Kamis, 28 Oktober 2010

MAHASISWA VERSUS BUDAYA INSTAN DALAM PENEGAKAN HAM DI INDONESIA

Pengantar
Hidup adalah suatu proses menjadi dan bukan langsung sekali jadi. Tetapi apa yang terjadi di zaman sekarang ini ialah banyak orang ingin menghindari proses. Banyak orang ingin segala sesuatunya serba instan. Misalnya dalam hal-hal kecil; ingin makan tetapi malas mengusahakannya, sehingga langsung membelinya. Contoh lain adalah ingin mendapatkan gelar akademis yang tinggi sekaligus bagus tanpa melalui proses kuliah. Maka yang dilakukan adalah adanya jual beli ijazah tertentu.
Peristiwa atau kejadian-kejadian kecil yang seperti inilah, yang menimbulkan banyak persoalan-persoalan dalam hidup manusia. Salah satunya adalah persoalan HAM yang tidak pernah terselesaikan. Dengan budaya instan, akan mempengaruhi sikap dan perilaku setiap manusia dengan sesamanya. Hal ini bisa ditunjukkan dengan adanya kekurang pedulian terhadap nasib orang lain sehingga menimbulkan sikap dan sifat individualistis.
Menyadari adanya banyak persoalan-persoalan ini jugalah, yang mendorong penulis untuk menuliskan artikel yang berjudul “ mahasiswa versus budaya instan dalam penegakan HAM”, guna menyadari kembali hakekat sebagai kemahasiswaan itu. Atau menyadari kembali apa artinya sebagai mahasiswa, yang tidak hanya hidup sebagai mahasiswa saja. Sehingga lewat artikel ini, setiap mahasiswa diajak untuk mengkritisi kembali pola hidup yang terjadi sekarang ini, dalam upaya untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup, terlebih persoalan HAM yang sering terjadi dalam lingkup kecil yakni masyarakat sekitar.

Persepsi Mengenai Persoalan HAM
Persoalan HAM bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia internasional. Tetapi dalam hal ini, baiklah dibatasi untuk Indonesia saja. Sebab persoalan HAM yang terjadi di Indonesia, masih belum mampu diatasi oleh semua pihak, baik oleh aparat keamanan, instansi atau kelompok tertentu.
Mungkin di antara kita semua, masih ada yang belum atau bahkan tidak bisa menerima sama sekali apa yang penulis tuliskan di atas bahwa persoalan HAM ada di mana-mana dan hampir setiap hari terjadi. Hal ini bisa dimaklumi, karena selama ini yang kita ketahui mengenai permasalahan HAM hanyalah yang bersifat universal dan menyangkut permasalahan yang langsung menyebar di dalam masyarakat umum. Seperti kasus Munir, kasus Prita, dan banyak lagi. Tetapi disinilah letaknya bahwa kita masih memiliki persepsi yang masih sangat kecil dan sempit mengenai HAM. Oleh karena itu ada baiknya kita mengerti lebih dalam lagi apa itu HAM.

Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)
Dalam artikel ini tidak lagi dituliskan secara mendetail apa itu pengertian Hak Asasi Manusia (HAM), karena penulis yakin bahwa kita semua telah mengerti dan memahaminya dengan baik, meskipun masih tetap memiliki pandangan yang sempit tentang HAM. Tetapi pada intinya, HAM berbicara tentang hak-hak yang paling asasi atau hak yang paling dasar dari dan bagi setiap manusia. Itu berarti bahwa HAM itu bersifat adikodrati, karena HAM telah menyangkut hidup dan mati dari manusia itu sendiri. Sehingga apabila HAM dilanggar oleh seseorang, atau sekelompok orang tertentu, maka tanpa disadari, mereka telah membunuh dan mengubur satu orang manusia secara hidup-hidup. Inilah yang menjadi alasan bagi kita untuk menjaga dan mengusahakan agar HAM tetap exist (ada) dalam kehidupan kita sehari-hari.
Persepsi yang masih sempit mengenai persoalan HAM ternyata mengakibatkan bahwa masih adanya kekurang perhatikan atau bahkan mengabaikan persoalan-persoalan yang kecil, yang terjadi di dalam masyarakat sekitar kita. Oleh karena itu, untuk mengenal, mengerti dan memahami bagaimana itu persoalan-persoalan HAM itu terjadi, maka selanjutnya akan diuraikan beberapa persoalan HAM yang kecil dan barang kali kurang kita sadari, bahwa kita juga adalah orang-orang yang telah melanggar HAM itu sendiri.

Catatan dari sebuah Realita
Sebuah realita mengenai persoalan HAM yang terjadi dimana-mana dan hampir setiap saat terjadi. Dalam satu daerah tertentu, dimana terdapat satu keluarga yang miskin dan melarat, sehingga membuat masyarakat disekitarnya merasa kurang mampu menerima kehadiran keluarga tersebut. Dalam artian bahwa keluarga miskin tersebut dianggap menjadi sebuah beban bagi perkembangan masyarakat itu sendiri. Dan karena kemiskinan yang ditanggung oleh keluarga yang bersangkutan, membuat mereka menjadi minder dan malu bergaul dengan mereka yang cukup berada (kaya). Selain itu juga, karena adanya sebagian orang yang menganggap bahwa mereka (keluarga miskin) adalah orang yang tidak tahu apa-apa. Sehingga dengan demikian, mereka tidak berani lagi untuk menyuarakan hak mereka di depan umum, terutama dalam membangun daerahnya sendiri.
Nah, kembali pada apa yang saya tuliskan di atas bahwa persoalan HAM itu terjadi dimana-mana dan hampir setiap hari terjadi. Persoalan HAM yang terjadi lewat kasus ini sangat jelas dimana sikap sekelompok masyarakat yang melakukan diskriminasi terhadap sebuah keluarga miskin. Atau adanya suatu sikap menyepelekan atau menganggap keluarga miskin sebagai orang kecil dan yang tidak tahu tentang apa-apa. Sehingga dengan sikap demikian, akan membuat orang lain menjadi kurang berkembang dalam kehidupannya. Sementara letak kesetiap-hariannya adalah bahwa keluarga miskin itu harus setiap hari merasa tersisihkan, merasa sedih dan malu, sehingga mereka tidak lagi berani bersuara di depan umum, dan merasa tertekan oleh sikap dan perbuatan masyarakat sekitarnya karena dianggap tidak tahu tentang apa-apa dalam menjalani kehidupan ini.
Contoh realita lain yang sangat kecil mengenai permaslahan HAM yang terjadi setiap hari dan terjadi dimana-mana, dan bahkan kita sendiri tanpa sadar telah melakukan pelanggaran HAM adalah adanya pembeda-bedaan, baik dalam bidang ekonomi, kedudukan, suku, agama maupun budaya tertentu. Adanya pandangan atau perkataan lewat sikap yakni bahwa “aku lebih hebat dari kamu atau agamaku lebih baik dari agamamu”, dan sebagainya.
Inilah berbagai catatan realita mengenai persoalan HAM. Tetapi sekali lagi bahwa oleh karena sempitnya pandangan kita mengenai HAM, maka kita sendiripun sebenarnya tidak mengetahui apa sebenarnya yang harus kita lakukan. Sehingga apa yang terjadi selama ini adalah adanya sikap diam, membiarkan begitu saja, seolah-olah tidak tahu, atau memang tidak tahu sama sekali bagaimana cara mengatasinya. Hal lain juga yang terjadi adalah adanya demo-demo yang menghebohkan di sana-sini, yang sebenarnya tidaklah harus demikian yang terjadi. Karena dengan sikap demikian (melakukan demo), malah akan semakin memicu terjadinya keributan, kerusuhan, dan pada akhirnya dapat mengakibatkan pembunuhan antara yang satu dengan yang lain.
Menurut hemat penulis bahwa melakukan demo bukanlah suatu perbuatan yang salah dan negatif. Sebab melakukan demo juga merupakan salah satu bentuk suara dari masyarakat. Tetapi yang sangat disayangkan dari usaha tersebut khususnya bagi para mahasiswa yang ikut menyemarakkan demo adalah bahwa mereka belum mengenal lebih dalam mengenai persoalan HAM itu sendiri. Terlebih mereka hanya “ingin cepat menjadi (pembela atau aktivis HAM), tanpa melalui proses menjadi” sebagaimana hakekat seorang mahasiswa yang sebenarnya. Dan kemungkinan sebagian mahasiswa hanya terpancing oleh suatu isu-isu dari orang lain sehingga mereka hanya bermodalkan nekat belaka, tanpa mempertimbangkan dan mempertanyakan apa maksud dan tujuan untuk melakukan demo.
Bila dilihat dari salah sisi, bahwa teman-teman mahasiswa yang berbuat demikian (melakukan demo), tanpa mempertimbangkan perbuatannya, maka tanpa ragu-ragu banyak orang akan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang krisis identitas, orang-orang yang butuh pengakuan dari masyarakat luas, bahwa mereka adalah “orang-orang yang hebat”. Mohon maaf bila tulisan ini terlalu keras, tetapi baiklah kita jadikan sebagai bahan refleksi, melihat kembali ke dalam diri kita masing-masing, benarkah maksud “ku atau kami” demikian, yakni hanya mencari sebuah identitas dan pengakuan umum? Sehingga dengan demikian membantu kita dalam memahami lebih baik lagi, sejauh mana kedudukan dan peran kita sebagai mahasiswa dalam membela HAM.

Kedudukan dan Peran Mahasiswa
Berbicara mengenai kedudukan, bukan berarti duduk dalam sebuah kursi panas yakni menjadi seorang pemimpin dari suatu gerakan aktivis tertentu dalam membela HAM. Lalu apa maksudnya kedudukan mahasiswa dalam menegakkan HAM? Kedudukan pertama-tama berarti mahasiswa mengenal baik “siapa mereka sebenarnya”. Pertanyaan ini boleh juga dijadikan sebagai pertanyaan relektif atas diri setiap para mahasiswa, baik secara pribadi, maupun sebagai kelompok tertentu. “Siapakah engkau mahasiswa”.
Dengan bertanya dan merefleksikan hal yang demikian, maka setiap mahasiswa akan sadar, dimana letak dan kedudukan serta peran mereka dalam menegakkan HAM itu sendiri. Kembali pada realita bahwa selama ini, peran mahasiswa yang paling nyata dalam menegakkan HAM ada dalam tindakan demo bersama. Pergi kesana-kemari hanya untuk menyuarakan sesuatu yang tidak ada kepastiannya. Oleh karena itu timbul pertanyaan, apakah dengan melakukan demo, maka segalanya akan segera berubah sesuai dengan yang diharapakan. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab, kecuali realita yang menyatakannya kembali dalam hidup masyarakat sehari-hari.
Banyak mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya pada universitas tertentu, mendapat gelar sarjana atau apapun, akan tetapi akhirnya apa yang terjadi. Mereka sebagian besar pengangguran, hidupnya ternyata tidak lebih baik dari apa yang diharapkan sebelum memasuki dunia universitas. Sementara selama masa pendidikan, mereka sangat aktif dalam gerakan-gerakan membela HAM, dengan melakukan demo, atau apapun lainnya, tetapi hasil dari perjuangan itu tidak tampak dalam hidupnya. Bahkan persoalan-persoalan mengenai HAM semakin meraja lela, akibat dari penganguran besar-besaran. Dan yang terjadi bukan lagi saling menghargai sebagai orang yang berpendidikan, tetapi saling membunuh secara tidak langsung, demi mempertahankan kelangsungan hidup sehari-hari.
Sehingga dengan demikian, kita sebagai mahasiswa perlu bertanya kembali ke dalam diri kita masing-masing, apa yang salah, apa yang kurang saat ini, sehingga kita semua, khusunya para mahasiswa perlu membenahi diri lebih awal dan lebih baik lagi, sebelum terjun ke dunia yang lebih nyata, yakni masyarakat luas dimana tempat kita melanjutankan kehidupan ini.
Inilah sebuah pertanyaan yang sangat baik untuk direfleksikan kembali. Kiranya yang merasa diri telah berupaya menegakkan HAM, atau yang bahkan saat ini masih gencar-gencarnya melakukan pembelaan HAM dengan melakukan demo-demoan atau dengan bentuk lainnya, segera menyadari bahwa cara atau sistem yang telah atau sedang dilakukan, ternyata kurang sesuai dengan hakekat atau keberadaan kita sebagai seorang mahasiswa. Sekali lagi bahwa tindakan demo bukanlah hal yang salah dan negatif. Akan tetapi tindakan yang demikian sudah kurang tepat lagi untuk zaman sekarang ini. Boleh saja melakukan demo-demoan, tetapi intinya adalah bertanya kembali, apa dan mengapa melakukan demo. Dan bertanya lagi apakah dengan melakukan ini (demo), akan membawa suatu perubahan kecil dalam hidup masyarakat, atau malah membuat masyarakat sekitar semakin resah dengan tindakan kita, dan sebagainya.
Menurut pengalaman penulis, bahwa ketika seorang atau sekelompok mahasiswa ternyata berhasil dalam melakukan sebuah tugas atau pekerjaan, sering kali secara tidak sadar dan secara tidak langsung, membawa pada pengakuan diri dan lebih-lebih lagi akan merasa “sok jagoan”, dan berkata bahwa “aku bisa atau kami lebih hebat”. Dengan prinsip yang demikian, ternyata membawa orang juga pada sikap ego (ke”aku”an) dan memiliki sifat individualistis (bukan lagi berkata “kita bersama”). Sikap demikian pada akhirnya akan menciptakan suasana yang tidak lagi saling menghargai, menghormati, saling membutuhkan sebagai sesama manusia, melainkan persaingan yang tidak sehat yang hanya untuk memenuhi kepentingan diri atau kelompok sendiri. Dan bila hal ini tidak disadari sejak awal masa pendidikan sebagai mahasiswa, maka akan membawa wajah HAM Indonesia semakin tidak berbentuk lagi dan bahkan hancur berkeping-keping di mata dunia internasional, sebab yang terjadi adalah adanya hukum rimba antar masyarakatnya sendiri.

Satu langkah konkrit, kecil dan sederhana
Jika ternyata apa yang diharapkan bersama yakni HAM hendaknya berjalan sesuai dengan semestinya, tetapi yang terjadi adalah kerusuhan, keributan, pembunuhan dan sebagainya, dan juga setiap mahasiswa telah berupaya untuk menegakkan HAM tersebut, telah melakukan demo di sana-sini, atau dengan berbagai cara lain, lalu bagaimana cara untuk tetap mempertahankan HAM tersebut.
Dalam artikel ini, penulis mengajak semua mahasiswa untuk melakukan satu langkah kecil, sederhana dan konkrit, sesuai dengan hakekat (keberaaan) kita sebagai seorang mahasiswa. Langkah kecil dan sederhana itu tidak lain adalah pertama-tama sadar bahwa kita seorang mahasiswa. Kita bukanlah penegak hukum, atau pengacara, atau seorang pemimpin yang hebat. Dengan kesadaran ini, kita akan mengetahui juga bahwa tugas dan tanggung jawab kita pertama-tama adalah seorang “pelajar yang belajar”. Inilah hakekat, kedudukan dan peran kita sebagai mahasiswa yakni “pelajar yang belajar” yang membela dan menegakkan HAM.
Apa artinya seorang “pelajar yang belajar”. Sebenarnya pertanyaan ini tidak sulit di jawab, tetapi ada baiknya kita melihat kenyataan hidup seorang pelajar di sekitar kita masing-masing. Sebagian besar pelajar di zaman sekarang ini, lebih banyak menghabiskan waktu mereka di dunia maya, seperti facebook-an, twitter-an, atau lain sebagainya. Atau seperti di kota-kota besar, sebagian pelajar menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan ke tempat hiburan bersama dengan teman-teman yang lain, pergi ke mall dengan maksud bukan untuk membeli suatu kebutuhan atau keperluan lain, tetapi hanya untuk jual tampang, sambil memakai pakaian yang kurang sesuai dengan yang semestinya di Indonesia.
Dan ini jugalah yang menjadi salah satu penyakit yang sangat sulit disembuhkan untuk setiap mahasiwa zaman sekarang ini adalah budaya gengsi. Menurut pengamatan penulis bahwa hampir sebagaian besar mahasiswa sangat sulit untuk menampilkan diri apa adanya. Mereka semua lebih membanggakan diri mereka dengan segala kecantikan, dan kegantengannya, yang didukung juga dengan kemajuan alat-alat elektronik canggih yang mereka miliki. Tetapi sangat disayangkan bahwa penampilan hanyalah tinggal penampilan semu. Sebab mereka yang demikian tidak mengetahui apa sebenarnya yang lebih utama dalam hidup dan masa depannya.
Dan yang lebih parahnya lagi, yakni ketika menjelang ujian, banyak mahasiswa yang melakukan sistem SKS (sistem kebut semalam), atau juga saling mencontek satu sama lain, hanya untuk mengejar nilai. Sementara arti dari belajar bukanlah terletak pada sebuah nilai yang bagus, tetapi belajar pada umumnya berarti sebagai suatu kesempatan untuk mengetahui apa yang selama ini belum diketahui. Dan setelah mengetahuinya, berusaha untuk menerapkan dan membagikan apa yang dipelajari itu dalam kehidupan sehari-hari. Inilah arti seorang pelajar yang belajar. Belajar bukan hanya untuk sekedar nilai, tetapi belajar untuk memperoleh sesuatu yang lebih berguna dalam mencapai masa depan yang lebih cerah.
Hal inilah yang perlu kita sadari, kita benahi kembali, yakni dengan belajar yang lebih serius lagi. Karena belajar sebagai seorang mahasiswa, merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab kita sebagai seorang mahasiswa dan merupakan sebuah usaha dan perbuatan kita yang lebih nyata, dan sederhana dalam menegakkan HAM. Karena pada akhirnya, kita akan lebih mampu mengubah wajah Indonesia. Bahkan bukan lagi hanya sebatas persoalan HAM, tetapi juga dimensi-dimensi lain dalam segala seluk beluk kehidupan masyarakat Indonesia, misalnya keamanan dan kesejahteraan dalam setiap lapisan masyarakat.
Semua mahasiswa tanpa kecuali, merupakan tulang punggung negara kita ini. Jika mahasiswa itu belum dan tidak mau sadar akan tugas dan panggilannya sebagai mahasiswa, yakni belajar, maka akan kembali kepertanyaan yang seperti dinyanyikan oleh salah satu band sekarang ini (Armada band) dengan lirik yang berbeda “mau dibawa kemana bangsa Indonesia ini. Atau kepada setiap mahasiswa sendiri, apa yang kamu cari sebagai seorang mahasiswa, dengan sikap gengsimu yang terlalu tinggi.
Mungkin barangkali ada yang berkata, jika kita belajar terus menerus di bangku kuliah, yang terjadi adalah seolah-olah kita menutup mata akan setiap persoalan-persoalan yang terjadi, termasuk persoalan HAM. Bagaimana mungkin kita bisa membela HAM dengan belajar, tanpa ada suatu perbuatan atau tindakan!.
Bila dilihat secara sepintas, memang akan menimbulkan kesan tidak berbuat apa-apa. Tetapi perlu diketahui bahwa belajar dalam artian bukan hanya mempelajari setiap mata pelajaran waktu kuliah, melainkan belajar dalam banyak hal. Seorang mahasiswa pertama-tama harus berani bersembunyi dalam pergulatan belajar, tidak menyia-nyiakan waktu atau masa pendidikan sebagai kesempatan untuk berfoya-foya. Atau sebagai kesempatan untuk menghabiskan harta orang tua yang hanya memiliki prinsip “yang penting kuliah”, tanpa pernah memperhatikan apa yang menjadi prioritas dari seorang mahasiswa. Dengan kesadaran sebagai mahasiswa yang belajar, justru nyatalah perbuatan dan usaha kita secara konkret dalam menegakkan HAM. Inilah satu langkah kecil dan sederhana dan yang sangat konkret bagi kita sebagai mahasiswa.
Belajar dalam artian juga bukan hanya sekedar memperoleh IP tertinggi dalam suatu fakultas tertentu, tetapi bagaimana kita mampu menghidupi apa yang kita pelajari itu dalam hidup keseharian kita. Sehingga dengan kata lain, belajar bukan hanya untuk mengejar sebuah nilai, tetapi belajar menjadikan hidup kita menjadi lebih baik, sehingga pada akhirnya mampu membangun kembali masa depan yang lebih baik, baik untuk masa depan pribadi, juga bagi masa depan sesama. Dan terutama bagi masa depan masyarakat Indonesia.

Himbauan dan Penutup
Sebagai sesama rekan mahasiswa di seluruh Indonesia, penulis hanya dapat menghimbau teman-teman untuk kembali menyadari siapa diri kita. Bahwa kita adalah mahasiswa dan kita sebagai mahasiswa memiliki kedudukan yang penting di negara ini. Dengan memiliki kedudukan yang penting di negara kita, sekaligus juga kita memiliki tanggung jawab yang berat, sebab kita sendiri yang menentukan kemana arah bangsa kita ini berjalan. Hendaknya disadari juga bahwa kitalah yang akan menjadi tulang punggung negara Indonesia yang kita cintai ini.
Sebagai seorang mahasiswa, mari kita belajar bersama, membenahi diri sejak dini, berani bersembunyi dan bergulat dengan segala kesulitan-kesulitan, terlebih berani menentang arus zaman sekarang ini, yakni hidup yang berciri instan yang tanpa pernah ada usaha sedikitpun, dan mari kita berusaha untuk tidak menjadi orang-orang yang hanya sekedar ikut-ikutan dalam menjalani hidup ini.
Dengan sikap inilah, maka kita telah melakukan suatu perbuatan atau tindakan yang besar-besaran dalam membela HAM, meskipun kelihatannya tidak berguna dan sangat tidak berpengaruh dalam dunia pembelaan HAM. Dari pada kita berorasi atau demo di sana-sini, dengan maksud membela HAM, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah bahwa kita telah mencoret nama baik Indonesia di mata dunia internasional, terlebih mencoret nama baik kita sendiri, atau juga universitas tempat kita belajar. Juga daripada semakin membuat bangsa Indonesia semakin ribut dan rusuh di mana-mana, mari kita belajar dari semuanya itu. Mengapa bisa terjadi demikian.
Inilah sekedar himbauan dan sekaligus penutup dari penulis untuk kita semua sebagai mahasiswa Indonesia, semoga kita kembali sadar akan hakekat dan keberadaan kita sebagai mahasiswa yang belajar, bukan hanya sekedar menggunakan atribut kemahasiswaan atau pelajar, sehingga pada akhirnya, kita mampu menata kembali wajah Indonesia dengan segala seluk beluknya di mata dunia internasional, terlebih dalam mencapai cita-cita bangsa Indonesia yang termuat dalam UUD 1945 dan Pancasila yang kita banggakan.
Reaksi:

2 komentar:

uii profile mengatakan...

saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
Artikel yang sangat menarik ..
terimakasih ya infonya :)

Rata Diajo Manullang mengatakan...

Terima kasih kembali
mari kita berjuang bersama yahh