengatakan bahwa dirinya baik tanpa mengakui kehadiran orang lain. Ia butuh “pengakuan” dari orang lain. Relasi the self dan the others ini dapat diumpamakan dengan hubungan antara warna putih dan hitam dalam pewarnaan. Warna putih akan tampak jelas jika didasari oleh warna hitam.
Jika kehadiran orang lain memiliki arti bagi keberadaan “saya”, berarti ada syarat yang menentukan agar orang lain berarti bagi keberadaan “saya”, mengingat adanya unsur idem dalam the self yang dapat menjadi sumber perbedaan. Sebagai contoh, idem dapat dimengerti dengan adanya berbagai macam suku di Indonesia seperti suku Jawa, suku Batak, dan suku Flores dengan kekhasannya yang tidak jarang bertentangan.
Syarat yang dimaksud ialah kesadaran bahwa idem adalah unsur yang paten sedangkan ipse adalah unsur yang membutuhkan kehadiran orang lain untuk berkembang. Perkembangan Ipse dapat dicapai melalui pemenuhan standard of excellence yang berasal dari kesepakatan di dalam masyarakat. Dengan kata lain, ipse perlu berdialog dengan the others.
Sebagai perbandingan, dapat dilihat pula pandangan Martin Bubber tentang relasi I and thou. Dalam relasi I and thou, saya melihat orang lain sebagai engkau. Engkau berarti subyek yang setara dengan saya, atau subyek yang memiliki kebebasan untuk menginterpretasi semua aktivitasnya, seperti kata Paul Ricoeur. Sebaliknya, dalam relasi I and it, lawan dari relasi I and thou, saya melihat orang lain sebagai objek. Objek berarti tidak memiliki kebebasan dalam menafsirkan dirinya sendiri. Objek ditentukan oleh subjek. Lebih jauh lagi, objek tidak berhak ikut menentukan standar-standar kebaikan, karena standar kebaikannya sudah ditentukan oleh subjek. Dengan melihat kedua jenis relasi di atas, relasi yang memungkinkan perkembangan the self dalam menjalin kisahnya ialah relasi I and thou, karena dalam relasi ini ada yang disebut pertukaran wawasan, yang tampak dalam perkembangan standar-standar kebaikan. “Pertukaran wawasan” berarti I mendapat pengetahuan baru tentang kebaikan saat I berinteraksi dengan others. Begitu pula dengan others, mereka mendapat pengetahuan baru tentang kebaikan saat berelasi dengan I. Konsep “pertukaran wawasan” ini mirip dengan teori pertukaran sosial yang diusulkan oleh George Simmel.
Dari uraian tersebut, tampak bahwa others dan self Ricoeurian adalah pribadi-pribadi yang saling bergantung. Keduanya saling membutuhkan untuk dapat menginterpretasi dan mengembangkan diri. Self membutuhkan others untuk memaknai hidupnya.

The justice
Relasi aku-engkau di atas ternyata tidak cukup memadai untuk mencapai tujuan hidup baik, di saat muncul suatu komunitas yang besar, misalnya negara. Ricour berpendapat bahwa harus ada unsur ketiga yang menjamin tercapainya tujuan hidup baik tersebut. Unsur ketiga itu adalah keadilan.

Gagasan Levinas tentang relasi “Aku-Engkau” ternyata belum memadai untuk menjelaskan poin keadilan. Mengapa? Pertama-tama, Ricoeur membedakan dua pengertian antara the other person dan the other.. Pengertian pertama justru hanya memuat gagasan tentang persahabatan: sebuah relasi kedekatan yang diberikan melalui wajah dan suara. Pengertian ini menegaskan bahwa the other (orang lain) untuk persahabatan adalah “Engkau”. Sedangkan, pengertian kedua memuat gagasan keadilan. Dengan kata lain, Ricoeur melihat the other sebagai semua orang. The other sebagai semua orang dimaksudkan Ricoeur untuk menegaskan perlu adanya jarak keadilan yang dapat memunculkan keutamaan keadilan. Karena itu, semua orang yang dimaksud Ricoeur di sini adalah institusi. Jadi, the other untuk keadilan adalah semua orang atau yang dilihat Ricoeur sebagai institusi. Hal ini bagi Ricoeur sesuai dengan adagium keadilan itu sendiri, yakni memberikan apa yang menjadi hak orang lain (Latin: Suum Cuique Tribuere).

Poin utama dari keadilan ialah memberikan apa yang menjadi hak orang lain. Jika demikian, perlu suatu hukum atau peraturan yang mengatur pelaksanaan hak pribadi agar tidak melanggar hak orang lain, mengingat setiap orang memiliki hak pribadi. Meskipun demikian, keberadaan aturan atau hukum tersebut semata-mata merupakan alat untuk mencapai keadilan. Patokan utama keadilan tetaplah hati nurani, artinya aturan-aturan hidup bersama tetap perlu dikritisi dalam pelaksanaannya di kehidupan sehari-hari. Jangan sampai keadilan disamakan dengan melaksanakan aturan dengan lurus tanpa melihat konteks persoalan.

Liyan bagi Fundamentalis
Pada pembahasan sebelumnya, telah diketahui bahwa manusia pada dasarnya selalu mengejar kebaikan. Tidak ada manusia yang mengharapkan kejahatan. Tetapi dalam realitas, kejahatan sering terjadi yang tampak dalam berbagai macam bentuk kekerasan. Bahkan manusia seringkali mengatasnamakan kebaikan untuk melegalkan kekerasan yang ia lakukan. Itulah yang sering dilakukan fundamentalis. Untuk itu, marilah kita simak sejenak beberapa fundamentalis yang pernah ada di dunia ini.
FPI. “Kalau perusakan itu dilakukan oleh orang Islam, pastilah seluruh gedung itu rata dengan tanah. Karena penghujatan dalam blog itu sudah menginjak-injak seluruh ajaran Islam,” jelasnya. “Tidak mungkin umat Islam memakai celana kolor,” tambahnya.”
kutipan tersebut ialah ungkapan seorang tokoh FPI saat menanggapi tuduhan atas kerusakan sebuah bangunan Gereja Kristen. Kata “Islam” yang ia katakan tentu bukan mewakili Islam secara menyeluruh. Kata ini mewakili FPI itu sendiri, namun berlindung di bawah nama Islam. Anak kalimat selanjutnya yaitu “pastilah gedung itu rata dengan tanah” menunjukkan pemikiran FPI, yaitu kekerasan adalah cara terbaik untuk dihargai.
Kasus lain ialah rencana pembakaran Al-Quran oleh pendeta Terry Jones dari Gereja Dove World Outreach Centre. Dalam rencana ini, pendeta Terry ingin memperingati peledakan gedung WTC oleh sekelompok orang dengan pembakaran Al-Quran yang dianggapnya sebagai sumber kekerasan. Rupanya ia menyamakan ajaran agama Islam dengan ide kekerasan. Padahal, jika ditelusuri ulang, beberapa ayat di Al-Quran yang berbicara tentang perang ternyata terbatas pada ruang dan waktunya. Maka, pandangan Pendeta Terrry ini kurang didasari kesadaran akan terbatasnya ruang dan waktu dalam ajaran tertentu.
Salah satu komentar atas peristiwa pelarangan ibadah HKBP.
Menurut gw konfrontasi humanis antar golongan itu alasan paling mendasarnya agama. kenapa? HKBP melakukan kebaktian dgn suara bising, kegiatan kegerejaannya diperluas. jelas aja kaum2 muslim dgn diprakasai FPI menolak, karena terlalu frontal jika menggunakan alasan tsb, jalur2 seperti masalah administrasi dan perdata itulah yg divokalkan.
Dari salah satu comment itu, tampak bahwa penghargaan terhadap pihak lain dihubungkan dengan uniformitas. Penghargaan ada, jika “yang berbeda” menyamakan diri dengan “saya”. Tidak ada unsur pemberian hak kepada orang lain sesuai kebutuhan mereka. Konsep berpikir ini juga menunjukkan kekerasan dari fundamentalis.
Gereja Katolik pun ternyata juga pernah melakukan kekerasan sehubungan dengan fundamentalisme ini. Kita tentu ingat akan slogan Gereja pada awal-awal berdirinya, yaitu extra ecclesiam nulla salus, yang dimunculkan oleh Konsili Florence.
All those who are outside the catholic church... cannot share in eternal life... unless they are joined to the catholic church before the end of their lives, and that nobody can be saved, no matter how much he has given away in alms and even if he has shed his blood in the name of Christ, unless he has persevered in the bosom and the unity of the catholic church.
Namun, pendapat ini kemudian terus-menerus dikoreksi oleh para Paus dan dimaknai secara lain dalam dunia yang plural ini. Berikut ini adalah pemaknaan terbaru dari Paus Yohanes Paulus II yang melanjutkan pemaknaan dari para Paus sebelumnya, yaitu “those who either do not know about Christ, or have obstacles to accepting Christ that arise from their religious or cultural traditions, and which make them bear no guilt for their non-acceptance of Christ, can be saved by a grace that works in them in the situation in which they are.”
Dari beberapa kejadian di atas, kita dapat mendaftar sisi baik dan buruk dari fundamentalisme. Sisi baik dari fundamentalisme terletak pada semangat untuk hidup lebih baik. Namun, kekerasan yang sering dipakai membuatnya dipersalahkan secara moral. Kesalahan-kesalahan yang terkandung dalam fundamentalisme ialah pemaksaan bentuk hidup baik yang dianutnya, sikap eksklusif, perampasan hak orang lain dan usaha membinasakan others.
Hidup baik yang dianut tidak dapat dipaksakan kepada orang lain. Tiap orang memiliki sejarah hidup sendiri-sendiri. Ide tentang hidup baik hanya dapat ditawarkan dan diuji dalam ruang-waktu sekarang. Maka, usaha kembali ke dasar/asas dengan menerapkan bentuk hidup dari masa lampau perlu dikritisi. Jangan sampai usaha ini diartikan membawa seluruh model hidup masa lampau ke masa sekarang, dengan alasan kebaikan di masa lampau. Belum tentu model hidup tersebut akan mampu mewujudkan kebaikan seperti pada masa lalu. Oleh sebab itu, maknalah yang perlu diambil, dicerminkan, dan diadaptasikan dengan model hidup sekarang.
Sikap eksklusif menyebabkan the self tidak berkembang, karena merupakan penolakan terhadap pergumulan. Padahal hanya melalui pergumulan dalam hidup sehari-harilah, manusia dapat semakin mengenal hidup yang baik. Eksklusivitas hanya akan membuat manusia terkurung dalam suatu kebenaran dan kebaikan saja. Dengan kata lain, sikap ini menghentikan pencarian manusia akan kebaikan dan kebenaran. Manusia yang berhenti mencari kebenaran dan kebaikan berarti “berhenti” menjadi manusia.
Liyan bagi fundamentalis adalah orang yang berbeda pandangan dengannya, sehingga perlu disingkirkan. Padahal, usaha menyingkirkan liyan berarti memusnahkan standar-standar kebaikan dan tanpa standar-kebaikan, bagaimana the self dapat memperoleh harga-dirinya? Maka, usaha penyingkiran ini berarti tindakan bunuh diri.
Dari permasalahan di atas, dapat disimpulkan bahwa kesalahan fundamentalis ternyata berakar dari paradigma yang keliru. Jika kita telah mengetahui masalah ini, tentu kita tidak dapat berdiam diri saja. Fundamentalis juga sesama kita. Mereka adalah bagian yang sedang sakit dari kita. Maka, kita seharusnya tidak cukup hanya mengerti permasalahan mereka, tetapi juga proaktif membantu dengan mulai bertanya: apa langkah konkret untuk membantu fundamentalis keluar dari paradigma keliru tersebut?
Tidak dapat dipastikan, namun dapat dirangkum dengan satu frase “berempati”. Berempati dapat ditempuh dengan berbagai macam cara, salah satu cara ialah menekankan perlunya bersikap dan berpenampilan miskin di tengah situasi miskin, seperti pendapat pendapat Robert Bala, SVD . Lain halnya dengan Happy Susanto. Ia mengartikan berempati sebagai usaha “menumbuhkan karakter keberagamaan yang moderat”. Kemudian Adi Ekopriyono berpendapat pula bahwa berempati berarti menggalakkan fundamentalisme humanistik, yang berarti menitikberatkan esensi dari agama, yaitu nilai-nilai kemanusiaan. Memang, Adi berbicara dalam konteks bersama, namun ide ini sebenarnya juga berlaku bagi semua bentuk ajaran yang dibentuk demi mencapai kebaikan umat manusia.
Penulis juga memiliki pengalaman mengamati dua orang kaum religius yang menghadapi fundamentalis. Dari pengamatan tersebut, penulis mengartikan berempati sebagai sabar dan lemah lembut namun tetap tegas. Berikut ini pengalaman yang dimaksud. Kaum religius pertama yang dimaksud bernama Rm. Demmer. Ia adalah seorang imam Belanda yang berhasil merangkul kiai-kiai di Tumpang. Ia melakukannya dengan cara sering mengunjungi rumah mereka dan berbagi dengan mereka. Kaum religius yang kedua adalah Br. Vincentius. Ia adalah seorang bruder yang mampu menghentikan pelemparan batu ke Postulat Stella Maris Malang. Ia melakukannya dengan cara terus-menerus keluar untuk memberikan senyuman kepada para pelempar batu tersebut.
Akhir kata, memang akan sangat menyakitkan saat kebaikan yang kita tawarkan ditolak begitu saja dan itulah yang pasti terjadi pada awal-awal perjumpaan dengan fundamentalis. Namun, yang menjadi penopang kita ialah kesadaran bahwa fundamentalis adalah sesama kita yang “sakit”. Orang-orang yang dianggap sebagai liyan oleh fundamentalis ternyata adalah pihak yang “dinanti-nantikan” kehadirannya di tengah fundamentalis dalam dialog yang berani menembus batas. Itulah liyan yang sebenarnya di mata fundamentalis.
Reaksi:

0 komentar: