Sabtu, 27 November 2010

JUGUN IANFU SEBAGAI LIYAN


Dewasa ini, kita dihadapkan pada berbagai persoalan di tengah masyarakat. Banyak orang yang belum merasakan kebaikan dan keadilan. Salah satu contoh yang saya paparkan ialah masalah jugun ianfu[i]. Mereka dikucilkan oleh masyarakat sekitar, dicap sebagai pelaku seks komersial Jepang. Status jugun ianfu telah membuat mereka terpisah, menjadi yang lain (liyan) di tengah masyarakat. Hal yang sama juga dialami oleh para jugun ianfu yang ada di Indonesia. Dalam makalah ini saya akan meninjau fenomen ini dalam ranah pemikiran Emmanuel Levinas. Fenomen yang akan saya tinjau ialah posisi jugun ianfu yang ada di Indonesia.
Pada akhir pembahasan ini, saya juga menguraikan sedikit aplikasi pemikiran Levinas dalam hidup bersama terutama dalam hidup bersama. Jadi, bagaimana kita menerima mereka sebagian sesuatu yang harus ada dalam masyarakat. Karena sampai ini, masih ada pergolakan mereka dalam hidup bermasyarakat. Mereka dipandang secara negatif oleh masyarakat sekitar. Bukan hanya itu saja tetapi tidak dilibatkan dalam pergaulan sehari-hari[ii]. Sampai saat ini, masih ada korban jugun ianfu yang hidup walaupun usia sudah tua. Misalnya dari Pulau Jawa ; Mardiyem, Sumirah, Emah Kastimah, Sri Sukanti dan masih banyak lagi. Tetapi bagaimana pemerintah Indonesia memandang fenomen ini ?. Pemerintah Indonesia menganggap masalah ini sebagai masalah yang sudah selesai. Bahkan pemerintah Indonesia telah menjalin hubungan bilateral dan ekonomi yang erat dengan Jepang. Selain itu, pemerintah Indonesia memandang masalah ini sebagai aib yang tidak perlu lagi dibicarakan.  Padahal dari pihak jugun ianfu sendiri mereka sangat merindukan keadilan bagi mereka terutama bagi keturunan mereka supaya keturunan mereka tidak mengalami juga seperti nasib mereka[iii]. Hal ini berarti bahwa pemerintah Indonesia tidak ambil bagian dalam penderitaan mereka. Di sana tidak terdapat kebaikan dan keadilan. Mereka yang lain (liyan) dalam hidup bermasyarakat. 
YANG LAIN itu WAJAH 
Berbicara tentang liyan, Levinas mengaitkannya dengan relasi etis. Levinas melihat bahwa pengetahuan dan ADA ( being) merupakan satu kesatuan dalam realitas[iv]. Ketika pengetahuan itu dikomunikasikan, itu hanya dapat ditemukan di samping orang lain, bukan dihadapkan dengan orang lain, bukan dengan cara yang sama bagaimana saya memahami atau mengenal obyek tetapi dalam relasi langsung dengan dia. Sehingga perjumpaan dengan yang lain itu menuntut tanggungjawab, sesuatu yang lebih untuknya tanpa mengharapkan balasan dari padanya. inilah yang disebut WAJAH. Dalam biografinya, Levinas mengungkapkan sebuah pernyataan yang representatif dari pandangannya tentang liyan. levinas mengatakan :

"My effort consists in showing that knowledge is in reality an immanence, and that there is no rupture of the isolation of being in knowledge; and on the other hand, that in communication of knowledge one is found beside the Other, not confronted with him, not in the rectitude of the in-front-of-him. But being in direct relation with the Other is not to thematize the Other and consider him in the same manner as one considers a known object, nor to communicate a knowledge to him. In reality, the fact of being is what is most private; existence is the sole thing I cannot communicate; I can tell about it, but I cannot share my existence. Solitude thus appears as the isolation which marks the very event of being. The social is beyond ontology." "...I am responsible for the Other without waiting for reciprocity, were I to die for it. Reciprocity is his affair. It is precisely insofar as the relation between the Other and me is not reciporcal that I am subjection to the Other; and I am "subject" essentially in this sense. It is I who support all...The I always has one responsibility more than all the others."[v]

Dalam hal ini, Levinas melihat bahwa orang lain sangat istimewa, memiliki kedalaman dan kedalaman inilah yang menuntut orang lain berbuat sesuatu terhadapnya, menuntut Yang lain melakukan keadilan dan kebaikan terhadapnya. Pemikiran levinas ini sangat berkaitan erat dengan pemikiran Martin Heidegger, gurunya[vi]. Levinas menjadi pengikut Heidegger dalam Being and Time. Kita tahu bahwa Heidegger memahami Metafisika secara baru. Heidegger mencoba mengubah obyek metafiska yaitu tentang manusia. Ada beberapa poin yang dimunculkan Heidegger dalam pemikirannya tentang manusia; pertama, Being-in-the-world. Ini mau mengatakan bahwa manusia itu sungguh-sungguh berada dalam dunia, bukan sebagai entitas yang dapat dicabut dan dipisahkan dari dunia. Kedua, being-with-one-another (encountering Others). Ini mangatakan bahwa manusia bukanlah mahluk sendirian tetapi juga sebagai mahluk sekadar dengan orang lain; orang lain bukanlah hanya sebagai teman dimana dengannya saya hidup tetapi juga sebagai horizon pengalaman dan rasionalitas saya. Artinya bahwa orang  menginginkan orang lain di hadapannya itu tersenyum, tersipu, terpukau, gembira, tertawa. Bahkan Heidegger menambahkan bahwa ketika orang kain itu sakit saya juga merasakannya.  Dengan demikian relasi tidak hanya perjumpaan, tukar pikiran satu dengan yang lain, sapa menyapa. Tetapi menjadi dunia kesehariannya. Poin inilah yang dikembangkan Levinas tetapi dalam perspektif yang sangat berbeda ; etis transendental. Ketiga ialah being-with-things ( encountering Things). Ini mau mangatakan bahwa perjumpaan dengan things adalah juga perjumpaan kita dalam dunia ( dalam keseharian)[vii]. Bagi Levinas, peran pemikiran Heidegger tidaklah dapat dengan mudah dilupakan tetapi harus dilampaui ( beyond). Perbandingan sederhana dapat dikatakan bahwa Heidegger berbicara tentang Being tetapi Levinas berbicara tentang Etika dan bagi Levinas etika melampaui Being ( Otherwise than Being).

Menurut levinas, Filsafat Barat telah menyibukkan diri dengan Being, totalitas dan mengorbankan Orang Lain ( Otherwise than Being), apa yang berada di luar Being. Misalnya : transcendence, eksterior, infinit, eksterior dan Orang Lain. Inilah yang oleh Levinas disebut Ontologi. Levinas mau membedakan ontologi dengan etika.  Kita tahu bahwa dalam filsafat Barat, para filsuf berusaha membangun suatu argumen tentang realitas berdasarkan ego. Salah satu emblem yang  sangat terkenal ialah ungkapan yang berasal dari Rene Descartes. Ia mengatakan bahwa “saya sadar maka saya ada” (cogito ergo sum).

Bagi levinas, etika harus dikondisikan dengan sebuah ‘perjumpaan dengan orang Lain’  (encounter with Other). Perjumpaan ini tidak dapat direduksikan pada hubungan timbal-balik (symmetrical relationship). Relasi ini juga tidak boleh dibatasi oleh sejarah dan waktu. Etika ini juga bukan sebagai petunjuk-petunjuk moral dalam bertindak tetapi ini adalah sebuah pangilan ke dalam pertanyaan dari diri, self, same. Panggilan  dimana tidak dapat terjadi dalam spontanitas egois dalam diri ini dibawa oleh yang lain. Artinya etika itu muncul ketika kebaruan, tidak dapat diperkecil lagi ( his irreducible), datang pada saya, pada pikiran saya.
Dalam ontologi, filsafat bersifat narsis. Ia mencari kepuasan dengan memasukkan Yang Lain ke dalam dirinya. Dengan demikian filsafat mengunggulkan self, Same, subyek, Being. Sehingga filsafat tidak melihat sesuatu di luar dirinya. Sedangkan dalam etika, relasi dengan Yang Lain itu bagaimana pun menjadi sebuah relasi tanpa relasi. Artinya bahwa Orang Lain itu tidak pernah bisa direduksikan ke dalam diri, ia berada jauh di luar totalitas. Sehingga perjumpaan dengan Orang Lain itu, memanggil ‘ego’ ke dalam pertanyaan. Bagi Levinas, saya ‘I’ tidak dapat berfantasi untuk memiliki dunia dalam konteks perjumpaan dengan yang lain. Kekuatan dan kebebasan dari  Same, self, diri dipanggil ke dalam pertanyaan.

Levinas' ethics is situated in an "encounter" with the Other which cannot be reduced to a symmetrical "relationship." That is, it cannot be localized historically or  temporally. "Ethics," in Levinas' sense, does not mean what is typically referred to as "morality," or a code of conduct about how one should act. For Levinas (1969), "ethics" is a calling into question of the "Same"[viii]

Jadi sebagaimana dalam ontologi ( maksudnya dalam filsafat Barat ), sesuatu itu bisa dimasukkan dalam diri sehingga bisa menjadi sumber kenikmatan. Sebaliknya, dalam etika tidak bisa sama sekali. Yang Lain itu tidak dapat dimiliki sehingga sebagai ‘I’ perjumpaan dengan Orang Lain, ditarik kembali dalam arti kebebasannya, dimana sebuah kebebasan ditemukan melalui Orang lain. Perjumpaannya tersebut sebagai bertanggung jawab dan kewajiban terhadap Orang Lain sebagai kebebasan sejati.

Wajah hadir dalam penolakannya untuk diketahui, ia tidak dapat dipahami. Ia bukanlah yang lain dalam pergantian (alterity )relatif sabagai ada, bahkan sebagai ruangan terakhir, dimana satu sama lain lengeluarkan yang lain. Tetapi masih memiliki tempat mereka dalam kelompok jenis mereka. Pengeluaran satu sama dengan melalui definisi mereka, tetapi panggilan untuk yang lain dengan pengeluaran ini melewati jenis kelompok mereka. Pergantian dari Other tidak tergantung pada adanya kualitas yang akan membedakannya dengan saya, karena sebuah perbedaan dari kodratnya akan menyatakan dengan tepat kita bahwa komunitas antara kita telah dihapuskan.

Dan lagi, Other bukan semata-mata meniadakan saya (I), meniadakan total yang mana pembunuhan merupakan godaan dan percobaan yang lebih pada mendahului relasi. Relasi antara Other dengan saya (I), dimana muncul terus-menerus dalam ungkapannya. Other itu sangat tidak terbatas (infinitely transcenden), asing yang tak terbatas (infinitely foreign); wajahnya dengan penampakannya dihasilkan, ia memohon dari hati ke hati terhadapku untuk memutusakan hubunganku dengan duniaku yang menjadi kebiasaanku.[ix]
PERJUMPAAN DENGAN OTHER SEBAGAI FILSAFAT PERTAMA DAN TEOLOGI PERTAMA[x]
Ada dua aspek dari pemikiran Levinas yang perlu dibawa ke depan ; pertama, praktek kodrati dari filsafat dan teologi, ini ditimbulkan oleh adanya sebuah pembukaan rahasia pertama dari pribadi lain ( a first revelation). Artinya bahwa ketika kita berjumpa dengan orang lain itu. Kedua, maksud etis dalam kitab suci dimana tidak seharusnya dilihat sebagai refleksi yang bertentangan di antara keduanya; filsafat dan teologi. Ini hanya mau mengatakan bahwa filsafat dan teologi harus diletakkan dalam tindakan (Praxis)[xi] artinya bahwa keduanya harus bermuara dalam tindakan konkret. Praktek-praktek yang dimaksud ialah situasi dimana seorang menemukan orang lain sendiri (oneself) ketika seorang bertemu orang lain. Bagi Levinas sesegera seorang menghadapi orang lain, sejak itu situasi menjadi situasi etis, karena menuntut balasan dan keputusan (response and decision). Ketika keputusan adalah bebas dari pihak subyek, pemancingnya datang ( dari orang lain itu) pertama kali. Ini bukan mengandaikan kebebasan kemudian tanggung jawab (tetapi) lebih pada memanggil sesorang untuk bertangunggjawab kepadanya dan kemudian keputusan dibuat dengan bebas.[xii]

Bagaimana kita mengamati fenomena jugun ianfu ini?. Persoalan ini tetap aktual untuk dibicarakan mengingat sampai sekarang masih sering terjadi tindak kekerasan terhadap kaum perempuan di negara kita ini. Perempuan seringkali menjadi objek pembicaraan yang tidak pernah selesai dan tetap hangat untuk dipersoalkan. Perempuan menjadi bahan pembicaraan. Dengan demikian orang berbuat sesuatu yang berasal  dari ego kita. Hal yang sama juga kita temukan dalam pengalaman pahit para korban jugun ianfu di negara kita dewasa ini.Bila kita bertolak dari pemikiran Levinas, kita akan sampai pada pengertian bahwa mereka seharusnya mendapat perlakuan adil dan baik. Ketika Levinas mengatakan bahwa setiap memiliki kedalaman dalam dirinya, kita tidak dapat sampai pada yang lain itu tanpa kita keluar dari diri kita, itu mau mengatakan bahwa kehadiran, perjumpaan kita dengan yang lain menuntut perbuatan, tindakan etis dari kita terhadapnya. Kita tahu bahwa pemikiran ini dilatarbelakangi oleh pengalamannya yang sangat menyedihkan pada masa perang dunia II[xiii].

Tetapi Levinas telah memberi pandangan etis dalam hidup bersama. Pembunuhan besar-besaran yang dialami oleh orang-orang se-zaman Levinas telah melenyapkan atau mengesampingkan nilai terdalam dari eksistensi manusia. Manusia bagaikan tidak ada harganya. Manusia menjadi yang lain di antara sesamanya. Ia bisa dikuasai oleh ego sesamanya yang tidak mengenal kedalaman dari setiap pribadi tersebut. Hal yang sama juga dapat kita aplikasikan dalam pengalaman para jugun ianfu ini. Perlakuan kejam yang dilakukan oleh tentara Jepang terhadap mereka telah menghancurkan nilai, harga diri mereka sebagai manusia. Jelas, bahwa mereka telah menjadi sesuatu yang dapat dimasukkan ke dalam lingkup diri para tentara Jepang. Mereka telah menjadi sekedar penikmat para tentara Jepang (subyek). Mereka diperlakukan sebagai budak seks. Ini mengandung konsekuensi bahwa mereka telah menjadi korban ego tentara Jepang yang dikuasai oleh daya seks. Kekejaman ini belum selesai mengingat masyarakat kita masih memandang status ini sebagai secara negatif.

Dalam hal ini, perjumpaan kita dengan mereka jelas merupakan perjumpaan egois yang berasal dari ego kita masing-masing. Para jugun ianfu di tengah masyarakat kita seringkali dipandang sebagai pelaku seks komersial Jepang. Memperlakukan mereka demikian berarti kita dapat ‘mengenal’ mereka dari diri kita. Mereka kita kuasai, kita monopoli sebagai ada yang sangat terbatas pada pikiran dan ego kita. Seakan wajah mereka hanyalah wajah yang mengundang kita untuk menindas mereka. Pandangan kita yang demikian sangat berbahaya karena akan menjadi tembok pemisah antara kita dengan mereka bukan hanya sekarang tetapi bahkan sampai saat yang tidak terbatas. Itu berarti pengalaman ini bisa dialami sampai taraf anak cucu mereka. Hal ini sama dengan pemerkosaan yang mereka alami pada zaman Jepang; suatu indikasi bahwa mereka belum mengalami kebaikan dan keadilan.
Levinas menyumbang pemikiran yang besar bagi kita dalam mengamati fenomen ini. Para jugun ianfu itu adalah Yang Lain yang hadir sebagai pendatang di tengah-tengah kita. Sebagai pendatang baru, kita juga tentu tidak mengenal mereka. Mereka memiliki kedalaman diri yang sangat dalam. Mereka tak terselami dari diri kita. Untuk sampai pada mereka, kita harus meninggalkan diri kita, keluar dari diri kita. Kita meninggalkan konsep-konsep dalam diri kita tentang mereka. Memang bagi Levinas, tindakan ini merupakan tindakan yang sangat transendental. Mengingat sifatnya yang transendental maka tindakan yang terjadi di sanapun adalah tindakan murni. Artinya relasi yang bukan berasal dari ego seseorang. Jadi lebih pada bagaimana kita memberi tempat bagi mereka dalam hidup kita. Kita menyadari bahwa mereka adalah juga bagian dari masyarakat kita yang tidak dapat terpisahkan. Dengan dimikian, kita mengakui eksistensi mereka (in se). Di sanalah terjadi relasi etis nantinya. Kita tahu bahwa pada kenyataannya, para jugun ianfu ini sangat membutuhkan perlakuan adil dan kebaikan dari kita. Kalau kita berangkat dari sana, maka perjumpaan kita dengan para jugun ianfu ini pun akan membawa kita pada perjumpaan etis. Dengan demikian, di sana tidak akan muncul konsep mengecam bahkan menyingkirkan mereka dari lingkup relasi kita dengan sesama.  Berbuat baik dan keadilan dalam pandangan Levinas bukanlah pertama-tama memberi sesuatu yang bersifat materi bagi mereka tetapi terlebih bagaimana kita sampai pada tahap di mana kita bisa keluar dari ego kita. Dengan demikian kita keluar dari pandangan negatif, perspektif kita terhadap mereka. Hal penting dari dalam relasi ini ialah bahwa kita berbuat baik terhadap mereka tanpa mengharapkan balasan dari mereka. yang lain atau dalam hal ini para jugun ianfu ini adalah pendatang bagi kita. Maka kita harus melayani mereka. Melayani dalam arti kita mengikuti undangan mereka untuk bersama-sama mengalami trasendensi bersama mereka.
PARA JUGUN IANFU  itu SAUDARA
Apakah pemikiran ini juga sebagai dasar persaudaraan bagi kita ? Persaudaraan hanya dapat terjadi apabila ada hubungan  baik. Baik dalam arti bukan berarti tidak terjadi kesalah-pahaman di antara kedua belah pihak. Tetapi bagaimana persoalan itu dapat diatasi. Kita dapat juga menerapkan makna filosofis Wajah di sini. Pemahaman bahwa Yang Lain itu berada di luar diri saya, tak terbatas itu mengandung konsekuensi dalam persaudaraan.  Artinya ketika saya menyadari bahwa teman saya adalah pribadi yang jauh di luar diri saya, saya tentu tidak akan memperlakukannya dengan semau saya. Sebaliknya, saya harus belajar memahaminya, bukan dalam tahap psikologis saja tetapi juga dalam taraf metafisis, artinya  saya keluar dari diri, ego saya.  Retaknya persaudaraan hanya dapat terjadi kalau kita telah “menguasai” Yang lain, mengenal mereka dalam konsep kita. Sehingga orang lain telah menjadi seperti yang kita bayangkan, kita lukiskan tentunya dengan ego kita.

Dengan demikian, kita memiliki pandangan, persepsi tertentu tentang orang itu, Posisi kita yang demikian ini, tidak dapat memberi tempat bagi yang lain. Hal yang sama dapat juga kita terapkan dalam hidup bersama dengan para jugun ianfu di tengah masyarakat kita. Kesadaran bahwa Yang Lain itu adalah tak terhingga, mengandung suatu konsekuensi bahwa kita akan memperlakukan dengan pantas dalam arti adil dan baik. Sampai sekarang, kita masih dapat menemukan sosok-sosok para jugun ianfu ini. Mereka hadir di tengah, di antara kita. Akankah  mereka tetap menjadi Yang Lain di antara kita ?. Haruskah kita menghakimi sosok pribadi “yang tidak kita kenal, yang tak terselami” dengan ego kita ?
Sangat jelas bagi kita  bahwa para jugun ianfu ini bukanlah sosok yang hanya tampil bahkan datang pada kita dengan begitu saja. Sebaliknya, mereka itu adalah sebagai pendatang yang haus akan bantuan dari kita. Hanya sikap keterbukaan terhadap mereka yang dapat membebaskan mereka. Keterbukaan kita berarti kita mau keluar dari diri kita, berbuat dan bertindak dengan jujur kepada mereka. Kalau hal ini terjadi dalam diri kita, maka kita akan dapat meretas tali-tali pemisah antara status jugun ianfu ini dengan kehidupan yang lebih baik dan rukun. Tidak akan terjadi pengecaman, penindasan terhadap sesama.



[i]Mereka ini adalah para perempuan yang yang ditangkap dengan berbagai cara oleh tentara Jepang lalu dijadikan sebagai wanita penghibur di rumah-rumah bordil tentara Jepang pada masa perang Asia Pasifik . mereka tidak hanya dipaksa sebagai pelayan kebutuhan seksual tentara Jepang tetapi juga diberlakukan sebagai  budak seks secara brutal baik oleh tentara Jepang juga masyarakat sipil. Mereka dijadiakan  sebagai budak seks pada umur 13-16, 13-25 tahun. Setelah perang Asia Pasifik terakhir, para  korban jugun ianfu ini menanggung banyak beban baik mental maupun fisik. Mereka sangat menderita; merasa diri tidak berharga, sehingga sangat malu untuk pulang kampung. Mereka cenderung  mencari tempat lain yang bisa dijadikan sebagai tempat berlindung dan berdiam diri untuk menghilangkan rasa malu itu. Selain pergolakan dari diri mereka juga ada perlakukuan tidak adil  dari masyarakat sekitar mereka.

[iii] Hilde Janssen, wajah-wajah mendobrak kebisuan, Tempo, no.51,tanggal 30 agustus-5 september 2010,hlm 51-54.

[iv] Brent Dean Robbins,Emmanuel Levinas”,  http://mythosandlogos.com/Levinas.html (diakses pada tanggal 28 agustus2010).

v Idem

[vi] Armada Riyanto, Berfilsafat dalam Martin Heidegger “Being and Time”, diskusi BIDIK STFT . Sebenarnya bukan hanya Martin Heidegger yang mempengaruhi pemikirannya.  Tetapi masih banyak : Charles Blondel, Maurice Blanchot bahkan ia pernah mengikuti kuliah Edmund Husserl.

[vii] Idem

[ix] Martinus Nijhoff, TOTALITY AND INFINITY an essay on exteriority (vol I),(U.S.A;Suquesne University Press,  1979),hlm 196.

[x] Sebagaimana ditulis oleh Michael Purcell dalam Levinas and Theology

[xi] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta; PTGramedia Pustaka Utama,2005 (Praksis berasal dari bahasa Yunani Praxis (perbuatan, kegiatan, tindakan, aksi, praktek).

[xii]Michael Purcell, Levinas and Theology,(Cambridge;University Press,2006),hlm 33

[xiii] Pada masa itu, Levinas ditangkap oleh tentara Jerman. Ia dijadikan buruh, keluarganya dibunuh.


Reaksi:

0 komentar: