Kamis, 28 Oktober 2010

HUBUNGAN MANUSIA DAN DUNIA MENURUT ARTHUR SCHOPENHAUER

Kadang kala manusia sekarang ini tidak mampu memahami arti hidupnya sebagai manusia, dimana mereka hidup hanya ikut-ikutan, dan tidak memiliki pegangan hidup yang kokoh yang mampu membawa mereka ke jalan yang benar. Lebih-lebih lagi bahwa manusia seolah-olah hidup hanya oleh karena kesenangan dan kemauan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Manusia lebih dipengaruhi oleh kemajuan dunia lewat berbagai kemajuan alat –alat canggih, sekaligus dibarengi juga dengan rasa manusia yang selalu haus akan kenikmatan dan kesenangan semata. Maka dalam hal inilah, seorang filsuf yang melawan pendapat dari beberapa filsuf lain seperti: G.W.F.Hegel, yang mengatakan bahwa manusia hidup oleh karena daya pikir serta rasional yang dimiliki oleh manusia. Nama dari pemikir ini adalah Arthur Schopenhauer.
Arthur Schopenhauer adalah putra seorang tuan tanah yang kaya raya di kota Danzig, di tanah kelahirannya. Dia lahir pada tanggal 22 Februari 1788. Sejak masa mudanya, ia orang yang tidak mudah diajak bergaul dan mempunyai sikap pemurung ( berwatak melankolis ), sehingga dengan sifatnya inilah yang menjadi faktor utama membentuk pandangan dan sikap pesimismenya terhadap arti hidup manusia dan dunia.
Pada tahun 1793 s / d 1797, ia bersama keluarganya pindah ke Hamburg karena pada saat itu terjadi perang antara Rusia terhadap Inggris. Maka, ketika berada di Hamburg, ia menjalani masa pendidikan. Semula ia belajar kedokteran, tetapi kemudian akhirnya mulai menyukai filsafat dan beralih pada fakultas filsafat. Sementara pada tahun 1809, ia belajar di Universitas Goettingen. Lalu pada tahun 1811 – 1813, dia studi di berlin dan mendengarkan kuliah-kuliah Fichte.
Antara tahun 1814 – 1818, Arthur Schopenhauer tinggal di Dresden, dan di kota inilah dia menulis adikaryanya, Die Welt Als Wille Vorstellung ( Dunia sebagai kehendak dan presentasi ). Setelah mengalami beberapa kali kegagalan, akhirnya pada tahun 1848, banyak orang yang semakin kagum akan tulisan dan pendapatnya mengenai pandangannya tentang manusia dan dunia. Lalu pada bulan September 1860, Arthur Schopenhauer meninggal dunia.
Adapun pandangan Arthur Schopenhauer tentang manusia dan dunia adalah bahwa seluruh kehidupan ini adalah penderitaan. Adapun kebahagiaan yang dialami manusia lewat keinginan-keinginan yang telah terpuaskan, hal itu hanyalah bersifat sesaat atau bisa jadi membosankan ( dan karenanya tidak puas ) setelah kita melakukannya. Arthur Schopenhauer sebenarnya tidak langsung bertitik tolak dari dunia itu sendiri untuk menentukan dasar pemikirannya, tetapi dari suatu refleksi atas manusia. Dia juga melihat bahwa hakikat kehidupan ini penuh dengan keinginan, realitas yangh tak bertujuan dan tak terpuaskan, sehingga hal inilah yang melandasi sikap pesimismenya yang terkenal.
Dalam pandangannya juga, ia menemukan bahwa gairah serta keinginan manusia ( kehendak ) merupakan daya pendorong terdalam serta terkuat, sebagai motor yang menggerakkan hidupnya. Dengan demikian, dunia serta manusia pada dasarnya yang terdalam merupakan kehendak. Lalu bagaimana hubungan manusia dengan dunia ?.
Arthur Schopenhauer memandang bahwa manusia yang dipengaruhi oleh will ( kehendak ), maka dengan kehendak inilah, dunia lebih dipengaruhi oleh kehendak manusia ( hasrat dan nafsu yang penuh keegoisan ). Sehingga Arthur Schopenhauer mengatakan bahwa untuk mengatasi kehendak manusia yang berlebihan itu, manusia itu harus mengarahkan hidupnya pada sublimasi kesadaran, dan tidak hanya sebatas berusaha untuk sadar sebab jika hanya sebatas untuk sadar, maka hal tersebut belum mampu untuk membawa manusia dalam mengalahkan naluri serta egoismenya itu sendiri. Misalnya : orang yang secara sadar melakukan bunuh diri. Maka Arthur Schopenhauer beranggapan bahwa manusia sudah kembali lagi ke keadaan tak sadarnya dan manusia serta dasar dunia dibebaskan dari kesengsaraan mereka yang sadar. Sehingga yang paling penting adalah bahwa manusia harus mengarahkan hidupnya pada pada sublimasi kesadaran. Yang artinya adalah bahwa manusia lebih mengarahkan hidupnya, seluruh energi nalurinya dari tujuan rendah ke tujuan yang lebih tinggi, misalnya melakukan aktivitas seni, mendengarkan musik, dan sebagainya, yang mampu menghantar manusia menghantar manusia menjadi mampu mengatasi segala naluri dan keegoisannya, meskipun pelariaannya hanya sementara.
Maka dalam perjalanan selanjutnya, terutama untuk zaman sekarang ini, sebenarnya hal yang dikatakan oleh Arthur Schopenhauer ini sangat sulitlah untuk dilakukan. Sebab manusia telah lebih banyak dipengaruhi oleh kemajuan dunia itu sendiri, serta dari pihak manusianya yakni memiliki hasrat, keinginan serta kekurang puasaan dalam hidup ini masih sangat kuat, sehingga manusia hampir tidak mampu lagi mengarahkan hidupnya pada sublimasi kebebasan.
Namun meskipun demikian, manusia hendaknya harus tetap berusaha agar hidupnya tidak hanya dipengaruhi oleh kehendak,dan keinginan semata. Sebab keinginan itu hanya sesaat saja sebagaimana yang dikatakan oleh Arthur Schopenhauer. Namun juga, menurut penulis bahwa hendaknya hidup ini tidak dilihat sebagai penderitaan belaka saja, melainkan hendaknya hidup itu dimaknai sebaik mungkin, sehingga dengan cara ini, manusia melakukan kebaikan – kebaikan dan keutamaan sebagai wujud cinta kasih atau agape terhadap sesama. Dengan cinta kasih ini, manusia melepaskan diri dari sikap egoism dan kelekatan pada hasrat - hasrat dan keinginan serta kehendak rendahnya ( nafsu dan keinginan ). Sehingga dengan cara ini, manusia menolak apa yang menjadi keinginan dan nafsu - nafsunya yang dapat merugikan diri sendiri dan sesama.


Daftar Pustaka
Bertens, K, Filsuf – Filsuf Besar Tentang Manusia, Penerbit PT Gramedia, Jakarta, 1998
Budi Hardiman, F. Filsafat Modern, dari machhiavelli sampai Nietzsche, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004
Solomon. Robert. C. dan Kathleen M. Higgins, Sejarah Filsafat, Yayasan Bentang Budaya, April 2004
Reaksi:

0 komentar: