Kamis, 28 Oktober 2010

ALLAH MENYAPA DALAM KEHENINGAN

Tanggal 5-15 Januari 2010, kami, Profes I, mendapat kesempatan untuk mengalami hidup pertapaan para rahib CSE di Cikanyere-Bogor. Pengalaman hidup di dipertapaan ini sungguh suatu pengalaman yang sangat luar biasa bagi kami, meskipun dalam waktu yang sangat singkat. Namun dalam waktu yang singkat itu, kami merasakan bahwa kami dapat menimba kesegaran rohani dalam panggilan kami. Ini seperti suatu oase yang senantiasa mengalirkan mata air kesejukan dan menghapuskan dahaga kala kehausan melanda.
Sepuluh hari itu, kami diantar lebih jauh masuk dalam cinta Tuhan yang tidak terbatas. Alam yang indah di pertapaan ini memang suatu anugerah yang sangat besar. Kami dapat menikmati betapa indahnya karya agung Tuhan tatkala kami memandang indahnya hutan yang ada di sekitar pertapaan dan disapa oleh binatang hutan dengan suara-suara mereka yang khas dan terkadang lucu. Tak jarang dari dalam pondok, kami dapat melihat sekawanan orang hutan yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Sungguh ini suatu anugerah yang sangat luar biasa yag boleh kami lihat dan alami, bahwasanya Tuhan menjadikan semuanya ini baik adanya.
Keindahan alam ini menghantar orang untuk memandang Sang Penciptanya dalam kekaguman dan keheningan. Dan memang, Tuhan hanya akan berbicara dalam keheningan bagi jiwa yang bersiap. Keheningan inilah membuat kami merasakan kedekatan dengan Allah yang senantiasa mencintai kami. Dan kami lebih terbuka untuk mendengarkan sapaan Allah dalam hidup kami. Ini memang suatu keadaaan yang sangat berlainan dengan keadaan di Malang. Di rumah studi, kami seakan-akan selalu berpacu dengan waktu. Tugas paper harus segera dikumpulkan, besok ada acara ini dan itu, ada doa di lingkungan ini dan di lingkungan itu dan banyak hal lain yang harus kami kerjakan. Namun ketika kami sejenak mengingalkan itu semua, kami hanya mengerjakan satu hal ini: berjaga dalam doa dan mendengarkan Allah yang bersabda.
Pengalaman inilah yang sangat menyentuh kami. Ritme hidup pertapaan ini yang selalu diwarnai dengan silentium yang ketat tidak membuat kami menjadi gelisah. Namun keheningan ini sungguh-sungguh membuat kami selalu rindu untuk diam dalam ketenangan. Ini memang suatu mukjizat bagi kami. Sepanjang hari kami mampu menjaga ketenangan suasana itu dan merasa seolah-olah sayang bila harus merusak suasana indah itu dengan cakap-cakap hampa yang tidak berguna sebagaimana dituliskan dalam Regula kita: “... jadi hendaknya setiap orang menimbang-nimbang perkataan-perkataanya dan mengekang mulutnya agar jangan tergelincir dan jatuh karena lidahnya dan dosanya tidak dapat diperbaiki hingga membawa kematian. Hendaknya ia baik-baik menjaga jalannya bersama dengan nabi, sehingga tidak sampai berdosa karena lidahnya dan hendaknya ia berusaha memelihara dengan seksama dan hati-hati ketenangan yang dihasilkan keadilan.” (Regula ps.21)
Dari ketenagan yang dihasilkan oleh keadilan ini, doa pun mengalir dengan sendirinya. Lagi-lagi ini suatu mukjizat yang sungguh nyata yang boleh kami alami. Pagi hari diawali dengan doa hening mulai jam 04.30 dan berlangsung selama satu jam dan kemudian dilanjutkan dengan Ibadat pagi dan Ekaristi. Biasanya 30 atau 20 menit sebelum jam doa pagi itu, kami sudah siap. Wow.. ini memang sangat luar biasa. Doa seakan-akan bukan suatu pekerjaan rutinitas yang harus dikerjakan sehari sebanyak 4 atau 5 kali sehari. Namun kami merasakan bahwa kami senantiasa rindu untuk berdoa dan berjaga dihadapanNya siang dan malam. Bahkan saat vigili (jam 12 malam) dengan penuh semangat kami berdoa dan berjaga bersama bagi jiwa-jiwa dihadapan Sakramen Maha Kudus. Ini memang suatu anugerah dan kegembiraan tersendiri bagi kami.
Sabda senantiasa berseru bagi kami, bahkan saat makan. Di refter tatkala makan siang, Sabda senantiasa dibacakan dan direnungkan sepanjang waktu makan. Sebagaimana Regula berkata: “Namun hendaknya kamu di ruang makan bersama menyantap apa yang dihidangkan bagi kamu sambil mendengarkan bacaaan Kitab Suci jika hal itu dapat dilakukan dengan mudah.” (psl. 7). Wah... ini suatu yang menarik bagi kami. Saat makanpun kami dapat mendengarkan suara Allah yang menyapa kami dan mengajak kami untuk selalu merenungkan apa arti cintaNya yang besar itu.
Namun waktu pun terus berlalu. 10 hari terlewati sudah. Kini tugas pun tengah menanti dan kami sadar bahwa setelah disegarkan dan menimba madu-madu rohani ini kami harus tetap bekerja kembali: belajar dan melayani. Ini semua benar-benar pengalaman indah yang bukan hanya kegembiraan sesaat, namun semua karunia ini harus terus berbuah bagi sesama untuk kemuliaan Allah di Surga.




“kesukaan besar yang dianugerahkan Tuhan adalah mendengar sapaanNya di dalam lubuk hati yang paling dalam. Membiarkan Dia berkata dan bersabda dengan penuh kemesraan pada ciptaanNya ini, hingga hati terbakar api gelora sukacita yang dashyat. Apalagi yang dicari jiwa selain suara Sang Mempelainya?”
(refleksi seorang frater)
Reaksi:

0 komentar: