Sabtu, 27 November 2010

Konsep Kebenaran Dalam Tradisi Islam

Islam adalah agama Allah, yang disampaikan dengan perantaraan Nabi Muhammad kepada seluruh umat manusia. Kata Islam berarti 'tunduk'/ menyerahkan (dirinya sendiri ataupun diri seseorang terhadap Allah); kata Arab sering diterjemahkan sebagai “agama menyerah”. Istilah Islam berasal dari kata aslama yang berarti juga menyerah diri pada peraturan-pertaturan Allah, satu-satunya Zat yang wajib disembah dan ditaati[1]. Hal ini langsung membawa kita pada inti iman dari agama Islam. Dengan melakukan apa yang telah diberikan Allah, berarti percaya kepada-Nya, dan akhirnya memiliki hidup yang damai dengan Allah dan manusia. Dengan kata Islam yaitu agama Allah, hal ini membawa konsekwensi bahwa di luar agama Islam, tidak ada agama yang diterima di sisi Allah selain agama Islam itu sendiri[2]. Sejak jaman dahulu, Allah telah mengutus para nabi. Yang terakhir dari para nabi adalah Muhammad, dimana Allah telah memberikan Al-Qur'an melalui malaikat Gabriel. Apa yang tertulis dalam Al-Qur'an secara harfiah merupakan Firman Allah. Jika seseorang percaya dan melakukan tugas yang ditetapkan Al-Quran, maka akan bertahan pada penghakiman terakhir dan diakui di surga.

 Perkembangan Tradisi Islam
            Mohammad lahir di Mekkah sekitar tahun 570 M, dari sebuah keluarga yang terkemuka. Namun telah menjadi anak piatu pada waktu masih muda, tetapi kemudian di asuh oleh pamannya. Bersama pamannya, dia menjadi wakil niaga seorang janda bernama Chadidjah r.a. yang kemudian diperisterikannya dan mempunyai putera-puteri (dari antaranya empat puteri masih hidup waktu beliau wafat)[3]. Tradisi menceritakan bahwa selama dia hidup, dia secara teratur mengasingkan dirinya di sebuah gua yang terletak di pegunungan di dekat Mekkah, yang dikenal dengan gunung Hira. Di sana ia mencari Allah. Meskipun ia tinggal di tengah-tengah suku-suku politeistik, Mohammad yang menganut politeistik, tetapi dia menganut monoteistik, sesuai dengan yang diajarkannya. Selama mengasingkan diri di gunung Hira tahun 610, ia dikunjungi oleh malaikat Gabriel dan memanggil dia menjadi nabi. Sejak saat itu, Muhammad mengajarkan apa yang telah diberitahu malaikat tersebut. Ia memperoleh pengikut kecil yakni kaum kecil - kaum miskin dan budak. Keadaan orang-orang dekat Mekkah: memiliki cara hidup yang suram, adanya kesenjangan orang miskin dan kaya, dan kejahatan. Hal inilah yang membuat Mohammad gelisah dan cemas, dan akhirnya mengajarkan pertobatan, sebab hari kiamat sudah dekat. Kerisauan hati Muhammad ini tidak bermaksud untuk mengadakan revolusi baru, tetapi sebuah dorongan untuk melakukan pertobatan,  yang dipancarkan lewat kesadaran yang dalam dan teguh. Ajaran mohammad ini mendapat pertentangan dengan kelompok-kelompok yang tidak percaya pada ajarannya.
Perlawanan penduduk Mekkah bukannya semata-mata karena berpegang pada adat-istiadatnya ataupun ketidak-percayaan pada ajaran Mohammad, akan tetapi karena alasan politik dan perekonomian. Mereka takut terhadap ajaran beliau tentang kemapanan atas kemakmuran mereka. Mereka juga takut atas kepercayaan murni terhadap Allah yang Tunggal, karena akan merugikan penghasilan yang mereka peroleh dari sanggar pemujaan. Usaha Mohammad ini sia-sia, dan inilah yang mendorongnya untuk Hidjrah ke Medinah yang terletak 200 mil sebelah utara Mekkah, dimana di Medinah juga sedang terjadi penderitaan akibat perang saudara yang tak kunjung padam diantara suku-suku Arab yang saling bersaing. Mohammad Hidjrah ke Medinah sebagai juru damai bagi suku-suku Arab[4]. Dan peristiwa Hidjrahnya Mohammad ini ke Medinah, menjadi satu titik perubahan penting dalam sejarah perkembangan Islam[5]
Walaupun Islam di mulai dengan ajaran Muhammad s.a.w. di tempat kelahirannya Mekkah, sifat-sifat yang menjadi ciri tetap dari agama ini dikembangkan setelah beliau pindah ke Medinah dalam tahun 622 M, sehingga Islam menetapkan tahun 622 M sebagai permulaan takwin Islam baru.
Dalam perjalanan selanjutnya, Islam sudah memiliki sistem pemerintahan yang kuat, cerdas, dan satu kepercayaan yang menggelorakan semangat penganut-penganut dan tentara. Maka dalam waktu yang tidak lama, mereka telah berhasil menguasai seluruh Arabia-Barat dan mencari dunia baru untuk ditundukkan. Gelombang penaklukan bergerak dengan cepat di Arabia bagian Utara dan Timur, dan dengan berani menyerang kubu-kubu pertahanan diperbatasan Kerajaan Romawi Timur di Syirq al-Ardun dan Kerajaan Persia di Iraq Selatan. Dalam waktu enam tahun sesudah Mohammad s.a.w. wafat, seluruh Siria dan Iraq diharuskan membayar upeti kepada Medinah, dan empat tahun kemudian Mesir digabungkan pada Kerajaan Islam baru[6].
Kemenangan yang dialami, semakin membawa orang Arab dalam waktu kurang lebih satu abad ke Maroko, Spanyol, Prancis, dan gapura-gapura kota Konstantinopel, jauh ke dalam Asia-Tengah, hingga ke sungai Indus. Hal ini membuktikan bahwa sifat Islam sebagai suatu kepercayaan yang kuat, insaf akan harga diri sebagai agama yang dijajah. Sifat ini mengakibatkan pendirian yang tidak mengenal menyerah dan juga yang memusuhi segala apa yang ada diluarnya, tetapi juga menunjukkan toleransi, kesabaran hati yang luas di dalam masyarakatnya yang beraneka ragam.
            Ekspansi/penaklukan berlangsung dengan terus-menerus, hingga akhirnya mereka (Muslim) menyeberang ke eropa di Gibraltar pada tahun 711. Di Timur, India mencapai ekspansi itu pada tahun 732 hingga Poitlers (Perancis). Kemudian, budaya Islam berkembang di Spanyol kanan sampai abad pertengahan.
            Ilmu pengetahuan dan kebudayaan pun berkembang pada abad 9 dan 10. Pemikiran Plato dan Aristoteles telah dipelajari dan diberi komentar. Kebijaksanaan Aristoteles disampaikan kepada Yudaism (Maimonides) dan Kristianisme (Thomas) melalui ulama arab. Pendekatan filosofis ini menyebabkan persepsi tentang agama menjadi lebih rasional mengenai formulasi teologi Muslim.

Pokok pemahaman
Monoteisme
Tiada Tuhan selain Allah, dan Mohammad adalah nabi-Nya. Inilah hal yang prinsipil dalam pengakuan Islam, ungkapan milyaran umat muslim dalam doa-doa mereka setiap hari. Kalimat pertama dapat diakui oleh semua agama di luar Islam. Tetapi kalimat kedua, inilah yang membedakan Islam dengan agama lain. Monotheisme adalah yang hakekat dalam pengajaran Mohammad di antara bangsa Arab yang Politheisme. Sebagaimana para nabi Yahudi telah mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi, dan sebagaimana umat kristiani percaya pada satu Tuhan, sehingga Mohammad mengatakan kepada rakyat Arab bahwa Tuhan sendiri adalah satu dan bahwa Dia sendiri adalah Tuhan. Pada awalnya, Mohammad mengharapkan rasa simpati dari umat Yahudi dan Kristiani, tetapi pada akhirnya menjadi lebih nyata bahwa umat Yahudi tidak lagi mengakui dia sebagai seorang nabi dan bahwa Kristiani juga sudah melulu menghargai Jesus sebagai Putra Allah yang Tinggi. Mohammad mengetahui bahwa mereka tidak lagi memberi perhatian seperti yang dia harapakan sebelumnya. Ukuran atau porsi dari Al-Quran yaitu yang dihormati oleh peradaban islamologi barat sebagai awal dari periode terakhir yang menunjukkan perubahan sikap terhadap Yahudi dan Kristiani. Akan tetapi, Mohammad masih menghormati mereka sebagai orang yang percaya, tetapi dia juga menentang mereka (Yahudi dan Kristiani), khususnya doktrin Kristiani tentang Trinitas, sehingga Mohammad tidak menerima ke-Allah-an-Nya dalam pengertian monoteisme yang kaku.. Sumber dosa utama yang besar bagi manusia adalah menjadikan Allah (Tuhan) sebagai “partner”.
Sejak awal, Allah telah berkenan berbicara kepada manusia, melalui para nabi. Mohammad menunjuk terutama para nabi Yahudi dan Yesus. Wahyu Allah yang diterima Mohammad, dengan  demikian menguatkan wahyu lebih awal yakni wahyu yang diterima para nabi. Sebagai akhir dan bentuk wahyu yang pasti, Al-Quran telah menyediakan hal yang standard dengan wahyu yang lain secara teratur; apa yang ditulis dalam Al-Quran adalah benar, dan segala sesuatu yang telah ditulis Yahudi dan Kristiani, diperkenalkan secara salah atau menyimpang.
Dalam wahyu-Nya, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang berbelaskasih dan maha pengampun. Dia-lah yang dipuji dengan berbagai cara. Dengan penuh iman, Dia disebutkan dalam banyak nama-nama. Kesuciaan-Nya yang tidak bisa disangkal, adalah keunggulan yang sepenuhnya. Dia adalah Maha Pengasih dalam artian bahwa Dia membuat diri-Nya dikenal manusia, dan memberikan kepada manusia aturan hidup, dan manusia dengan berbagai cara berusaha menyenangkan Dia. Hal ini juga menunjukkan bahwa Dia adalah Pengampun.

Al-Qur'an
Apakah Al-Quran itu?. Arti kata Quran berasal dari kata Qaraa, yang artinya bacaan. Jadi Al-Quran adalah Kalam Allah s.w.t yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Muhammad s.a.w. yang ditulis di mushaf dan diriwatkan dengan mutawir serta membacanya adalah ibadat[7]. Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. pada tanggal 17 ramadhan tahun 41 Fiel, atau bertepatan dengan tanggal 6 Agustus tahun 610 Masehi. Penetapan tanggal 17 ini didasarkan pada firman Allah:
إن كنتم تؤمنون بالله وعلى ما أنزلنا على عبده لدينا (محمد) في يوم النحر ، وهو يوم الاجتماع اثنين من القوات. (س س آل الأنفال )
Artinya: jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Kurban, yaitu dihari bertemunya dua pasukan. (Q.S. Al Anfaal 41)[8]
            Yang dimaksud dengan hari furgaan ialah hari jelasnya kememnangan orang Islam dan kekalahan orang kafir, yaitu hari bertemunya dua pasukan di peperangan Badar, pada hari Jumat tanggal 17 Ramadhan tahun kedua Hijrah. Pada waktu menerima wahyu Al-Qur’an yang pertama itu Nabi Muhammad s.a.w. sedang berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari (tahun Qamariyah/Bulan) atau berusia 39 tahun 3 bulan 8 hari (tahun Syamsiah/Matahari) [9].
Allah dengan perantaraan Muhammad dengan tegas menyatakan bahwa manusia diciptakan dan dikirimkan-Nya ke dunia yakni dengan tujuan untuk menjadi khalifah-Nya ( Q.S. Al An ’am 165) Artinya:
"وقال انه (الله) الذي جعل لكم (البشر) باعتباره الخليفة في الأرض".
 “Dan Ia (Allah)-lah yang telah menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi”.
Adapun tugas pokok manusia sebagai khalifah Allah di bumi ada dua macam, yakni:
a. mewujudkan kemakmuran
b. mewujudkan kebahagiaan[10]
Keduanya merupakan perjanjian Allah dengan manusia pada saat manusia berada dalam roh. Tetapi setelah lahir ke dunia, manusia menjadi lupa akan perjanjian ini, sehingga dengan inilah, maka Allah mengirimkan para Rasul-nya kepada manusia, dan akhirnya menurunkan Al-Qur’an guna untuk menerangkan dan memberi petunjuk kepada manusia agar sukses dalam mewujudkan kemakmuran dan kebahagiaan sebagai realisasi dari janjinya dengan Tuhan sewaktu di alam roh dahulu. Sehingga mau tidak mau, manusia harus berhubungan dengan Tuhan, manusia dengan alam, sebagai satu kesatuan yang padu. Karena itulah Al-Qur’an diturunkan oleh Allah, untuk memperkenalkan Tuhan, manusia dan, alam dengan sejelas-jelasnya, dan karena itu pulalah seluruh isi Al-Qur’an menyangkut tentang Tuhan-manusia-alam.
Al-Quran (buku-buku lainnya, seperti Alkitab), dalam representasi tradisional, berasal dari sebuah, kitab surgawi asli yang disebut al-umm. Wahyu ilahi diberikan kepada Mohammad sedikit demi sedikit, bagian perbagian pada suatu waktu tertentu. Nabi mengumumkan, menyuruh untuk menghafal dan menuliskannya di pelepah-pelapah kurma, kulit-kulit binatang, sobekan-sobekan kain, dan potongan kayu.
Nabi menganjurkan agar Al-Qur’an itu dihafal, dibaca dan diwajibkan membacanya ketika shalat. Dengan jalan demikian, banyaklah orang-orang yang kemudian hafal Al-Quran, dengan tidak ada satu ayatpun yang ketinggalan[11]. Jadi pembacaan Al-Qur’an mengisi tempat yang penting dalam ibadah.

Lima pilar dalam agama Islam
                Ketaatan dalam religius/agama, ditandai dengan keseluruhan hidup, tidak sedikit pun seharusnya dalam kebiasaan tertentu dalam melaksanakan kewajiban setiap periode agama / religius. Hal itu tidak cukup apabila hanya percaya kepada Tuhan. Lima yang mengikuti kewajiban yang telah diamati antara lain:
ü  Iman: setiap umat muslim menerima Tuhan, dan Mohammad adalah utusan-Nya; mereka menghormati Al-Quran sebagai sabda Tuhan dan para malaikat adalah perantara atas kehendak-Nya.
ü  Salat: satu hal yang harus dilakukan setiap hari adalah berdoa. Ritual doa lima waktu setiap harinya adalah menjadi sebuah kewajiban.
ü  Zakat: masing-masing penganutnya berkewajiban untuk memberikan derma kepada orang lain.
ü  Ramadan: satu hal yang lebih wajib lagi adalah bahwa setiap sekali setengah tahun dalam bulan Ramadan, antara matahari terbit dan matahari terbenam; setiap bulan lunar Ramadan selalu berubah-ubah, meskipun meniti semua kalender.
ü  Haji: setiap orang wajib memilih naik haji ke mekkah, sekali dalam hidup mereka (atau juga boleh  lebih sering ); untuk melakukan pertemuan disekitar kabbah dekat mekkah- yang didirikan Abraham dan Ismael.
Doa dapat dilakukan di berbagai tempat, selama masih bisa membersihkan diri sebelum melakukan doa. Dalam mesjid, dimana setiap pengajaran ambil bagian, masing-masing wajib untuk menghadiri salat siang pada hari Jumat, sebagai hari suci. Dalam agama Islam, tidak mengenal istilah Imam, dan semua yang percaya adalah sama, tetapi setiap orang dihubungkan atau disatukan dalam Mesjid sebagai Imam untuk memimpin dalam kebiasaan doa. Dalam penambahan jumlah umat, ada petunjuk khusus, juga ada konsultan yang sah, dan pengajar-pengajar Al-Quran. Setiap umat muslim yang kompeten, pantas menjalankan tugas mereka setelah melakukan berbagai latihan-latihan. Bagi mereka tidak ada istilah pentahbisan, juga tidak ada hierarki.

Tradisi dan interpretasi
Dalam agama Islam, sudah ada penjelasan ayat-ayat sebelumnya yang diberikan dalam Al-Quran itu sendiri, di mana kita dapat menemukan tanda-tanda dan kadang-kadang bayangan dalam pengembangan yang berkaitan dengan ide-ide tertentu, karena pengaruh keadaan (seperti sikap terhadap Kristen dan Yahudi). Berbagai kelompok memberikan penafsiran mereka sendiri dari Al-Qur'an.
Selain Kitab Suci (Kitab), Tradisi (sunnah) memainkan bagian penting. Sunnah sangat dijunjung tinggi dalam Islam, sama seperti di komunitas-komunitas agama lain. Sunnah artinya kebiasaan masyarakat (Islam) yang belum dicatat dalam Al-Qur’an. Sunnah mulai berkembang di berbagai arah, setelah penyebaran Islam di wilayah yang lebih besar. Dengan demikian timbul kebutuhan untuk membedakan antara sunnah yang valid dan tidak valid. Tradisi; hanya tradisi yang berasal dan  kembali ke nabi sendiri dianggap valid. Sunnites adalah istilah yang digunakan untuk Muslim yang memperhatikan kebiasaan masyarakat. Orang-orang merasa lebih tertarik kepada hubungan yang hidup antara Allah dan manusia. Kepopuleran, kemasyuran agama Islam, berkaitan erat dengan adanya sejarah asketisme dan mistisisme dalam tradisi awali, seperti yang dilakukan oleh para sufi.

Perkembangan hukum dan doktrin
Diasumsikan bahwa Nabi telah menerima tidak hanya kitab, tetapi juga Hikmah (kebijaksanaan) untuk menafsirkan dan menerapkan apa yang tertulis dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam menafsirkan ini, akan banyak masalah hermeneutis yang muncul, dan masih akan selalu ada, sesuai dengan penafsiran dari setiap permasalahan tersebut. Sehingga untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul ini, maka adanya kesepakatan dalam prinsip-prinsip yakni dapat diterima pandangan umum. Prinsip 'kesepakatan umum (Ijma) adalah menyebabkan konsep hukum Islam memiliki karakter yang agak tetap dan kaku. Ijma berlaku tidak hanya dalam domain perkembangan hukum, tetapi juga di bidang dogma dan politik. Dengan demikian, keputusan-keputusan tertentu yang dibuat pada abad kedua dan ketiga telah menjadi irreversible (sesuatu yang tidak bias diubah lagi)
Mengenai syariah (ajaran hukum), menyatakan bahwa ia mengartikulasikan kehendak Allah. Hukum ini meliputi seluruh kehidupan, “religius” serta kelemahan manusia dan keserakahan, bagaimanapun, batas didirikan dalam bentuk ketentuan hukum. Gibb mencatat bahwa definisi standar untuk hukum berjalan sebagai berikut: "Ilmu hukum adalah pengetahuan yang benar tentang hak dan kewajiban di mana manusia fitly (tingkah laku yang pantas) melakukan / menjalani hidupnya di dunia ini dan mempersiapkan diri untuk kehidupan masa depan. Tindakan tentang yang tidak ada ketentuan demikian diizinkan; mereka acuh tak acuh dalam hal hukum. Ada lima golongan tindakan yang membedakannya yakni: 1) tindakan wajib bagi orang percaya; 2) tindakan non-wajib yang diinginkan atau direkomendasikan; 3) tindakan yang tidak peduli; 4) tindakan yang dipertanyakan, meskipun tidak dilarang; 5) tindakan yang dilarang. Empat sekolah ortodoks penafsiran hukum yang muncul. Penafsiran hukum tidak di tangan khalifah tapi sarjana hukum. Para khalifah menciptakan fasilitas untuk studi hukum Islam. Tentu saja masalah bagaimana aturan-aturan hukum agama untuk diterapkan kebijakan negara muncul lagi. Gibb menyebut syariah sebagai lambang "dari semangat Islam sejati, ekspresi paling menentukan pemikiran Islam, kernel[12] penting dari islam.
Toleransi meliputi karakteristik utama Islam dalam perkembangan doktrin. Batas-batas toleransi yang ditetapkan seluas mungkin, walaupun ada sedikit penghargaan untuk metode teologis tertentu, dan beberapa sekolah memberikan sedikit dukungan. Dalam perkembangan hukum selanjutnya, bahwa teologis tidak cukup memainkan peran penting dalam perkembangan Islam melainkan juga pengaruh filosofis yang  meskipun berkurang dalam perkembangan Islam selanjutnya.

Kebenaran Dalam Al-Qur'an
Al-Quran merupakan leksikon unik[13]. Pengetahuan hanya dapat diperoleh lewat kitab suci (Al-Qur’an) sebagai petunjuk dan rahmat kepada orang-orang yang beriman. Pengetahuan  yang berasal dari wahyu adalah pengetahuan yang paling penting yang bisa dibayangkan, dan merupakan prasyarat untuk memiliki kepercayaan. Ruang lingkup wahyu memenuhi syarat sifat pengetahuan. Pengetahuan-satunya yang benar-benar penting adalah pengetahuan Allah-pengetahuan-pengetahuan agama Islam dan kehendak Allah.
Dalam Al-Qur'an dikatakan bahwa ketika Ia memberikan Kitab Suci, Allah memanggil mantan nabi untuk percaya pada Utusan-Nya kemudian yang akan datang kepada mereka, "membenarkan apa dengan Anda". Mengkonfirmasi kebenaran di sini tampaknya berarti, untuk mengatakan bahwa hal-hal yang benar-benar demikian. Pengetahuan disini adalah mengetahui kenyataan itu. Tuhan telah berbicara mengenai kebenaran berarti mengatakan bahwa Allah telah dilengkapi dengan  pengetahuan tentang hal-hal sebagaimana adanya. Kebenaran tentang manusia dan dunia ini diungkapkan oleh wahyu.
Al-Quran tidak berbicara tentang pengetahuan manusia Allah dalam arti teoritis. Al-Quran tidak pernah berbicara tentang pengetahuan tentang Tuhan, menurut Rosenthal. Pengetahuan tentang Allah berasal dari wahyu dan karena itu adalah asal misterius; itu tidak spekulatif atau rasional diperoleh pengetahuan reflektif, tapi emosional, pengetahuan agama. Menurut kata-kata dalam Al-Quran, Allah muncul sebagai satu-satunya Penyebab sejati yang menciptakan dan menentukan nasib manusia. Ia marupakan Kepribadian Mutlak-sebagai yang digambarkan para sufi. Ia adalah al-haqq.

Perkembangan Kemudian
Pada abad kemudian, muncul pertanyaan apakah orang dapat mencapai pengetahuan tentang Allah melalui wahyu?. Mayoritas pemahaman yang dikembangkan, menurut Rosenthal, adalah bahwa Allah bersifat kasuistik[14]. Dia menyebutkan perbedaan yang menarik yang Ahmad b. Ata dibuat. Ia membedakan antara ma Rifa (pengetahuan) dari kebenaran (hagg) dan ma Rifa realitas (hagiga). Pengetahuan tentang kebenaran adalah pengetahuan tentang kesatuan Allah dengan mengetahui nama dan atribut-Nya. Pengetahuan tentang realitas Tuhan tidak mungkin tercapai bagi manusia. Kita akan melihat bagaimana hubungan antara akal dan wahyu dieksekusi kemudian pemikir Islam. Konsepsi Al-Quran adalah bahwa manusia hanya bisa tahu, apa yang Tuhan ingin dia tahu. Dan inilah yang digeluti oleh para kaum sufisme.
Mereka mengejar hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan, dan bahkan penyatuan dengan Allah di mana wahyu dan penalaran yang tertinggal. Mistik besar pertama adalah Al-Hallaj, dilaksanakan di 922, yang mengaku memiliki pengetahuan langsung tentang kebenaran.
Kini berada lagi diantara kebenaran dan Atau alasan demonstrasi Atau bukti, atau wahyu....
Ia adalah pernyataan: and'l-haqq, "Akulah kebenaran mutlak", atau, "Akulah Allah".
Berbeda konsepsi tentang pengetahuan yang dicapai dalam gerakan ini. Kadang-kadang pentingnya pengetahuan melunakkan, kadang-kadang dihargai sangat tinggi. Realitas benar (Haqiqah) bahkan kadang-kadang dipandang sebagai pengetahuan tidak sama. Dalam hal gagasan ini, kita dapat memahami bahwa pengetahuan yang benar dari Allah berarti persatuan dengan-Nya-pengetahuan, objek, dan subjek harus dianggap sebagai satu.

Filsafat Abad Pertengahan
Dalam bagian ini, kita akan memeriksa agak lebih dekat dua pemikir Islam yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani, terutama  filsafat Aristoteles: Al-Kindi dan Al-Faribi, pandangan Al-Ghazali, yang dengan kritis ingin ke arah filsafat, dan yang memimpin pengembaraan keberadaan seorang sufi di tahun-tahun terakhir hidupnya, kemudian membuat sketsa, dan akhirnya, filsuf Arab terakhir besar Abad tengah akan disebutkan, Ibnu Rusyd.

a) Al-Kindi
Dalam sejarah filsafat Islam, Al-Kindi dengan nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibn Ishaq al-Shabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy ‘as ibn Qais al-Kindi, (800-866) filsuf muslim keturunan Arab pertama[15]. Dia lahir di Kufa dimana ayahnya menjabat wali provinsi. Al- Kindi hidup semasa pemerintahan Daulah Abbasiyah, suatu masa kejayaan Dinasti Abbasiyah dan perkembangan Intelektual, khususnya faham Mu’tazilah[16]. Ide pemikirannya ditandai dengan pendekatan rasional antara agama dan filsafat. Menurut Al-Kindi's, filsafat adalah pengetahuan yang benar ( knowledge of truth). Al-Quran yang membawa argumen-argumen yang lebih meyakinkan dan benar tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran yang dihasilkan filsafat. Karena itu, mempelajari filsafat dan berfilsafat tidak dilarang, bahkan teologi adalah bagian dari filsafat. Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari keduanya. Agama disamping wahyu mempergunakan akal, dan filsafat juga mempergunakan akal.: Yang benar pertama bagi al-Kindi ialah Tuhan. Filsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama adalah dasarnya. Filsafat yang paling tinggi ialah filsafat tentang Tuhan. Dengan demikian, orang yang menolak filsafat maka orang tersebut menurut Al-Kindi telah mengingkari kebenaran, dan karena itu ia dapat dikelompokkon kepada “kafir”, karena orang tersebut telah jauh dari kebenaran kendatipun ia menganggap dirinya paling benar[17].   
Dalam metafisikanya, terutama mengenai Tuhan, bagi Al-Kindi, Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud-Nya tidak berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya. Dengan kata lain, Yang Esa mutlak merupakan sebab pertama langsung dari semesta alam sebagai ciptaan pertama. Begitulah alam dunia mulai dalam waktu, terjadi (muhdath) dan bersifat kontingen. Jadi Tuhan adalah pencipta bagi Al-Kindi[18].  Al-Kindi percaya bahwa kebenaran wahyu dalam Islam dapat dibuktikan dalam arti silogisme dengan cara yang tidak cukup hanya menentang. Dia memahami filsafat sebagai pengetahuan tentang realitas benda-benda, sepadan dengan kemampuan, dan pemahaman manusia. Analisis Rasional tidak bisa tidak setuju dengan wahyu yang terdapat dalam Al Qur'an. Karena itu, dia bisa mengadopsi persepsi filsafat Yunani dalam pikirannya. Ada berbagai cara untuk mengetahui; yakni dengan persepsi akal dan dengan analisis yang wajar. Pemahaman akal budi terjadi pada saat pengabstraksian bentuk-bentuk objek yang dimengerti, sehingga akal budi menjadi identik dengan objek dalam tindakan pemikiran. Dalam perlakuan akal budi, Al-Kindi memberikan pandangan tentang pemahaman aristotalian. Ia membedakan empat makna dari akal budi dalam Aristoteles: aktual/ kenyataan, potensi, kebiasaan, dan memanifestasikan. Pusat epistemologi ini adalah bahwa "menyadari pengetahuan serupa dengan objek” , seperti yang ditulis oleh Aristoteles sendiri. Jiwa menjadi identik dengan kesadaran sebuah  objek, ketika intelek membuat bentuk transisi dari keadaan potensi untuk keadaan sebenarnya.



b) Al-Farabi
Al-Farabi nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh al Farabi[19], 872-950 M, lahir di dekat Farab di Turkistan, berhaluan Shi’a, belajar pada Yuhana b. Haylam di Baghdad dan Y. B jilad si Harran, kedua filsuf Serani.  Al- Farabi adalah salah satu filsuf yang terbesar dari Arab, dan pemikirannya sangat religius dan mistik. Ia sangat dipengaruhi oleh Filsafat Yunani. Seperti pemikir Muslim lainnya, Al-Farabi menganggap filsafat Yunani sebagai satu kesatuan, di mana tidak hanya Plato dan Aristoteles ditempatkan dalam kerangka tunggal, tetapi di mana teori emanasi Neo-Platonis juga menempati posisi terkemuka. Dasar Tertinggi yang membentuk dasar dari semua yang ada adalah intellectum intelligens intellectus. Selain beberapa arti lain dari kata aql (akal budi), Al-Farabi menyebutkan konsep Aristoteles tentang akal budi di de anima, dalam perbedaan antara intelectus in potentia, intellectus di effectu, adeptus intellectus, dan intellectus agens. Begitu intelek potensial mengadopsi[20] bentuk untuk dirinya sendiri, hal ini  menjadi intelek aktual (efektif). Bentuk dari intelligibilia dalam intelek aktual, dapat menjadi obyek pemikiran, yaitu untuk bentuk yang lebih tinggi dari pikiran, yaitu intellectus adeptus (acquired intellect)[21].  Dengan demikian, Al-Farabi memposisikan ‘aql fa” al (intellectus agens, atau Agen intellectus) sebagai yang Tertinggi dalam bentuk immaterial. Sementara intellectus effectuates merupakan transisi/perubahan dari intellectus potensi ke intellectus di effectu, dan membuat bentuk-bentuk aktual yang potensial, seperti matahari memungkinkan penglihatan untuk melihat warna dengan jelas.
Al-Farabi melihat wahyu juga ditentukan oleh sistem filosofisnya. The fa al "aql (intellectus agens) bekerja secara langsung pada imajinasi nabi. Melalui wahyu, Nabi mampu mengajarkan kebenaran sejati massa (masyarakat banyak) dalam bentuk representasi empiris. Wahyu mengartikan kebenaran dalam pemikiran filosofis menjadi gambar  yang jelas dan meyakinkan massa.

c) Al-Ghazali
Al-Ghazali dengan nama lengkapnya Abu Hamid ibn Muhammad ibn Ahmad al-Ghazali, dan digelar Hujjah al-Islam[22], (1058-1111 M) dianggap sebagai salah satu pemikir paling penting dan berhasil dalam Islam. Al-Ghazali menentang sintesis filsafat Yunani dan pemikiran Islam di sekolah filsafat Islam pada Abad Pertengahan. Dia mengkritik pemikiran dalam hal emanasi[23] dan menekankan Kehendak Allah.
Menurut dia, pengetahuan yang benar, diperoleh bukan beradasarkan pengetahuan sensori atau beradasarkan persepsi yang seolah-olah benar tetapi berdasarkan "cahaya (kasih karunia) yang dipancarkan Allah ke dalam hati-Nya". Inilah yang dapat mengatasi keragu-raguan banyak orang mengenai kebenaran yang sejati yang selama ini dipahami oleh banyak orang.

D). Ibn Rusyd
Yang terakhir dari pemikir besar Islam Abad Pertengahan adalah filsuf Spanyol, Ibn Rusyd (1126-198 M, pada latin,Averroes). Ibn Rusyd menjadi salah satu komentator unggul  Aristoteles di abadtengah.Dia mampu,karenapengetahuanyang luas tentang Aristoteles, untuk mengembangkan posisi baru sehubungan dengan pertanyaan lama tentang bagaimana iman dan akal dapat dikaitkan.
Ibn Rusyd percaya bahwa iman dan akal budi itu berada dalam harmoni satu sama lain. Ibn Rusyd menggunakan atribut filosofi untuk menjelasan Kitab Suci (Al-Quran), tetapi tidak selalu berkeyakinan bahwa semua orang harus sependapat dengan hasil refleksi filosofis tersebut. Dalam kebaikan-Nya, Allah telah membuat dirinya dikenal umatnya. Keselarasan antara filsafat dan agama (iman dan akal budi), ibn Rushd memulai kitab dengan menyaksikan imannya. Delapan fasal yang menjadi hakekat iman muslim dan tak dapat diragukan yakni 1) keberadaan Allah, pencipta dan pemimpin didunia, 2). kesatuan Allah, 3). atribut perfefctionnya (pengetahuan, hidup, akan, mendengar, melihat, pidato), 4). kebebasan dari ketidaksempurnaan (sebagai akibat dari surah 42: (9) 11, tidak ada hal-hal yang sama dengan DIA, sering dianggap sebagai dasar untuk melalui remotionis); 5). penciptaan dunia; 6). validitas nubuat, 7). keadilan Allah, dan, 8). kebangkitan setelah kematian. Tiada satu fasal pun yang bertentangan dengan akal, dan pemahaman akal oleh filsafat membantu untuk memahaminya lebih baik[24].  

4. Sikap toleransi terhadap pengikut agama lain
            Dalam Al-Quran, umat Islam diajarkan untuk menghormati penganut agama yang berbeda. Namun umat Islam dihadapkan pada permasalahan dalam hubungan dengan agam lain, sejak mereka wajib sebagai agama yang menyerahkan diri secara total, dan melaksanakannya dalam keseluruhan hidup. Menurut Khoury, prinsip terbesar dalam Islam adalah bahwa Allah membimbing umat-Nya. Inilah norma yang absolute, satu, yakni mampu mengarahkan diri kepada kehendak Tuhan. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an menjadi petunjuk dalam melakukan penyerahan diri dibentuk pedoman untuk proses ini, penerapannya ditentukan oleh keadaan.
Dasar toleransi terhadap non muslim ialah bahwa suatu keharusan yang tidak pantas dalam agama. Nabi menghargai karena pengakuan para ahli yang relatif dari nabi-nabi lainnya, terutama para nabi Israel dan Jesus. Sebab disanalah basis pertama Wahyu, meskipun ada perbedaan antara Qur'an, buku-buku dari Moses, dan buku-buku dari Kristen. Namun, sikapnya terhadap orang-orang dengan keyakinan yang berbeda telah diubah ketika ia berlari melintasi resistensi dan ancaman pada pihak lawan-lawannya di Mekah. Inilah yang menyebabkan dia (Mohammad), untuk mengambil sikap yang lebih kaku, dan menurut Khoury, ini sikap keras menjadi dasar dari undang-undang nanti. Ingat di sini bahwa dari awal, ada dua kepentingan utama, pertama, perlindungan dan penyebaran iman, dan kedua, perlindungan dan pembentukan kesatuan masyarakat religius. Ketidak percayaan dan setiap hambatan lain sangat berbahaya bagi masyarakat islam, karena Islam adalah pondasinya. Ingat lagi di sini bahwa pandangan Islam adalah bahwa pengetahuan tentang Allah milik bakat alami manusia, dan wahyu yang datang melalui nabi banyak untuk semua orang. sehingga dapat dimengerti bagaimana sikap yang berbeda terhadap kebebasan beragama dikembangkan:
1.  muslim tidak diizinkan untuk menolak iman mereka.
2. orang musyrik tidak akan dimaafkan karena Allah tidak mematuhi 'mitra' tidak pula mereka ditolerir.
3. Manusia lewat buku diizinkan untuk memiliki kebebasan agama, namun mereka sendiri yang bertanggung jawab atas perilaku mereka dalam kehidupan.
Hal ini mengatakan bahwa kaum muslimin tidak boleh hidup bersama dengan orang-orang yang tidak percaya, dan tentu saja tidak dengan kafir. Sikap terhadap lainnya harus dipahami dengan latar belakang perjuangan yang akan dilakukan, dalam contoh pertama terhadap suku politeistik. Yang terakhir yaitu Muhamad juga memerintahkan ekspedisi melawan suku Kristen di utara semenanjung Arab. Meskipun ajaran dari Muhammad terhadap Yahudi dan Kristen, dimana mereka tetap menerima kebebasan beragama dalam agama mereka, mereka terpaksa membayar upeti, tetapi dapat mengandalkan perlindungan. Penganiayaan terhadap Yahudi kadang-kadang terjadi, dimana penganiayaan tersebut bertepatan dengan semangat zaman, bahwa orang lain tidak diperbolehkan berintegrasi ke dalam masyarakat Islam karena hal ini merupakan ketentuan yang berasal dari Qur'an itu. Bagaimana ini bekerja dalam waktu-waktu kemudian tergantung pada interpretasi yang diberikan untuk Qur'an itu.Simak
Baca secara fonetik



[1]  Bdk : Prof. Dr. Abubakar Aceh, Perbandingan Mazhab Syi’ah : Rasionalisme dalam Islam, hlm. 3-5; H.A.R. Gibb,  Islam dalam Lintasan Sejarah, hlm. 9.
[2]  STFT Widya Sasana, Studia: Philosophica et theological, Vol.9, No. 1, Maret 2009, hlm. 92-116.
[3] Bdk. H.A.R. Gibb, Islam dalam Lintasan Sejarah, hlm. 27-35.
[4]  Ibid., hlm. 27
[5]  Ibid, hlm. 10
[6]  Ibid., hlm. 32
[7]  Al Quraan dan terjemahannya, hlm. 13
[8]  Drs. Syahminan Zaini, Ir. Ananto Kusuma Seta, Bukti-Bukti Kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, hlm. 9-16
[9]  Ibid., hlm. 9
[10]  Ibid., hlm. 23-26
[11]  Drs. Syahminan Zaini, Ir. Ananto Kusuma Seta, Bukti-Bukti Kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, hlm. 17-18
[12]  Kernel : yang sangat paling benar “ Inti”. Jadi syariah menjadi kernel dalam agama Islam
[13] Annemarie schimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam,(terj), hlm. 24.
[14]  Kasuistik memiliki 2 arti dalam arti positif dan negatif.dalam arti positif yaitu doktrin yang berurusan dengan soal tinggak laku benar atau salah, atau penerapan aktual prinsip-prinsip moral pada tingkah laku tertentu. Dalam arti negatif yaitu penalaran atau ajaran yang bersifat sofistis, ekuivok, keliru atau tidak terarah tentang perilaku, kewajiban, dan prinsip-prinsip moral seseorang. Bdk, Lorens Bagus, kamus filsafat, hlm. 393
[15] Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A,  Filsafat Islam,hlm. 15
[16] Ibid, hlm. 17
[17] Ibid, hlm. 18
[18] JWM.Bakker SY, sejarah Filsafat dalam Islam, hlm. 28-31
[19] Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, filsafat Islam, hlm. 32, JWM. Bakker. SY, Sejarah Filsafat dalam Islam, hlm. 32-40
[20]  Mengadopsi dalam hal ini berarti “memikirkan”, bdk. Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, filsafat Islam, hlm. 39
[21]  Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, filsafat Islam, hlm. 40
[22]  Ibid, hlm.77
[23] Emanasi adalah suatu pemikiran yang berasal dari Al-Farabi yang mengatakan bahwa Tuhan bukanlah pencipta alam, melainkan sebagai Penggerak pertama. bdk. Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, filsafat Islam, hlm. 37,
Emanasi adalah dokrtin mengenai terjadinya dunia, dimana dunia terjadi karena dan oleh proses dimana yang ilahi meleleh. bdk. Lorens Bgus, kamus filsafat, hlm. 193.

[24]  JWM.Bakker SY, sejarah Filsafat dalam Islam, hlm. 73-82

Reaksi:

0 komentar: